BUTIK (part I)

Aku seorang gadis kampung. Aku tinggal di sebuah desa kecil di kabupaten Gunung Kidul propinsi DIY. Bagi perempuan kampung, cita-cita dan harapan adalah sebuah angan-angan belaka. Kalau istilah kerennya,”Seberapa tinggi tingkat pendidikan seorang perempuan pada akhirnya tetaplah di dapur.” Aku sangat menentang diskriminasi itu. Bagiku cita-cita adalah sebuah tujuan hidup yang harus digapai, walaupun aral membentang luas di depan sana.
Kisahku bermula saat aku masih duduk di bangku kelas 3 SMA, saat yang sering di agungkan remaja. Karena pubertas dan keegoisan terkadang lebih menguasai jiwa di banding pemikiran obyektif tentang tujuan hidup dan sebuah cita-cita.

Aku mengenalnya, sesosok laki-laki yang tampak mengesankan. Namanya Dani, teman sekelasku. Dua tahun aku jarang komunikasi dengannya, namun tahun ketiga kedekatanku semakin menjadi. Aku tak tahu ini perasaan apa, tapi rasanya membuat irama jantungku berdetak cepat dan tak beraturan ketika dekat dengannya. Aku berusaha mengabaikan perasaan ini. Aku ingin fokus dengan kelulusan yang tinggal beberapa bulan lagi.

Kebahagian yang luar biasa, aku memang tidak terlalu pandai. Tapi aku puas, dan sangat bahagia saat melihat selembar kertas yang bertuliskan ‘LULUS’. Kelulusanku tak lepas dari doa mamah dan bapak. Walaupun bapak sedang bertarung dengan maut. Bapak di vonis menderita penyakit kelaian darah. Aku senang bisa memamerkan pada bapak yang terbaring di bad rumah sakit RSCM Jakarta.

Tak kusangka sedari tadi ada sosok laki-laki di ujung kelas yang memperhatikan tingkah girangku. Sosok itu tampak tidak asing. Ya. Dia Dani. Tiba-tiba saja dia mendekat dan terus menatap mataku penuh makna. Aku pun tidak tahu, kenapa tak bisa melepaskan pandangana yang terus mendekatiku. Dua mata itu sudah sangat dekat bahkan seakan menempel di kelopakku. Dan sepatah kata terucap dari bibirnya.
“Yani, aku mencintaimu,” kata Dani sambil terus menatap mataku.
Aku hanya bengong dan tak sepatah katapun terucap dari mulutku. Aku tak tahu, senang ataukah sedih. Aku terdiap seperti kepompong sedang bertapa. Tiba-tiba dia berbisik di samping telingaku.
“Yani, maukah jadi pacarku.”
Semakin kaku sekujur tubuhku mendengarnya. Ini pertama kalinya ada yang meyukaiku. Dan aku tak tahu pasti perasaanku. Suka atau hanya kagum saja.
Aku masih terdiam di tempat itu, saat tersadar semua telah hilang. Acara lulusan sudah selesai. Aku pun pulang dengan penuh kebimbangan dan kecemasan.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s