PERLAHAN TAPI PASTI (Kanker Serviks)

PERLAHAN TAPI PASTI
(Kanker Serviks)
Oleh: harjanto dc

Setiap Wanita yang telah melakukan hubungan seksual atau telah aktif secara seksual, berisiko untuk mengidap kanker leher rahim (kanker serviks). Pada kesempatan kemarin (14/01/2011), di gedung Pemerintah Daerah Kabupaten Klaten, seorang dokter spesialis kandungan, dr. Ivanna Brahmana, Sp.OG menyatakan : “Bahwa belum ditemukan teori yang menyatakan wanita yang belum pernah hubungan seksual menderita penyakit kanker leher rahim.”

Taukah Anda?
Kanker leher rahim adalah kanker penyebab kematian terbesar pada wanita Indonesia dan diperkirakan terjadi 200.000 kasus baru di dunia setiap tahunnya (Report of WHO Consultation, 2002). Sekitar 80% disebabkan oleh infeksi HPV.

Bagaimana Mendeteksi Kanker Leher Rahim?
Kanker leher rahim dapat diketahui malalui screening diri, dengan cara: Pap Smear dan HPV DNA.
Pap smear adalah pemeriksaan untuk melihat sel-sel leher rahim dimana sampel diambil dari liang vagina. Ada 2 macam Pap Smear, yaitu: Pap Smear konvensional dan Sitologi Serviks Berbasis Cairan (SSBC).

SSBC merupakan metode baru untuk meningkatkan keakuratan deteksi kelainan sel-sel leher rahim. Cara kerja metode ini lebih akurat daripada yang konvensional, karena sampel dimasukkan ke dalam cairan khusus yang akan memisahkan sel dari faktor pengganggu lainnya, sebelum di lihat dibawah mikroskop.

HPV DNA adalah pemeriksaan molecular yang secara langsung bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya virus HPV pada sel-sel yang diambil dari serviks. Infeksi HPV ada 13 tipe, yakni 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, dan 68. Namun yang paling berbahaya tipe 16 dan 18.

Apakah Kanker Leher Rahim Bergejala?
Infeksi HPV berbeda dengan infeksi virus flu. Pada stadium dini gejala tidak jelas atau bahkan tidak bergejala sama sekali. Pada stadium lanjut (Invasi) akan terjadi perdarahan setelah bersenggama, keputihan atau keluas cairan encer dari vagina, perdarahan setelah menopause serta keluar cairan kekuningan berbau, bercampur dengan darah. Pemeriksaan laboratorium sangatlah penting, untuk mengetahui kanker leher rahim sejak diri.

Kapan melakukan Screening Kanker Leher Rahim?
Usia 30 tahun, pemeriksaan Pap Smear dan HPV DNA secara berkala. Wanita dengan usia > 30 tahun yang telah aktif secara seksual berisiko tinggi mengalami infeksi HPV yang menetap. Infeksi HPV yang menetap berkaitan erat dengan kejadian kanker leher rahim.

Masih Perlukah Screening Kanker Leher Rahim bagi Wanita yang telah Diangkat Rahimnya?
Masih perlu: Jika sebelum diangkat pasien mempunyai riwayat hasil Pap Smear abnormal, jika pasien belum pernah melakukan pemeriksaan sitologi serviks. Pemeriksaan dilakukan 3 tahun berturut-turut, jika hasilnya negative maka setelah itu screening dihentikan.
Tidak perlu: jika pasien selumnya tidak memiliki riwayat pemeriksaan Pap Smear maupun HPV DNA abnormal.

Apa Saja Persiapan sebelum Pap Smear?
Pastikan tidak dalam keadaan menstruasi, waktu terbaik adalah 5 hari setelah berakhir hingga hari ke 14 sejak hari pertama menstruasi terakhir. Hindari penggunaan jeli atau krim vagina selama 3 hari sebelum pemeriksaan. Hindari pencucian (douche) vagina selama 2-3 hari sebelum pemeriksaan. Hindari hubungan sekseual dalam waktu 2 hari sebelum melakukan pemeriksaan.

Apakah Kanker Leher Rahim Dapat Disembuhkan?
Kanker leher rahim adalah salah satu jenis kanker yang paling dapat dicegah dan paling dapat disembuhkan dibandingkan dengan jenis kanker lainnya, asalkan diketahui pada stadium dini.

Haruskah Takut dengan Hasil Pap Smear yang Abnormal?
Janganlah panik! Yang terpenting adalah tindak lanjut pengobatan dari hasil tersebut. Hasil abnormal harus segera diobati supaya perubahan sel yang terjadi tidak memburuk.

Mengapa Pap Smear harus dilakukan secara Berkala?
Pap Smear (SSBC) merupakan cara yang mudah untuk screening kanker leher rahim, tanpa melakukan screening berkala terjadinya perubahan bentuk sel leher rahim menjadi sel kanker terlambat diketahui. Keberhasilan pengobatan kanker leher rahim besar kemungkinan apabila diketahui pada stadium dini. Sebagian besar wanita yang menderita kanker leher rahim ternyata tidak pernah melakukan Pap Smear sebelumnya.

Tingkat kesembuhan berdasarkan stadium kanker leher rahim:

Stadium Tingkat Kesembuhan
Stadium IA 100 %
Stadium IB 83% – 90%
Stadium IIA 68% – 83%
Stadium IIB 62% – 68%
Stadium III 33% – 48%
Stadium IV 14%

Lakukan pemeriksaan Pap Smear dan HPV DNA secara berkala untuk deteksi diri kanker leher rahim.

Masih Perlukah Uji Saring (Screening) setelah Vaksinasi HPV?
Masih, karena: Vaksin tidak memberikan perlindungan terhadap semua tipe HPV yang meyebabkan kanker serviks. Jika tidaK mendapatkan vaksin secara lengkap maka tidak mendapat perlindungan sempurna. Kerja vaksin tidak maksimal jika sebelum vaksin sudah terinfeksi HPV tipe 16 dan 18.
SCREENING RUTIN = HEMAT
***************************************************************

HPV (Human Papilloma Virus)
Siapa saja yang dapat terinfeksi HPV? Pria maupun wanita yang pernah melakukan hubungan seksual denagn orang yang terinfeksi HPV, keduanya tidak akanmenyadari dirinya terinfeksi, karna HPV dapat berdiam lama tanpa menunjukkan gejala. Seseorang dapat saja terinfeksi HPV jauh setelah melakukan hubungan seksual.

Apakah Human Papilloma Virus (HPV)?
Human papilloma Virus yang terdiri dari lebih 100 tipe, disebut Papilloma karena virus ini sering menimbulkan warts atau benigna (warts: tumor epidermal yang disebabkan virus papilloma atau proliferasi jinak mirip kutil). HPV yang menimbulkan warts di tangan dan kaki berbesa tipe dengan yang menimbulkan warts di alat genetalia (kelamin). Beberapa tipe HPV genetalia sangat berhubungan erat dengan terjadinya kanker leher rahim.

Mengapa masih banyak orang yang tidak tahu HPV?
HPV sebetulnya bukan virus baru, tetapi banyak orang tidak menyadarinya karena infeksi HPV tidak bergejala dan dapat sembuh dengan sendirinya tanpa menyebabkan masalah kesehatan.

Apa yang memudahkan seseorang terinfeksi HPV?
Kebanyakan orang ynag telah aktif secara seksual dapat terinfeksi HPV. Kelompok yang mudah terinfeksi HPV termasuk dalam kelompok risiko tinggi, yaitu: pertama, orang yang melakukan hubungan seksual diwaktu muda (usia 14-16 tahun). Wanita remaja usia 14 – 16 tahun masih mengalami perubahan hormone yang besar, selama masa pubertas kondisi leher rahimnya masih immature (belum berkembang sempurna) dan sel-sel leher rahim masih sangat aktif oleh sebab itu risiko infeksi HPV meningkat. Dan kedua, Orang yang mempunyai pasangan seks banyak. Berhubungan dengan banyak pasangan memperbesar kemungkinan terpapar HPV dari pasangannya.

Apakah infeksi HPV = HIV = HSV?
Infeksi HPV tidak sama dengan infeksi HIV maupun HSV meskipun sama-sam ditularkan melalui hubungan seksual. Infeksi HPV pada kebanyakan orang tidak menimbulkan masalah kesehata, tetapi infeksi yang menetap akan menimbulkan kenker leher rahim. Berdasarkan hubungan dengan kanker leher rahim, HPV dibagi menjadi 2 kelompok, yakni: HPV tipe risiko rendah dan HPV tipe risiko tinggi.

HPV tipe risiko rendah tidak menimbulkan kanker. Hanya terdapat perubahan yang terlihat seperti genital warts. Genital warts ini dapat tumbuh pada alat kelamin pria maupun wanita, biasanya tidak menimbulkan rasa nyeri, dapat berbentuk datar, kecil maupun besar satu atau banyak.

Sedangkan HPV tipe risiko tinggi berkaitan erat dengan terjadinya kanker leher rahim. Infeksi ini dapat bersifat semntara maupun menetap. Infeksi HPV yang menetap dapat menyebabkan perubahan bentuk sel leher rahim, perubahan ini lama-kelamaan dapat terus berlanjut menjadi kanker leher rahim apabila tidak diobati.

Apakah jika terinfeksi HPV tipe risiko tinggi artinya terkena Kanker?
BELUM TENTU. Infeksi HPV risiko tinggi tidak sama dengan Kanker. Infeksi HPV risiko tinggi akan menimbulkan kanker apabila infeksinya menetap dan menyebabkan perubahan bentuk sel. Proses perubahan dari infeksi HPV menjadi kanker leher rahim membutuhkan waktu relative lama, kurang lebih 10 – 15 tahun.

Siapakah yang berisiko Infeksi HPV menetap? Ada beberapa yang berisko terinfeksi, yakni wanita yang berusia diatas 30 tahun, perokok, penderita gangguan system kekebalan tubuh (seperti AIDS), dan peminum steroid seperti pada penderita Lupus Erythematosus.

Apakah Pria juga perlu melakukan pemeriksaan HPV?
Pemeriksaan HPV DNA untuk pria tidak direkomendasikan, meskipun infeksi HPV juga umum dialami pria. Namun infeksi ini pada pria tidak menimbulkan masalah kesehatan yang serius. Namun yang terpenting diwaspadai adalah bahwa pria yang terinfeksi HPV berpotensi menularkan HPV ke pasangannya atau siapa saja yang berhubungan seks dengannya.

Dapatkan Infeksi HPV diobati?
Tidak ada obat yang dapat membunuh HPV itu sendiri, tapi kekebalan tubuh yang baik dapat melawan HPV dengan sendirinya. Sehingga pengobatan lebih pada akibat yang ditimbulkan seperti genital warts, perubahan sel leher rahim dan kanker leher rahim.

Adakah Cara untuk mengurangi risiko terinfeksi HPV?
Cara yang pasti untuk mencegah infeksi HPV adalah tidak melakukan hubungan seksual. Jika memutuskan untuk memiliki pasangan seks, maka caranya adalah tidak berganti-ganti pasangan.
Wajar saja apabila seseorang terinfeksi HPV maka ingin tahu siapa yang menularinya. Namun tidak ada cara untuk memastikannya. HPV dapat saja sudah terdiam lama jauh sebelum terdeteksi. Jika terinfeksi HPV jangan salahkan pasangan yang sekarang atau menuduh pasangan berselingkuh. Infeksi HPV sebaiknya tidak dijadikan penanda pasangan selingkuh.

(Seminar Patelki DPC Klaten kerjasama dengan Laboratorium Prodia Klaten, 14/01/2012).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s