MALING

by: Cowie Az Zahra

Benar…! Ya, benar suara itu? Suara itu yang memekakan gendang telingaku. Saat sunyi mulai mencekam suara itu selalu datang, seolah menghantuiku kemanapun aku pergi. Berondongan suara yang saling bersahut-sahutan, berebut kebenaran. Darimana asal suara itu? Dari mana mereka tahu?

Ω Ω Ω

Parmin terbangun dari buntalan kain tipis yang mengerubutinya, tapi tidak seorangpun yang dia dapati, hanya bangku-bangku lusuh yang selalu menemaninya setiap malam. Semua barang-barangnya telah tergadaikan demi melunasi utang-utangnya. Mimpi itu selalu datang setiap rembulan telah menundukan mentari, seolah seperti nyata. Tiba – tiba terdengar suara getir dari belakang rumahnya, pintu rumah belakang yang tidak pernah di bersihkan, desirannya sampai mengiris hati Parmin.

“Pak sudah bangun?” terdengar suara lembut dari belakang rumahnya.

“Tidak biasanya istrinya bernada lembut, ada apa gerangan.” gumam Parmin.

Parmin pura-pura tidak mendengar kalau istrinya yang memanggil, ia membuntal tubuhnya kembali dengan kain tipisnya, melanjutkan tidur yang sempat tengganggu. Padahal terik sudah menjulang tinggi diatas kepalanya. Istrinya juga tidak marah saat Parmin tidak menjawab panggilannya. Murni melanjutkan membersihkan rumah dan memasak buat suami dan bakal calon anaknya yang masih ada dalam kandungannya.

Suara itu datang lagi, tidak hanya malam, siang bolong pun mereka datang berucap kebenaran, membisikan di telinga Parmin. Teriakan. Keringat bercucuran di seluruh tubuh Parmin, diikuti demam. Istrinya mendekati tubuh Parmin yang terlelap di bangku lusuh, yang tinggal satu-satunya barang berharga yang dimilikinya.

“Bukan! Bukan! Bukan aku.” Teriakan parmin dengan keras. Dan semakin keras.

Suara itu bersahut-sahutan berebut kebenaran, bagaikan syetan dan malaikat, yang datang memperingatkan dan mengajaknya, saling membenarkan perkataannya.

“Pak, pak ada apa? “ Parmin terbangun. Tergopoh-gopoh. Karena mimpi buruknya. Nafasnya putus-putus bak orang sekarat.

“Bukan aku. Maksudnya apa pak?” belum sadar benar istrinya sudah melontarkan pertanyaan yang tambah mencekik urat leher Parmin.

“Ti…Ti..Tidak ada apa-apa, hanya mimpi.” Parmin terbata-bata menjawab pertanyaan istrinya. Dia tidak ingin seorang pun tahu tentang mimpinya yang aneh. Istrinya spontan menceramahi Parmin.

Parmin memang sudah beberapa hari ini tidak bekerja semenjak suara itu selalu menghantuinya setiap kali terlepas dari raganya. Tapi, dia juga tidak bisa diam melihat Istri dan bakal calon anaknya yang masih dalam kandungan tidak makan. Sebentar lagi istrinya akan melahirkan. Bingung. Yang ada di otaknya. Biaya persalinan…biaya baju bayi…biaya susu…makan..dan masih banyak lagi, padahal sepeserpun Parmin tidak mengantongi uang. Dalam hati Parmin memikirkan semua itu.

Ω Ω Ω

Seminggu yang lalu Parmin menyatroni rumah besar yang ada di tikungan jalan komplek perumahan elite. Parmin biasanya bergerak bersama rekan kerjanya, tapi malam itu dia sendirian membobol habis isi rumah. Kebetulan pemilik rumah berlibur, tinggal seorang pembantu dan tukang kebun yang menjaga rumahnya. Aksinya malam itu mulus, tidak ada seorang pun yang melihatnya. Mujur. Penghuni rumah tidak mengetahui ada orang yang membobol rumah. Perhiasan dan sejumlah uang berhasil digasaknya. Kira-kira semua itu cukup untuk makan satu bulan.

Keesokan harinya Parmin memberikan uang itu kepada Murni. Jelas kaget Murni disodorkan uang sebanyak itu oleh Parmin. Suaminya saja malas-malasan dan jarang bekerja, tiba-tiba dalam semalam pulang dengan membawa uang sebanyak itu.

“Dapat dari mana uang ini pak?” spontan tanya Murni.

“Semalam dapat order dari teman lama, dan itu bonusnya.” Jawab Parmin, dengan gaya bisnisnya. Walaupun miskin tapi gayanya kayak bos executif.

“Kerjaan apa, pak?”

“Sudahlah Bu. Yang penting besok bisa makan.” Jawab Parmin dengan santainya, tanpa berpikir telah memberi makan haram pada istri dan anaknya.

Waktu berlalu perdebatan sengit terhenti, setelah Parmin pamit untuk keluar rumah. Dia beralasan ingin bertemu temannya yang tadi malam memberikan pekerjaan. Siang yang menyengat, tanpa banyak cakap Parmin meninggalkan gubuk bersama Murni dan bakal calon anaknya.

Ω Ω Ω

Bayangan tentang mimpinya tempo hari mengingatkan Parmin pada aksinya seminggu yang lalu. Apakah suara itu datang karena aku mencuri? Ataukah peringatan? Tapi tidak mungkin suara itu ada. Pasti hanya bualanku karena terus memikirkan keluargaku dan biaya hidup hari-hari kedepan. Parmin menggerutu sendiri di warung hik dekat pos ronda sembari minum teh jahe.

Siang telah tergadaikan mentaripun lenyap dalam peraduanya, awan merah terpancar di kejauhan, burung-burung pulang kesarangnya, sang purnama akan segera meredam kesedihan malam. Setelah siang tadi Parmin memikirkan hal buruk yang telah menimpa dirinya beberapa hari ini, dan melihat-lihat rumah mana lagi yang akan digasaknya. Ia pun tertidur lelap di bangku lusuhnya ditemani kain tipis yang lusuh pula. Murni tidur di kamar sendiri. Mimpi itu pun merebak di alam bawah sadar Parmin. Lebih dahsyat dari sebelum-sebelumnya.

“Jangan..bukan…bukan aku!” Parmin mengigau, teriak-teriak hebat, dalam mimpinya dia di keroyok warga karena ketahuan mencuri.

“Pukulan.”

“Hantaman.”

“Tendangan.” Mengenai sekujur tubuh dan kepala Parmin.

“Bukan…bukan aku.” Teriakannya keras melontarkan kata-kata pembelaan. Namun, suara itu datang lagi, tapi hanya satu suara.

“Ia dia malingnya, bunuh saja.”

“Bukan…bukan aku.” Parmin terus melontarkan pembelaan.

Braak…Parmin terjatuh dari bangku lusuhnya, dengan nafas yang tergopoh-gopoh, seperti habis maraton. Saat membuka mata. Kaget. Murni ada di hadapannya.

“Kenapa lagi pak, mimpi yang sama ya?” sambil menyodorkan segelas air putih kepada suaminya.

“Ii….iy…iya, bu mimpi itu lagi. Kali ini lebih hebat.” Terputus-putus Parmin menjelaskan kepada istrinya.

“Sudahlah Bu, hanya mimpi kok. Tidur lagi saja, masih malam.” Parmin menjelaskan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun dalam hatinya. Dalam hati istrinya gusar mendengar jawaban suaminya. Gumam istrinya, pasti ada yang di sembunyikan suamiku. Tapi ya sudahlah mungkin memang hanya mimpi.

Parmin terdiam di bangku lusuhnya, memikirkan mimpinya kali ini, padahal mimpinya yang kemarin-kemarin tidak menjadi beban. Pandangannya jauh tertuju pada foto pernikahan yang telah terlewatinya selama 10 bulan. Dia berusaha melupakan mimpinya. Memejamkan mata. Tapi, ketakutan akan mimpi yang sama terus menghantuinya. Betapa indahnya masa-masa satu tahun yang lalu. Sebelum aku di PHK. Andai saja itu tidak terjadi mungkin hari-hariku bersama Murni akan indah. Sunyi makin senyap hingga kokok ayam dan sahutan adzan subuh membuyarkan lamunannya.

Parmin mencuci mukanya, menghilangkan sisa-sisa kotoran mata, dan garis-garis yang mengecap di wajah dan tangannya, yang tertindih waktu tertidur. Dia masih terbayang mimpinya dan mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mengapa malam ini hanya satu suara…yang lain kemana? Kenapa suara yang baik? Justru membenarkan kebusukanku? Pertanyaan itu seolah tak akan pernah ia temukan jawabnya.

Parmin teringat usia kandungan Murni yang kian mendekati hari “H” kelahiran buah hatinya. Pikirannya tertuju pada biaya kelahiran anaknya. Dia mulai melupakan tentang mimpinya. “Ah, bagaimana ini, darimana aku harus dapatkan biaya rumah sakit untuk istri dan anakku.” Pikirannya tertuju pada sebuah rumah yang ada di ujung gang, yang ia lewati kemarin. Tanpa pamit istrinya, Parmin pergi keluar rumah.

“Awwh..aduuh…pak…perutku sakit sekali.” Teriakan di lontarkan Murni, tetapi saat itu Parmin tidak ada di rumah.

“Pak..tolong..sa..sakit..tolong.” ucapan terbat-bata terus di lontarkan Murni, hingga akhirnya ada salah seorang tetangga lewat di depan rumah Parmin, dan langsung memanggil warga yang lain, untuk membopong tubuh Marni dan membawanya ke rumah sakit.

Ujung gang komplek, terik yang menyengat, dengan modal kenekatannya. Parmin mengendap-endap melompati pagar rumah. Siang-siang seperti ini biasanya, pemilik rumah tidak ada. Parmin sudah menyatroni rumah itu beberapa hari ini. Bahkan dia lupa akan mimpinya tadi malam. Tentang mimpi penganiayaan tadi malam.

Menoleh kanan, kiri, tidak ada seorangpun, ia pun mencongkel pintu depan. Karena sudah ahli maling, Parmin dengan mudahnya memasuki rumah pengusaha itu. Dengan pelan dan berhati – hati Parmin masuk dari pintu satu ke pintu yang lain. Kali ini parmin tidak tanggung-tanggung, perhiasan dan uang diganyang habis, karena mungkin Parmin butuh jutaan untuk biaya istrinya. Saat hendak melangkahkan kaki keluar rumah, tanpa sengaja tangannya menyentuh vas bunga yang ada di meja dekat pintu.

Pyarrrr…Parmin menggeliat kaget bukan kepalang, dalam hati bergumam, “semoga tidak ada yang dengar.”

Tanpa disangka-sangka suara pecahan tadi terdengar salah seorang warga yang lewat di depan rumah pengusaha itu. Saat Parmin keluar dan melompat pagar, terlihat salah seorang warga. Spontan teriak.

“Maaling…maaling…maaling..”

Tanpa pikir panjang beberapa warga memberondong pukulan, tendangan, dan sejumlah pentungan menghantam kepala dan tubuhnya. Saat itu ia teringat mimpinya, “inikah akhir dari jawaban atas pertanyaan di mimpiku beberapa hari ini.” Gumamnya dalam hati dengan nada bergetar dalam sejumlah pukulan yang tidak bisa terelakkan lagi. Tidak terdengar apapun lagi, yang ada hanya bau anyir yang mengalir di kepalanya. Dan semua tampak gelap.

Di ujung kamar rumah sakit, hanya beberapa kerabat yang menunggui Murni. Tanpa seorang suami, dan tidak ada yang tahu keberadaan Parmin, sampai bayi laki-laki yang masih merah terlahir ke dunia ini. Di malam yang sunyi lagi senyap, di sebuah kamar, Murni berdoa, “Semoga suamiku segera datang”. Angin malam pun berlalu, meninggalkan keheningan di antara kamar-kamar rumah sakit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s