[TIPS] AYO BAKAR*

Riawani Elyta penulis buku Hati Memilih
[TIPS] AYO BAKAR*
*Pesen sponsor ; jangan terprovokasi ama judul, hehe…

Jika ditanyakan kepada penulis (pemula), kendala terbesar apa yang menghalangi proses penulisan sebuah buku solo meskipun keinginan itu sudah sedemikian kuatnya? Jawabannya mungkin beragam. Tapi untuk saya, kendala terbesar itu adalah MOTIVASI dan SEMANGAT. Karena jika benturan itu terjadi pada hal-hal terkait usaha membangun unsur intrinsik sebuah buku / novel, pada hakikatnya rata2 unsur2 ini bisa dipelajari dan didapat dari sekitar kita. Sebagai contoh, untuk menulis sebuah novel, setting tempat bisa dibantu detailnya lewat penjelajahan di internet dan buku-buku referensi, pendalaman karakter bisa digali dari karakter orang2 yang ada di sekitar kita, alur cerita bisa kita pilih dan tentukan sendiri, mau maju, mundur, atau kombinasi keduanya, dst.

Tapi untuk motivasi dan semangat, ini adalah hal ekstrinsik yang harus dicari, dirawat, dipelihara nyala sumbunya hingga penulisan buku selesai dan memunculkan kata ‘the end’. Seringkali proses penulisan terputus di tengah jalan, tidak hanya karena sang penulis mengalami kebuntuan bahan, tapi justru lebih disebabkan api motivasi dan semangat ini yang keburu padam sebelum sempat menchargenya, atau terpadamkan oleh faktor-faktor lain yang hembusannya lebih dahsyat seperti keterbatasan waktu, padatnya aktivitas, dsb. Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk menyalakan api keduanya agar terus terjaga dan mampu menyalakan produktivitas kita untuk menyelesaikan naskah2 bernafas panjang?

Misi Bagi saya, misi adalah charge yang paling potensial untuk mengalirkan energi. Misi dibalik setiap penulisan sebuah karya memang berbeda-beda. Ada misi untuk menyampaikan idealisme, misi untuk membagi pengalaman inspiratif, misi untuk mengajarkan ilmu pengetahuan yang dimiliki, dsb. Semakin kuat ‘ruh’ dari misi yang melatarbelakanginya, insya Allah semakin besar pula energi yang terkandung didalamnya. Jadi, disaat anda telah memancang niat untuk mulai menulis sebuah buku, segera renungkan misi yang anda punya yang hendak anda sampaikan lewat buku itu. Kalau perlu, tuliskan besar2, tempelkan di meja tempat anda biasa menulis atau jadikan wallpaper layar komputer sehingga bisa sewaktu-waktu anda jadikan reminders dalam proses menulis. Tanamkan keyakinan didalam hati bahwa satu ilmu atau inspirasi yang anda bagi dan mampu menyentuh pembaca untuk merealisasikannya insya Allah akan menjadi amal jariah kelak.

Materi Kita nggak bisa munafik, bahwa materi turut menjadi faktor pendorong motivasi dan pembakar semangat. Terutama bagi mereka yang memang menjadikan menulis sebagai sumber mata pencaharian, maka mau nggak mau, mood nggak mood, semangat dan produktivitas menulis tetap harus dijaga agar karya bisa terus dihasilkan dan asap dapur pun bisa sama menyala. Namun, perlu diingat, jangan sampai materi justru menjadi penghalang produktivitas anda disaat segala-galanya harus diukur dengan uang.

Saya ambil contoh dari apa yang saya alami. Saya termasuk penulis yang selalu mencari semangat melalui kompetisi dan audisi menulis. Ketika saya sedang menyelesaikan sebuah novel 2 tahun lalu, iseng saya buka2 beranda fesbuk, lalu menemukan satu thread panjang tentang lomba menulis dimana saya berencana mengikutsertakan novel yang sedang saya tulis. Sedikit tercengang, karena justru banyak komentar bernada pesimis dan negatif, antara lain ; lomba novel, kok hadiahnya cuma segitu? Mana hadiah tho’, gak ada royaltinya, lalu terdapat satu komentar seorang penulis yang cukup tendensius, bahwa ia sudah menulis novel sampai 300an hal, dan ia tak akan mengikutkannya pada lomba yang hanya mampu menjanjikan reward segitu, lebih baik diikutkan pada lomba yang rewardnya lebih menggiurkan seperti lomba novel DKJ yang hadiahnya mencapai puluhan juta.

Komentar sejenis saya temukan juga ketika berencana mengikuti lomba novel Gagas Media. Seorang penulis yang sudah berkali-kali jadi jawara lomba cerber femina (tahu sendiri deh, reward lomba femina, nominalnya memang wow) mengatakan pendapatnya tentang lomba Gagas tsb, bahwa kurang pantas sebuah novel yang terdiri atas sekian puluh sampai ratus halaman diganjar dengan nominal yang hanya sejumlah itu.

Tentu, kita juga nggak bisa menganggap pendapat mereka salah dan pilihan kita adalah yang lebih baik, karena bisa jadi pilihan mereka untuk mempublikasikan karyanya lewat jalur berbeda juga akan menuai hasil sesuai harapan mereka termasuk dalam hal reward. Namun satu hal yang saya syukuri, ketika itu saya nggak lantas terpengaruh, dan tetap mengikutsertakan novel yang sudah saya tulis, tanpa peduli apapun hasilnya nanti dan berapapun reward yang dijanjikan. Bagi saya, penyelenggara kedua lomba yang merupakan penerbit2 berkompeten sudah cukup buat saya jadikan tempat meyakinkan langkah, mengasah kemampuan sekaligus mental kalau nantinya tidak menang. Dan saya yakin bahwa ada keajaiban juga rahmatNya untuk hamba yang yakin dengan pertolonganNya.

Alhamdulillah, kedua novel itu sekarang sudah lahir. Mungkin, jika waktu itu saya lebih memilih mengikuti semua komentar, kedua novel ini masih akan nganggur manis di file laptop, ataupun tengah berjuang mengetuk pintu2 penerbit dan harus menunggu berbulan panjang pula untuk sekadar mendapatkan nomor antrian.

Sebagai bocoran, lomba yang saya ikuti dua tahun lalu itu, pada awalnya pihak penerbit memang tidak menjanjikan adanya royalti selain hanya reward pada pemenang yang nominalnya ‘katanya cuma segitu itu’ dan masih harus dipotong pajak. Alhamdulillah, nominal yang kemudian saya terima ternyata utuh, pajak ditanggung penerbit, dan yang lebih membahagiakan, setelah melalui proses revisi yang cukup melelahkan, penerbit akhirnya bersedia membayarkan royalti meski prosentasenya tidak sebesar royalti normal.

Sebagai info tambahan juga, salah satu novel pemenang lomba Gagas Media, telah mengalami cetak ulang kelima hanya dalam waktu lima bulan! Mungkin, jika penulisnya yang masih mahasiswi itu juga memilih untuk ‘peduli’ pada sebagian komentar bernada pesimis, dia belum akan merasakan manisnya euforia cetak ulang novel perdananya. Wallahu’alam.

Kesimpulannya, sah2 saja menjadikan materi sebagai pembakar semangat, namun jangan sampai sifat materialistis membakar hangus semua semangat itu sehingga nggak ada lagi yang tersisa untuk mulai menulis. Toh kita nggak pernah tahu kemungkinan yang terbentang dihadapan sebagai konsekuensi dari pilihan kita. Jika kemungkinan itu buruk, setidaknya kita masih dikaruniai akal pikiran dan kesempatan untuk merubahnya menjadi lebih baik. Dan jika kemungkinan itu sesuatu yang baik, manis, bahkan diluar duga, tentu, tak ada yang lebih indah selain melafalkan rasa syukur hanya kepada sang Pengarunia nikmat, bukan?

3. Berada dan bergaul di lingkungan yang mendukung
Tidak semua kita berada di lingkungan (di dunia nyata) yang mendukung semangat menulis, seperti aktif di forum kepenulisan ataupun menjadi kontributor tetap sebuah media yang mengondisikan kita untuk tetap menulis. Namun keberadaan jejaring sosial dunia maya dan fasilitas gadget juga jaringan yang memadai telah membuat lingkup pergaulan menjadi kian tak berbatas termasuk menemukan kita dengan orang2 yang memiliki passion yang sama (menulis). Ini bisa kita manfaatkan sebaik mungkin untuk tetap menjaga motivasi menulis. Cukup luangkan waktu secukupnya dalam sehari untuk melakukan blogwalking ataupun berkunjung ke grup2 menulis dengan tingkat aktivitas menulis yang tinggi (contohnya BAW :D) untuk mengupdate info2 terbaru, tips2 menulis juga membaca2 karya penulis lain untuk tetap menyalakan motivasi [asal jangan keasyikan berselancar malah nggak mulai2 nulis, hehe].

4. Persiapan
Semangat dan motivasi sudah kita miliki, namun kita tetap butuh persiapan agar semangat itu tak jadi sia2. Ibaratnya, seseorang yang sudah berambisi untuk mendaki gunung dan menaklukkan puncaknya, akan menuai kesia-siaan andai dia tidak mempersiapkan apa2 sebelum mendaki, salah2, tanpa persiapan, orang justru akan mengiranya hendak melakukan harakiri. Persiapan apa yang perlu kita miliki? Selain peralatan untuk menulis, minimal, milikilah sumber dan buku2 referensi yang dapat menopang buku yang tengah kita tulis. Rancanglah kerangka dasar walau belum berbentuk outline lengkap sekalipun, setidaknya kita sudah memiliki garis besar isi buku yang akan kita tulis dan dapat membayangkan endingnya nanti akan seperti apa.

Analoginya, jika kita ingin menegakkan rumah, tidak cukup hanya dengan mengkhayalkan bentuk rumah, minimal harus bangun pondasi atau setidaknya skema denah terlebih dulu, agar kita tahu dimana posisi ruang tamu, ruang makan, dsb, berapa luasnya dan kira2 jenis pintu, jendela, juga perabot apa yang cocok untuk mengisinya nanti.

Terakhir, jika api semangat dan motivasi sudah menyala, mari bulatkan niat dan bermohon kemudahan serta kelancaran padaNya, jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatan fisik dan berkomitmen menyediakan waktu semampunya setiap hari untuk tetap menulis. Keep spirit, keep writing, keep humble, and surely your dream will come true….soon. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s