MERAH


Tidak biasanya si Merah belum pulang, ada apa gerangan hingga senja merekah di barat laut, mega memerah, mentari terbenam tergantikan purnama. Lantunan syahdu penegak sholat mulai bersahut-sahutan di kejauhan. Gumamku dalam hati, sembari khawatir akan keadaannya. Dimanakah dia? Apa yang terjadi padanya? Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Apa lantaran beberapa hari yang lalu aku memarahinya? Lantas dia kabur, marah dan tidak kembali padaku. Ataukah ada seseorang yang menangkap lalu membunuhnya? Atau Apa….Atau…. Berjuta pertanyaan memberondong kepalaku. Desahku panjang sambil menatap jauh jalannya pulang.
∞ ∞ ∞

Kuk kuk ruyuuuk…..kuk..kuk..ruyuuuk…
Fajar merekah di kesunyian, malam senyap segera tergadaikan. Mentari merekah di antara pegunungan ufuk timur yang tampak membiru nan elok dari kejauhan. Pukul 04.00 Aku terbangun dari mimpi panjang, setelah baca doa bangun tidur, segera ke belakang ambil air wudhu. Kesegaran merekah pada wajah yang bercahaya, segera Aku melaksanakan sholat subuh. Selesai menegakan kewajiban, Aku membantu pekerjaan rumah. Selagi asyik dengan pekerjaan, Sejenak teringat kalau si Merah belum di lepas dari kandang, padahal tadi waktu subuh sudah membangunkankanku dengan syair merdunya. Kuk..kuk ruu…yuu….uk, Nyanyian syahdu yang selalu di nyanyikan si Merah setiap pagi.
“Ibu, Aku keluarkan si Merah dulu ya?”
“ Iyo, le. Nanging aja suwe-suwe , ndang di rampungke gaweane!”1
“Nggih Bu.”2
Pukul 05.30 cahaya sudah tampak terlihat, si Merah kegirangan saat di keluarkan dari peraduannya. Langsung saja mendekat padaku, seolah menunjukkan keakraban seorang sahabat. Menari sambil melantunkan nyanyian syahdunya yang indah. Setelah puas bermain sudah saatnya perpisahan, Aku harus sekolah, si Merah bermain sendiri, mencari makan sampai senja, sampai waktu untuk kembali ke paraduan.
∞ ∞ ∞

Terik yang menyenggat, pada sepetak tanah di samping rumah Pak Jadi, si Burik, ayam jantan Pak Jadi, sedang mengejar ayam betina milik Pak Rudi, bulunya putih, bersih, cantik bila di pandang mata manusia, apalagi sesama jenis ayam, pasti di jadikan sang idola. Tidak hanya si Burik ternyata si Merah juga ada di sana berebut kejantanan dan kekuasaan untuk memiliki sang idola. Itulah awal, Si Merah jadi sering pulang senja.
Satu, dua, tiga hari aku selalu membiarkannya ketika dia pulang senja, karena aku pikir itu hal biasa. Hari keempat Aku menunggu di depan rumah dengan pandangan jauh, si Merah belum tampak batang hidungnya. Maghrib, saat terdengar lantunan merdu di kejauhan, baru dia pulang dengan kaki pincang sebelah. Aku terperanjat langsung menggendong si Merah. Melihat luka kakinya takut parah dan tidak bisa normal lagi. “Untung hanya luka ringan. Ah, paling kalah berkelahi dengan si Burik.” Gumamku dalam hati.
∞ ∞ ∞

Seperti biasa Aku bermain dengan si Merah di pagi yang menyegarkan, terlihat tatapan si Merah lesu, nafsu makannya juga berkurang, kakinya juga masih pincang. Apa yang sebenarnya terjadi kemarin. Aku mulai berfikir yang tidak-tidak. Aku segera menampik pikiran itu. Seperti biasa juga kami berpisah untuk aktivitas masing-masing.
Sekolah buatku sangat menyenangkan. Bertemu teman-teman, ibu guru yang cantik, dan yang tidak kalah penting adalah soto bu Mus. Akan tetapi hari ini sekolah tampak membosankan, otakku isinya tentang si Merah. Karena tatapan wajahnya tadi pagi membuatku kepikiran tentang keadaannya.
“Ayolah cepat jam 12.00.” Ucapku dalam hati, sembari melamun.
Plaak…
Tiba-tiba sebuah penghapus nyasar di muka, tidak sadar terdengar halilintar dengan dentuman besar yang membuyarkan lamunanku.
“Adi, Jawab soal nomer 3!”
“Merah lagi sakit, Ibu.”
“Melamunkan apa, Adi?” Tanya Ibu guru dengan nada meninggi.
“Tii..tidak ada kok, Bu?” Jawaban Adi yang terbata-bata membuat ibu guru tambah naik pitam.
“Adi, keluar, berdiri di luar kelas sampai pelajaran ibu selasai!” Berfikir untuk pulang cepat, tapi malahan pulang telat. Gumam Adi sambil berjalan ke luar kelas.
Di luar pun Aku tak henti-hentinya memikirkan keaadaan si Merah. Akhirnya pelajaran usai juga. Aku langsung lari ke kelas ambil tas, tanpa pamit Ibu Ida, dan langsung pulang. Bahkan tanpa menggubris panggilan Bu Ida.
∞ ∞ ∞

“Ibu, Aku manthuk.”3
“Iya.” Jawab ibunya singkat. Ada apa dengan Adi tidak biasanya dia lupa mengucap salam. Gumam ibu sembvari melihat anaknya berlalu.
Aku langsung ke kandang, setelah melepas sepatu dan menaruh tas. Tidak Aku temukan si Merah di dalam kandang.
“Ibu, siang ini Si Merah pulang nggak?”
“Ora ki, le.”4
Aku bolak-balik ke kandang, tak ku temukan juga jejak langkahnya. Di kebun Pak Jadi juga tidak Aku temukan. Mutiara kecil mulai mengalir di pelipis kanan dan kiri. Mentari akan kembali ke peraduannya, tergantikan rembulan, tetapi si Merah tidak juga kelihatan.
Aku ingat akan wajahnya lesu tadi pagi. Apa dia marah padaku? Ah…tidak, tiap hari aku memberinya makan dan minum, merawatnya dengan baik serta memandikan. Tapi, apakah mungkin, karena aku memarahinya tempo hari? Nah, itu mungkin saja terjadi. Aku kian menitikkan mutiara kecil, sedikit dari bola-bola matanya yang bening.
Dimana kau Merah, senja telah tergadaikan, tapi engkau tidak kunjung pulang? Apa yang sebenarnya menimpamu? Aku Pulang dengan tersedu-sedu, dan mulai sakit sampai beberapa hari, karena memikirkan si Merah yang menghilang. Bagiku si Merah adalah belahan jiwa. Jadi ketika pisah. Sakit pula jiwanya.
∞∞∞

Beberapa hari kemudian, ada yang memberitahukan kepada Adi, karena tidak tega melihat Adi terbaring, seolah ”hidup enggan matipun tak mau”. Kalau ayamnya tidak hilang, tapi di potong Pak Jadi, lantaran si Burik mati, kalah memperebutkan sang idola.
∞ ∞ ∞

Catatan kaki.:
1 Iya, Nak, tapi jangan lama, segera selesaikan.
2 Iya Bu.
3 Pulang
4 Tidak Nak.

2 thoughts on “MERAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s