TIM MEDIS

TIM MEDIS

Barak Pengungsian sudah mulai lenggang ditinggalkan para pengungsi. Mentari menyengat bagai lebah menancapkan racunnya ke dalam jaringan bawah kulit. Tinggal beberapa tenda yang masih berdiri, dari sudut tenda paling ujung, terdengar rintihan yang semakin keras, auwh..uuh..aduuh sakitnya. Dia merintih, mendesah, dan air matanya tidak tertahan saat lambungnya terasa melilit tidak karuan. Sutinah, ibu satu anak yang masih bertahan di barak pengungsian, karena masih trauma dengan ‘Wedhus Gembel’ Merapi .

“Ada apa Bu ?” Tanya seorang petugas medis yang berjaga di pos kesehatan. Tampak membiru wajah dan keringat bercucuran dari badannya, tanpa seorangpun yang menemani.
Tanpa banyak tanya, tim medis langsung membopong Bu Sutinah ke ambulance yang di parkir disudut lapangan. Sopir langsung tancap gas menuju rumah sakit terdekat.
Rumah Sakit Islam. Tampak antrian di besi tua yag sangat panjang. Tanpa daftar, petugas dan beberapa perawat jaga langsung membawanya ke UGD (Unit Gawat Darurat).

“Cepet, pundi dokteripun, mbak?” tanyaku, seolah menyuruh untuk segera ditangani. Karena kepanikan.

“Sekedap nggih mas, dokteripun nembe wonten bangsal.” Kata perawat yang menangani Bu Sutinah.

Raut muka yang membiru, terbaring lunglai tidak sadarkan diri. Sembari menunggu dokter datang, perawat ambil tindakan, selang panjang dipasang pada pergelangan tangan Bu Sutinah diikuti tetesan, bukan tetesan lagi tapi aliran deras dari plabhote infus, untuk menyadarkan Bu Sutinah jangan sampai Syok. Nadi yang semakin melemah, tekanan darah lemah pula.

“Dokternya mana, mbak?” teriakku lebih keras, karena dokter sedari tadi tidak datang – datang.

“Sabar, mas?” salah satu perawat meredakan suasana.

“mungkin dalam perjalanan, makhlum rumah sakitnya besar, jadi butuh waktu untuk kembali ke UGD”.

“Sabar gimana mbak?, pasien keburu tidak tertolong”. Bentakku, dengan nada agak keras.
Selang beberapa waktu setelah aku marah – marah dokter datang, dan langsung menangani Bu Sutinah. Pasien tampak sudah tidak sadarkan diri, makin melamah denyut nadinya. Apakah sudah meninggal? Dalam lamunan, aku bertanya-tanya. Ah, mungkin hanya pingsan saja.

“mas, tadi awalnya bagaimana?”

“Iya, ada apa dokter, tadi tanya apa?”, karena memikirkan yang tidak – tidak, aku jadi tidak konsen dengan pertanyaan dokter.

“Tolong diulangi lagi dok?”

“Awalnya tadi bagaimana?”

“Saat ditemukan, kondisi sudah lemas, muka membiru dan merintih kesakitan pada bagian lambung.”

“Terima kasih.” Kata dokter padaku.

Terbujur dengan selang panjang diantara tubuhnya yang mulai kaku, berbalut perban diantara pergelangan tangannya. Tubuh Bu Sutinah terbaring kering, padahal cairan infus sedari tadi di guyurkan ke dalam venanya.

“Bagaimana kondisinya sekarang, mbak?”, Tanya dokter kepada perawat yang membantunya.
Dijelaskannya dengan rinci keadaan Bu Sutinah yang semakin melemah, gaya bicara dan tatapan lembut kepada seorang pasien, seperti tatapan kepada keluarga dekatnya. Semuanya menarik hatiku. Ada apa dengan diriku. Kenapa aku jadi memikirkan perempuan itu, aku harus fokus pada pasienku, ini adalah tanggung jawabku. Lupakan Ferdi!. Lupakan..! Tolong hentikan lamunanmu Ferdi! Dalam lamunanku hatiku berkecamuk hebat.

“mas, mas…!”, dia membangunkanku dari lamunan panjangku.

“Dimana bu sutinah Mbak?, apakah dia sudah meninggal?” aku bentanya-tanya dalam kebinggungan. “Dimana Mbak?” senyum lebar tampak pada raut wajahnya, aku yang sedari tadi tampak kebingungan di buatnya tercengang dengan tingkahnya.

“Iya….” Belum selesai bicara, aku memotong kata – katanya.

“Maksudnya sudah meninggal mbak?, Innalillahi Wa Innaillaihi Roojiuun”, Aku menundukan wajahku dan sedikit mutiara kecil mengalir di sela-sela pipiku.

“Dengarkan dulu mas, belum selesai ngomong asal mutus saja, bu Sutinah belum meninggal, tapi dipindahkan ke bangsal untuk pemeriksaan lebih lanjut. Diagnosa sementara keracunan. Sampun paham?”

“Oh, mekaten tho mbak, nyuwun pangapunten nggih? Ferdi, tampak malu di depan perawat yang menangani Bu Sutinah.



‘Wedhus gembel’ masih tampak menyembur-nyembur dari bongkahan batu besar yang seolah bernyawa, namun arahnya lebih ke daerah Magelang dan Yogyakarta. Walaupun jarak erupsi merapi untuk daerah Klaten sudah di perpendek menjadi Radius 10 km, tetapi masih ada sebagian warga yang tetap tinggal di pengungsian, sampai status merapi benar-benar aman.
Sekembali dari Rumah Sakit Islam, Ferdi bersama tim medisnya kembali ke Pendopo Kabupaten, untuk meneruskan tugasnya. Waktu bergulir begitu cepatnya, tidak terasa sudah saatnya berbagi makanan dengan pengungsi yang masih ada. Dapur umum sudah menyiapkan makanan, selesai sholat maghrib lansung makan bersama. Tiba-tiba, Ferdi teringat sesuatu, dia meninggalkan Bu Sutinah di umah Sakit. Ferdi tampak kebingungan, kalau sampai ada apa-apa dengan Bu Sutinah bagaimana?, siapa yang akan dihubungi pihak rumah sakit ?. Karena panik, dia sampai lupa kalau tadi sempat meninggalkan nomer telfonnya di rumah sakit. Ya, sudahlah, tadi sudah meninggalkan nomer kok.
Hiks..hiks..hiks..terdengan lantunan suara sendu, terisak-isak dari tenda tempat Bu Sutinah terkapar. Jangan – jangan keluarganya, karena saat Bu Sutinah ditemukan tadi siang, keluarganya tidak ada satupun yang ada di tenda. Kata tetangganya, suaminya naik ke atas memberi makan sapi – sapinya.

“Ada apa dik, kok menangis?” Tanya Ferdi kepadanya.

“Ibu ilang pak?” sambil terisak-isak mengusap air mata, Toni seorang bocah laki-laki, kira-kira berusia 10 tahun, menangis di dalam tenda.

“Ibu, asmanipun sinten dik?”

“Sutinah, Mas.” Dari luar tenda tampak terdengar suara menyebut nama sutinah. Laki-laki berbadan kecil kurus dan agak tinggi, tidak lain adalah suami Bu Sutinah dan bapak dari Toni.

“Sinten Pak?” Ferdi balik bertanya pada Pak Parjo.

“Sutinah.” Di ulanginya lagi oleh Pak Parjo.

“Bu Sutinah, nggih pak? Menawi Bu Sutinah, sakmeniko wonten Rumah Sakit Islam.” Jawaban Ferdi membuat kaget Pak parjo dan sebagian tetangga yang ada di tenda.

“Bojo kulo kenging punopo, mas?” sepontan Pak Parjo kaget dan bertanya pada Ferdi.

“Siang wau, padaranipun sakit, langsung dipun betho ten rumah sakit.”

Ferdi, pak Parjo dan anaknya langsung menuju rumah sakit malam itu juga setelah sholat isya’.



Bangku-bangku yang tadi siang seperti seekor ular yang akan memangsa targetnya, kini lenggang tinggal besi-besi tua yang sudah mulai lapuk karena usia. Ups..ternyata salah jalan, pintu masuknya sekarang pindah di sebelah selatan, karena terburu-buru jadi lewat jalan utama. Mereka masuk ke salah satu bangsal, dan keadaan Bu Sutinah baik-baik saja, bahkan sangat segar.

“Mbak, pripun keadaan bu sutinah?” Tanya Ferdi kepada perawat yang jaga di bangsal.

“Setelah di kaji ulang dan di cek laboratorium, Bu Sutinah tidak sakit apapun, tapi hanya saja, ada makanan yang nyangkut di tenggorokannya. Sekarang keadaannya sudah membaik.”

“Apa..? tidak sakit mbak? Sepontan Ferdi kaget mendengar keadaan Bu Sutinah.

“Benar Mbak? Tidak ada yang salah ? Atau tertukar data orang lain?” Ferdi tampak kebingungan, pasalnya tadi siang keadaannya sangat mengkhawatirkan, tapi sekarang segar bugar.

“Nggih mas, Bu Sutinah sampun sae, besok sudah boleh pulang.” Kata perawat jaga.
Ferdi termenung, dan kalau teringat kejadian tadi siang, mungkin dia akan tambah malu kalau bertemu gadis cantik yang menolong Bu Sutinah. Lamunannya buyar, saat Pak Parjo memanggil – manggil namanya.

“Mas Ferdi, Matursuwun nggih?”

“Sami…sami Pak.” Sampun kewajiban kulo.

“Pak, panjenengan kaliyan putro, nenggo wonten mriki kemawon nggih! Kulo badhe wangsul wonten pengungsian maleh.” Ferdi menjelaskan kepada Pak Parjo, Kalo keadaan istrinya sudah membaik.

Lobi – lobi rumah sakit tampak sepi, orang-orang tiduran tak beralas di sela-sela jalan, menanti sang kekasih hati yang sedang berjuang dengan takdirnya masing-masing. Ferdi teringat akan perawat yang menolong bu Sutinah tadi siang. Wajahnya yang manis, senyumnya, gaya tutur katanya dan semua hal yang ada pada dirinya menjatuhkan hati Ferdi. Ferdi berfikir, untuk lewat UGD, semoga bertemu dia lagi. Gumamnya dalam hati.

Sajak rindu

Wahai kekasih tak bernama
Hadirmu tak terasa
Pergimu meninggalkan luka
Dimanakah ?
Siapakah ?
Gerangan dirimu…..

Klaten, 20 Oktober 2010 jam 02.00

2 thoughts on “TIM MEDIS

  1. Talitha Huriyah

    Assalamu’alaikum mas cocowie😀
    Keren cerpennya..
    Eh.. tukeran link ya, t4 m.cowie dah litha link
    Kunjungi blog anak2 saya😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s