Cita atau Cinta (Part 1)

Cita atau Cinta
Part 1
by Syauqiyah Rahma on Thursday, 25 November 2010 at 07:43, Edit : Harjanto dc
(cowie_az_zahra@yahoo.com)

“Janganlah kamu menjadi orang yang berputus asa dari rahmat Allah. Tegarlah dalam menghadapi semua cobaan yang ada dalam hidup ini. Berdo’a,ikhtiar dan tawakal kepada Allah jadikanlah itu bagian dari dirimu. Ayah berkata padaku sambil tersenyum. Aku melihat sinar putih yang begitu menyilaukan mata. Sesaat bayangan Ayah hilang dari hadapanku. Aku berteriak seolah-olah ada sesuatu yang menyesakkan dada. Aku tersentak tenyata itu semua hanya mimpi.

Waktu subuh telah tiba,akupun mengambil air wudhu dan pergi ke masjid untuk menunaikan kewajiban pada sang pencipta. Terasa damai hati ini ketika mendengar lantunan ayat suci alqur’an. Aku bersyukur,Allah selalu melimpahkan karunia dan nikmatnya untukku.

Sesampainya di rumah aku langsung kekamar. Aku teringat akan mimpi tadi. Aku memang sangat merindukan Ayah. Tapi apa maksud mimpi tadi ya? Hatiku bertanya-tanya. Ya sudahlah, nanti Aku tanyakan bunda saja.

Selesai mandi dan berpakaian aku kembali termenung memandangi alam luar rumah. Aku teringat Ayah kembali. Ayah yang telah genap dua tahun meninggalkanku dan bunda. Sehingga membuatku harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan juga bunda dengan menjadi cleaning service di sebuah sekolah elite. Karena penghasilan bundaku sebagai buruh cuci tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan kami berdua dan untuk mengontrak rumah.

Terkadang aku sering menangis, mengapa kehidupanku harus seperti ini? Mengapa hidupku yang dulu serba berkecukupan harus mengais kehidupan di dunia yang kejam ini? Mengapa bundaku harus menguras keringatnya dan merusak tangannya yang lembut demi menyambung hidup yang entah kapan akan terbebas dari kemiskinan ini. Berjuta pertanyaan menari-menari di benakku.

Aku harus tegar! Ya, harus kuat! Aku adalah satu-satunya harapan bunda. Aku tak boleh menyerah! Sinar sang surya menyapa jendela kamar sehingga menerpa wajah yang diiringi suara kicau burung bersenandung ria turut menghibur hatiku yang sedang galau. Kupandangi langit dan pepohonan yang terbentang luas bak permadani hijau. Ya Allah, sungguh mulia ciptaanmu yang senantiasa membantu dan memenuhi kebutuhan manusia tanpa imbalan, tanpa gaji, tak kenal lelah siang dan malam. Membantu dengan ikhlas, ya…ikhlas tanpa imbalan dan selalu ikhlas dengan apa yang engkau takdirkan atas mereka tanpa ada protes sedikitpun, tanpa ada keluhan.

Ya Allah sungguh hina hambamu ini yang selalu saja mengeluh, tidak ikhlas atas takdirMu dan terkadang selalu mengabaikan hati nurani untuk membantu. Tak pernah membantu dengan ikhlas dan selalu saja harus ada imbalannya. Ah, sungguh tak tahu diuntung diriku ini. Allah telah memberi hidup, makan dan tinggal di buminya yang luas ini serta menjamin hidupku pula. Aku masih saja mengeluh dan terkadang kufur padaNya. Ya Allah ampuni hambamu yang hina ini.

Aku disentakan oleh suara ibu yang memanggilku untuk sarapan dan bergegas berangkat kerja. Aku tidak ingin terlambat, jika aku terlambat berarti aku telah korupsi waktu. Aku sangat benci dengan tindakan korupsi, jadi aku tidak boleh melakukannya. Aku takut gaji yang kuterima nanti menjadi tidak halal.
***
Sampah dimana-mana, halaman kotor bagaikan kumpulan semut yang tak ada ruangnya. “Dasar anak orang kaya yang tak tahu kebersihan. Katanya bersìh, gak taunya jorok gak ketulungan. ” Gumamku dalam hati. Inilah tugasku, ya, memang ini pekerjaan yang harus selesai sebelum semuanya datang. Setelah semuanya selesai nantinya aku bisa istirahat sambil membaca buku yang aku beli dari hasil keringatku di kebun belakang sekolah. Aku punya prinsip walaupun aku tidak bisa sekolah lagi harus tetap belajar dan harus menjadi orang yang sukses seperti pesan almarhum Ayah.

Air mataku sering sekali mengalir membasahi pipi. Kala aku melihat anak-anak lain bisa sekolah, belajar dan bercanda tawa dengan teman-teman. Aku memang laki-laki, menangis bukanlah lemah bagiku. Namun ketika kesedihan itu tak bisa kubendung lahirlah airmata sebagai ungkapan hatiku. Andai saja Ayah tak secepat itu pergi mungkin aku masih bisa meneruskan sekolah.

“Hai, gembel! Bukannya kerja malah melamun. Kerja dong! Gimana bisa makan kalau kerjanya cuma melamun doang. Emang makan tanah ya? Ho ho bener kali ye, jadi kan gak perlu cari duit buat beli, ya khan? ha…ha…
Aku kaget dan lamunanku buyar mendengar suara itu. Akupun berdiri, kumelihat sepasang mata memandang sinis kepadaku, dan kedua tangan putihnya menyentuh pundakku, bukan untuk menenangkanku akan tetapi menolakku hingga jatuh ke tanah.

“Maaf Non, apa salah saya sama Non. Sampai Non begitu benci pada saya.” Jawabku sambil tetap menjaga kesopananku, karena fikirku amarah tidak akan menyelesaikan masalah.

“Ha…ha… liat temen-temen si gembel ini berani bertanya apa salahnya. Benar-benar manusia bego lu ya…dah yuk fren cabut, lama-lama di dekat gembel ini bisa ketularan pemalas lagi.” Katanya kepada teman-teman yang setia mendampinginya sambil tetap menghinaku. Aku harus mengobati dan menata hatiku yang letaknya sudah tidak pas lagi sambil melihat gadis itu berlalu dari hadapanku. Gadis itu, gadis yang diam-diam aku menyukai dan menaruh hati padanya.Selalu saja merendahkan dan menghinaku, Ya Allah dada ini terasa sesak, sesak sekali, sakit! bagaì sembilu yang menyayat hatiku. Maya nama gadis itu. Gadis cantik dan pintar yang tidak hanya bintang kelas tetapi juga primadona yang menjadi rebutan cowok-cowok di sekolah ini. Ia juga anak orang yang dititipkan harta lebih. Coba ia sedikit manis dan memakai pakaian yang disyariatkan islam, subhanallah pasti cantik.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s