Tak Usah Khawatir

Tak Usah Khawatir
oleh: Harjanto dc

Liku kehidupan tak selamanya sesuai apa yang ku rencanakan. Manusia boleh saja berencana untuk hari esok, namun Alloh juga yang akan menentukan. Tatapan mataku tertuju pada sebuah bingkai kecil yang berdiri tepat di atas meja samping tempat tidurku. Sebuah kalender meja dengan hiasan bunga. Ruangan tampak senyap, hanya suara gangsir di luar rumah yang memecah kesunyian malam.

Butir-butir air mata tak terasa mengalir di pipiku, saat membolak-balikan kalender yang bertuliskan “Selamat Menempuh Hidup Baru”, sebuah souvenir pernikahan teman beberapa bulan yang lalu. Rasa-rasanya usiaku semakin senja, beberapa bulan lagi sudah menginjak 26 tahun. Yang menurut orang tua dan teman-teman harusnya usiaku terlewat ideal untuk menikah. Namun, aku masih tetap bertemankan kesendirian. Bukan karena aku tidak ingin mencari pendamping hidup. Beberapa bulan lalu ada seorang ikhwan melamarku, secara agama baik, mapan, dan akan tetapi tinggalnya jauh di luar kota. Tapi, aku menolaknya karena sebuah beban yang ada dalam tanggunganku, dan tentunya setelah menikah aku akan ikut suami. Itu adalah salah satu alasan yang menjadikanku menolak lamaran itu.

Aku masih belum bisa meninggalkan kakek, karena di rumah hanya tinggal aku, Lek (adik laki-laki Ibu) dan kakek. Lek pun tidak bekerja, sehingga yang menopang kehidupan kami adalah diriku. Dari kecil aku ikut kakek, karena orangtua ku merantau di Jakarta bersama adik-adikku dan sekarang keadaan kakek sakit-sakitnya, karena pasca stroke. Tidak mungkin aku meninggalkan kakek dengan menikah sekarang. Tapi dalam batinku bergejolak, terjadi perdebatan hebat. Saat ini aku bekerja di sebuah konveksi milik om, hari-hari ku habiskan bersama benang dan kain.

Aku tidak pernah pedulikan orang-orang disekitarku, yang selalu memaksakan untuk segera menikah. Mereka selalu memberi sebuah vonis, “semakin tua usia, maka akan semakin menjauh jodoh.” Tapi, aku yakin jodoh sudah ada yang mengatur, tinggal waktunya saja. Namun begitu, hatiku pun masih kurang tenang menghadapi semua ini. Aku ingin segera menikah, tapi tidak ingin meninggalkan kakek. Semoga jodoh itu segera datang menjemputku dalam kesendirianku, dan Alloh memberikan yang terbaik untuk semuannya.

Aku teringat sebuah lirik nasyid maidany, yang beberapa waktu lalu ku dengarkan. Yang menjadikan diriku untuk selalu intropeksi diri sembari “Menunggu di Sayup Rindu.” Menunggu jodoh kan menjemput bila telah waktunya. Tak usahlah ragu, janji Alloh pasti tentang jodoh manusia.

Ooo…
Burungpun bernyanyi melepas sgala rindu
Yang terendam malu di balik qolbu

Ooo…
Anginpun menari mencari arti
Apakah ini fitrah ataukah hiasan nafsu

Di dalam sepi ia selalu hadir
Di dalam sendiri ia selalu menyindir
Kadang meronta bersama air mata
Seolah tak kuasa menahan duka

Biarlah semua mengalir
Berikanlah kepada ikhtiar
Dan sabar untuk mengejar…

Sabarlah menunggu janji ALLAH kan pasti
Hadir tuk datang menjemput hatimu

Sabarlah menanti usahlah ragu
Kekasihkan datang sesuai dengan iman di hati

Bila di dunia ia tiada
Moga di syrga ia telah menanti
Bila di dunia ia tiada
Moga di syurga ia telah menunggu

Menunggu di sayup rindu By Maidany

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s