Sayap yang Terhempas

Sayap yang Terhempas
(untuk Papa)
Oleh: Harjanto Dc

Derai air matanya tidak tertahankan, saat mendapati belahan jiwanya tidak sadarkan diri. Seorang perempuan yang biasa aku sapa dengan sebutan Mama meratapi kepergian laki-laki berbadan besar itu. Kebersamaan bersama Papa rasanya masih terbayang di pikiran Mama. Papa yang kemarin masih terpapah di atas kursi rodanya, tersenyum dan bercanda dengan adik-adik, kini telah pergi menemui pemilikNya.

Suasana rumah sedikit hening setelah kepergian Papa. Beberapa hari Mama mengurung dirinya dalam kamar. Entah apa yang di pikirkannya? mungkinkah Mama masih belum rela atas kepergian Papa? Ah, tidak sepertinya. Aku sangat mengenal Mama, beliau perempuan yang sangat kuat. Walaupun ilmu agamanya belum seberapa, tetapi ketaatannya pada suami sangatlah pantas untuk ditiru perempuan lain. Aku masih ingat awal-awal berada dalam keluarga mereka. Cinta, kebersamaan, keikhasan, dan kepeduliannya kepada orang yang kekurangan menjadi bagian yang tidak pernah pudar dari keluarga Papa.
* * *

Dari kejauhan tampak pagar hijau agak lebar tepat di pertigaan jalan. Sebuah rumah sederhana, namun tampak mewah dari luar. Terlihat anak-anak tengah asyik dengan kegiatan masing-masing. Aku berjalan disela-sela tempat mereka belajar, sampailah di depan pintu kayu dengan ukiran gunungan wayang yang terlihat baru.

“Assalamu’alaikum,” dari dalam kamar terdengar lirih balasan salam dari seorang perempuan.

“Wa’alaikumusallam, masuk mas?”

Sembari mempersilahkanku duduk di ruang tamu, dipapahlah seorang lelaki yang sudah setengah umur. Biasanya Papa memainkan kursi rodanya, tapi tidak hari ini. Tampaknya ingin jalan sendiri.

Duduklah dihadapanku laki-laki dengan tubuh agak besar dan ada balutan perban pada lengan kanannya. Papa sudah lama mengidap penyakit Diabetes Mellitus basah. Setiap kali luka, akan sulit sembuh karena selalu basah. Penyakit ini selalu jadi momok yang mengerikan, karena dapat berakibat komplikasi pada organ vital lain.

Sepulang kerja, aku selalu mampir ke tempat Papa. Walaupun hanya sekedar bermain dengan adik-adik. Hatiku tenteram ketika berada di antara mereka. Kebahagiaan selalu terwarnakan di rumah Papa.

“Keadaannya bagaimana, Pa?” Tanyaku menyelidik serta memastikan.

“Ya, masih seperti biasa mas,” jawab Papa dengan nada kurang semangat.

“Pagi-pagi sudah ke rumah, mas?” Tanya mama padaku sembari menyodorkan segelas air putih.

“Iya ma, lagi libur. Ingin lihat keadaan Papa, serta bantu kakak-kakak ngajar.”

“Ya, silahkan mas!” Lanjut Papa mengakhiri pembicaraan kami.

Cahaya kuning muda, hangat, telah merebak ke emperan rumah Papa. Selesai ngobrol aku bantu kakak-kakak ngajar. Ada empat kakak yang membantu ngajar di yayasan ini. Semuanya anak kuliahan yang usianya jauh di bawahku. Mereka semua kuliah di kampus dan jurusan yang sama pula, yaitu Manajemen Syariah. Di sebuah kampus swasta di Jakarta Selatan.
* * *

Terik mentari Metropolitan tak ubahnya buliran pasir panas di dataran Arab. Sedikitnya taman membuat kota yang tak pernah tidur ini menjadi sangat panas dan tercemar udaranya. Trotoar pun semakin menyempit saking banyaknya kendaraan. Kemacetan sudah menjadi menu utama setiap hari di kota ini. Walaupun demikian sebagian besar orang mengatakan, Jakarta adalah kota yang menjanjikan semuanya, banyak orang dari segala penjuru Indonesia berduyun-duyun untuk mencari sesuap nasi di Ibukota.
Tapi aku tidak sependapat dengan pernyataan itu. Masih banyak orang di Jakarta yang terkatung-katung tanpa tempat tinggal, hidup di kolong-kolong jembatan bak sampah yang terbuang dan bahkan sampai pakaian saja tidak punya. Orang-orang besar di negeri ini selalu mengembor-gemborkan janji perbaikan taraf hidup rakyat. Namun, sampai detik ini tidak ada sebuah realitanya. Yang kaya semakin memperkaya diri, dan yang miskin semakin tersisih. Itulah yang terjadi.

Aku bekerja di sebuah Rumah Sakit swasta di Jakarta Selatan sebagai dokter. Dan membantu mengelola sebuah Yayasan yang dibangun oleh sepasang suami isteri. Yayasan ini menjadi tempatku menyalurkan cinta dan citaku. Hatiku tergerak karena sosok Papa dan Mama yang sangat mulia, dengan cinta, kebersamaan dan kepeduliaannya kepada orang lain yang kekurangan. Adik-adik di yayasan ini mencapai 100 lebih dari anak-anak sampai dewasa.

Mama sudah tiga kali Abortus. Tetapi, yang membuatku takjub adalah Mama tetap tegar, sabar, ikhlas dan bersyukur. Pada akhirnya diusia 40 tahun, mama di vonis mengidap Kanker Leher Rahim. Demi keselamatan, kandungannya pun akhirnya diangkat. Di usianya yang hampir setengah abad, mama tidak dikaruniai seorang anak pun oleh Allah. Tapi kesabaran dan keikhlasan pun tetap ada di wajah Mama. Ia yakin apa yang terjadi pada dirinya adalah yang terbaik, dan ada rahasia besar di setiap kejadian. Walaupun tidak punya anak, Mama mempunyai ratusan anak asuh, ini adalah hikmah dari ujian Mama dan Papa.
Papa pun tidak merasa cemas dan kesepian walaupun Allah tidak memberinya keturunan. Mereka berdua percaya anak-anak asuh itu akan memberikan surga bersama Rosulullah, sebagai ganti dari doa anak yang sholeh.
* * *

Dua hari aku tidak ke rumah Papa karena banyak kerjaan di Rumah Sakit. Handphone pun aku matikan. Saat membukanya ada empat pesan pendek yang tertunda. Aku penasaran, empat pesan dari Khoirul, salah satu kakak pengajar di yayasan.

“Mas, ada kabar buruk. Papa masuk RS, Mas diminta segera ke RS, cepat!” empat sms yang sama.
Aku tidak sempat membalas pesannya. Hatiku galau. Takut Papa sudah tiada sebelum aku datang. Aku langsung menuju Rumah Sakit. Lobi menuju ruang ICCU terlihat sepi. Di ujung lorong tampak kerumunan anak-anak sedang berdoa, yang dipimpim oleh Kak Khoirul. Aku langsung menyelonong di antara kerumunan adik-adik.

“Assalamu’alaikum, keadaan Papa gimana Ma?” Tanyaku dengan perasaan was-was.

“Belum tahu mas, tapi kata dokter kritis,” Mama masih tampak tegar, walaupun Papa terbaring bersama selang-selang di seluruh tubuhnya.

Dokter yang menangani Papa pun mengijinkanku menjengguk Papa dengan di temani Mama. Papa yang dulu sangat tegar, kini terbaring tidak berdaya, organ yang lain pun sudah di serang. Sekuat apapun Mama, ia tetaplah tulang rusuk yang bengkok. Tepat jam 10 malam, Papa menghembuskan nafas terakhirnya dengan wajah bercahaya.
Tak ada yang menyangka, semua hanya tinggal kenangan. Mama pun tetap tegar walaupun satu sayap telah terhempas. Kenangan selalu jadi motivasiku untuk melanjutkan cita Papa dan menjaga Mama. Selamat jalan Papa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s