25 Desember

Rasanya hari ini berat tuk menulis, mata rasanya berkunang-kunang. Suhu badan meningkat, kaku terasa berat tuk berdiri. Jemari yang biasanya menari kini mulai lelah dengan tariannya. Namun, aku tetap berusaha menuliskan kisahku hari ini. 25 Desember, yang aku benci.
Sepuluh tahun sudah masa-masa itu terlewat. Masa yang ingin aku ingat sebagian, dan melupakan sebagian lagi. Namun, sampai kapanpun mereka hanya ingat kata-kata yang tak ingin aku dengar. Kata-kata yang menjadikan masa kejayaanku 10 tahun yang lalu dengan sosok yang lain. 3 tahun aku mendapat gelar yang tak ingin aku sebutkan lagi. Mungkin gelar itu yang menjadikan renggang persaudaraan antara aku dan adikku. Aku tak tahu pasti. Tapi, semua dimulai setelah kejadian di belakang kelas itu.

Al Qur’an dalam surat Al Hujurat Ayat 11 dijelaskan “…Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Ayat itu secara jelas mengatur bagaimana memanggil setiap dari diri kita dengan nama yang baik. Tapi aku selalu tidak peduli teman memanggilku dengan sebutan buruk sekalipun. Aku tidak pernah marah. Aku selalu berpikir, panggilah dengan nama yang kamu sukai bila itu menyenangkanmu. Kesalahan terbesar saat aku melakukan itu. Dan semua itu baru aku rasakan saat pertemuan kamarin, setelah 10 tahun terlewat. Kalau aku tidak ingin mendengar panggilan itu lagi.

Aku masih ingat, saat teman sekelasku mengadu, kalau adik bungsuku menganiaya mereka. Ternyata adikku malu dan marah saat kakaknya disebut dengan panggilan itu. Mugkin sejak itu adikku mulai menjauh dan malu punya kakak sepertiku. Kakak yang cowok tapi terlalu lembut dan feminin, serta bersikap layaknya seorang cewek. (namun bukan cara berpakaian ya…)

25 Desember yang aku benci, namun merindukan. Aku dan temanku, Diky namanya yang menggumpulkan mereka setelah 10 tahun. Berharap semua dapat berkumpul, namun tidak lebih dari 50 % yang hadir, dan sekitar 5 % belum diketahui keberadaannya, serta 1 orang sudah kembali kepada pemilikNya beberapa tahun yang lalu. Dan yang sangat aku sesalkan, panggilan pertama yang dilontarkan dari mulut mereka bukan namaku tapi sebuah panggilan yang benar-benar tak ingin aku dengarkan lagi sejak lulus 10 tahun yang lalu.

25 Desember, aku benar-benar membencinya. Ingin segera ku akhiri pertemuan hari ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s