Waktu Tak Akan Kembali

Waktu Tak Akan Kembali
Oleh: Harjanto Dc

Aku mungkin telah kehilangan banyak hal tentang arti segenggam waktu. Aku sebenarnya malu saat melihat semua teman seangkatanku sudah menyelesaikan kuliahnya. Aku yang masih jalan di tempat, mengutak-atik naskah skripsiku tentang dunia international yang tak kunjung usai pada sebuah kampus di Yogyakarta. Aku mulai masuk dalam imajinasiku, bermimpikan sebuah gelar sarjana di sebelas duabelas ini. Aku yang berdiri dengan toga kebanggaaan para wisudawan, melambaikan tangan kemenangan atas diriku selama ini. Bersorak-sorai bersama adik-adik seangkatanku. Saat aku tersadar semua hanya mimpi.

Kembali ke kehidupan nyata, aku mulai tersadar akan satu hal yang sedang mempermainkanku. Yaitu waktu. Harusnya aku yang mengendalikan waktu, bukan waktu yang mengendalikanku. Selama ini aku telah mensia-siakan waktu yang begitu berharga. Yang harusnya aku bisa menyelesaikan 8 semesterku dengan mulus. Nyatanya hingga tahun ke-6 aku masih duduk di bangku lusuh kesayanganku, menatap sebuah papan tulis dan sekelilingnya sekelompok manusia yang lebih muda dariku.

Aku hampir putus asa dengan semua ini, seolah apa yang aku kerjakan tak kunjung usai. Tiap kali konsultasi dosen pembimbing selalu saja ada yang salah. Sempat terbesit di kepalaku, sebuah pemikiran yang konyol untuk menghentikan pembelajaran ini. Namun, aku segera buang jauh-jauh pikiran itu. Bagaimana reaksi orangtua yang membiayaiku, kakak dan adik yang mengharapkanku lulus dengan menyandang titel Sarjana. Kekecawaanlah yang ada pastinya.
Mungkin bagi sebagian orang beranggapan gelar itu tidak begitu penting, tapi bagiku ini adalah jerih payah yang ku usahakan sejak mulai mengenyam dunia pendidikan. Sebuah akhir yang indah adalah dengan proses yang terjal.

Ditengah-tengah kesibukanku membuka buku-buku meteri skripsi, aku terpikir tentang kata-kata seorang imam besar, Imam Ghazali, saat memberi pertanyaan kepada murid-muridnya. Kata Iman Ghazali, “Apa yang paling jauh dari diri kalian?”, jawabannya adalah waktu yang telah terlampaui. Yup, waktu yang terlewat tidak mungkin dapat kita tuliskan sejarah kembali.
Ingatlah kawan, pergunakan waktu yang kita miliki sebaik mungkin, hari ini adalah milik kita sepenuhnya. Apa yang hendak ingin dikerjakan, maka segera kerjakan, jangan menunggu esok, karena waktu tak akan pernah kembali.

Sobat, segera gapai citamu.
Jogja sebagai kota kenangan terlama

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s