NISAN, DI ATAS TANAH BASAH

(Naskah Gagal Audisi)
NISAN, DI ATAS TANAH BASAH
Oleh: Harjanto Dc

Aku masih ingat satu tahun yang lalu, dia terkapar dengan nafas ngos-ngosan1 di sebuah ruang kecil di sudut bangsal. Ruang isolasi, sebuah ruang khusus untuk pasien yang mengidap penyakit menular. Tuberculosis Paru dengan Suspect KP lama serta Oedema Cerebri, itu info penyakit yang bisa aku tanyakan pada dokter penyakit dalam dan juga dokter spesialis syaraf yang menanganinya.
***

19 Desember 2010
“Assalamu’alaikum,” spontan aku kaget, pagi buta ada tamu mendatangi rumahku, dengan nada terbat-bata.

“Wa’alaikumussalam,” Ummi lebih dulu berlari ke pintu depan dan aku buntuti dari belakang, aku dapatkan seorang wanita setengah baya berdiri di depan pintu dengan nafas satu-satu, lengkap dengan mukena birunya. Tampak raut kegelisahan dalam dirinya. Aku berpikir, mengingat paras yang ada dihadapanku. Aku langsung pegang tangannya yang mulai lemas dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

“Ini benar rumah Dwik,” mulutnya melepas kata dengan sisa tenaga.

“Dari mana Bulik tahu rumahku bahkan tahu namaku padahal aku bertemu hanya sekali, itupun saat aku sekedar mampir ke rumah mbah beberapa waktu lalu,” gumamku dalam hati.

Aku biasa memanggilnya bulik, karena secara urutan silsilah keluarga seperti itulah adanya.

“Dwik, bimbing Bulik sholat subuh, ya!” pintanya kepadaku.

Aku hanya menganggukan kepala dan membawanya masuk ke ruang tamu. Keadaan kian lemah, dan aku takut bulik akan pingsan. Aku dudukkan menghadap kiblat, dengan terus memintaku untuk membimbingnya. “Subhanallah,” terucap pelan dari bibirku, Allah masih menyayangiku, Allah masih memberiku kesempatan untuk berbuat baik.

Sholat subuh pun selesai, dan bulik memintaku untuk membacakan Al Qur’an, beberapa ayat aku bacakan. Mungkinkan hati Bulik merasa tenang, hingga dia tertidur.

Mentari mulai menyapa di balik pohon bambu di samping rumah. Aku bangunkan bulik, dan segera mengantarnya pulang ke rumah. Orang rumah pasti kuwalahan2 mencari bulik. Berjalan beberapa meter, dan aku tidurkan di ranjangnya.

“Bulik dan keluarganya baru tiba 2 hari yang lalu dari Jakarta ke Klaten. Sebenarnya untuk menenangkan diri, sudah hampir setahun belakangan ini keluar masuk Rumah Sakit. Lik War kuliah sambil kerja, sehingga memutuskan untuk perawatan di kampung. Ada keluarga Lik War yang bias merawatnya.” Cerita lik War kepadaku.

Aku pamit pulang setelah keadaan tenang. Aku berjanji pada bulik membelikan Al Qur’an dan buku petunjuk sholat.
***

Hari ahad, kebetulan atau sudah direncanakanNya. Aku mempunyai waktu lebih untuk segera menepati janjiku pada bulik. Aku sempat kebingungan, saat aku tengok dompet, ternyata uangku tidak cukup untuk membeli Al Qur’an yang besar. Aku pun berpikir sejenak, aku teringat pernah membelikan sebuah Al Qur’an besar untuk Ibunya teman. Tanpa pikir panjang dan tanpa malu aku langsung pinjam Al Qur’an itu dulu.

Setiba di rumah mbah, tidak aku temukan seorang pun kecuali bulik Yanti. Kata bulik Yanti, “Mbak Dewi di bawa ke Rumah Sakit.”

Tidak terlalu susah menemukan ruangan bulik, karena hampir seluruh ruangan di Rumah Sakit ini aku hafal lokasinya. Pintu masuk sebelah selatan, tepatnya di dinding sebelah kanan biasanya terpampang daftar nama dan bangsal pasien rawat inap. Bangsal Mina 22, Ny. Dewi alamat Juwiring. Segera aku menuju bangsal Mina, namun tidak aku temukan nama Ny. Dewi di daftar nama bangsal Mina. Aku tanya pada perawat jaga, ruang isolasi yang di tunjukkan oleh perawat jaga siang itu.

Aku tidak terlalu kaget saat harus menuju ruang itu. Ada lik War dan mbah Putri di luar ruangan. Aku bersalaman dengan keduanya, dan Mbah Putri berbisik padaku, kalau bulek memanggil-manggil namaku sedari tadi.

Ruangan kecil berjajar dari 21 sampai 24, empat ruang isolasi yang ada di bangsal ini. Aku masuk perlahan ke kamar 22, sebelum masuk aku pakai masker sebagai pelindung diri. Keadaan yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya. Seperangkat selang terpasang pada saluran pernafasan Bulek, Naso Gastrik Tube (NGT) namanya. Sebuah alat seperti selang panjang yang di masukkan ke dalam lubang hidung hingga sampai tenggorokan sebagai pengganti mulut untuk makan. bulik tidak bisa makan dengan mulutnya, karena bibir luar penuh luka, lidah muncul sariawan pula, dan tenggorokan terasa sakit untuk menelan makanan kasar. Terpasang pula Canul O2 pada lubang hidungnya. Keaadaan tubuh yang penuh selang. Aku menjadi bersyukur saat udara dapat dinikmati tanpa harus membelinya.

Saat aku pegang tangannya, bulik sadar kalau aku yang datang. Batuk yang kian keras dengan nafas ngos-ngosan, suara lirih agak sayup keluar dari bibirnya.

“Dwik, bacakan Al Qur’an ya!” Pinta bulik padaku.

“Ya,” jawabku singkat.

Aku ambil Al Qur’an dalam tas. Surat Al Baqoroh 153-158 mengalir merdu menghiasi seluruh ruangan, dengan nada sedikit sayu aku melantunkannya, hingga buliran mutiara terjatuh dari kelopaknya. Walaupun aku baru dekat dengan bulik tadi pagi, rasanya hubungan kita sangat dekat. Bahkan rasanya kita saling mengenal jauh sebelum hari ini. Memang hubungan kita sebatas keponakan jauh, menurut silsilah keluarga mbah-mbah pendahulu.

Keadaan bulik mulai tenang, aku pamit pulang karena masih banyak agenda yang harus aku selesaikan. Mulai saat itu, tiap waktu longgar aku menjenguk bulik. Tak terasa suasana Mina sedikit lenggang, taman samping bangsal menyambut hangat terik mentari siang itu.
***

20 Desember 2010
Senin, seperti biasa aku shift pagi. Senin ini terasa sedikit sepi, aku minta ijin dokter jaga untuk ke Rumah Sakit melihat keadaan bulik. Kantor dan Rumah Sakit untuk merawat bulik tidak terlalu jauh. Aku bekerja di sebuah Poliklinik 24 jam sebagai tenaga Laboratorium.

Saat aku datang, lik War sedang membacakan Al Qur’an. Aku tidak langsung masuk. Aku mendengarkan lantunan ayat suci dari ruang tunggu pasien. Selama tidak ada aku, lik War dan mbah Putri yang senantiasa menjaga bulik dengan penuh kasih sayang. Sekilas tersirat dari wajah lik War rasa was-was serta takut kehilangan istri yang sangat dia cintai.

Aku masuk ruangan setelah lik War selesai membacakan Al Qur’an. Hari ini keadaan bulik kian memburuk. Keadaan lebih buruk lagi ketika kamar sebelah, isolasi 21 terjadi jeritan sakaratul maut, teman beda kamarnya semalam meninggal dengan identifikasi yang sama dengan bulik.

Kegelisahan tampak pada diri bulik, berusaha melepas Canul O2, melepas jilbabnya, mengeser tubuhnya ke kanan, miring kemudian ke kiri balik lagi, seperti orang akan sakaratul maut.

Hari ini aku tidak membacakan Al Qur’an, karena lik War sudah membacakannya. Aku hanya membimbing untuk senantiasa Ightifar. Aku hanya bisa memberi semangat hidup untuknya, dengan mengingatkan pada kedua anaknya yang masih membutuhkan sosok seorang Ibu. Hani dan Acha terlampau kecil untuk kehilangan seorang ibu. Dua bocah yang belum mengerti apapun tentang arti kehidupan.

Aku hanya berusaha, bukankah Allah menyuruh kita untuk berusaha, tawwakal dan ikhtiar. Bukankah Allah tidak menyukai orang-orang yang berputus asa. Alloh berfirman dalam surat Ar Ra’d ayat 11: “…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…”

Hari makin siang, dan aku tidak bisa lama-lama di Rumah Sakit. Segera aku bangkit kembali bekerja, meninggalkannya sebentar dalam ketenangan dan keterjagaannya.
***

Senin Sore aku kembali menjenguk bulik, Keadaan kian memburuk hari demi hari. Aku menunggu dokter spesialis penyakit dalam yang menangani bulik. Aku penasaran dengan kondisi bulik, keadaan sebenarnya seperti apa?

Dokter spesialis penyakit dalam pun akhirnya visit. Dokter hanya menyarankan untuk banyak berdoa. Rekam medis dari rumah sakit sebelumnya di Jakarta pun tidak terbawa, sehingga semua proses pengobatan mengulang dari awal. Menurut ilmu medis pengobatan TBC tidak boleh terputus, itu yang aku pelajari. Hasil Laboratorium, Radiologi dan CT-Scan mengarahkan diagnosa Tuberculosis Paru dengan Suspect KP Lama disertai Oedema Cerebri3.

Kemungkinan sembuh terlalu tipis, akan tetapi keadaan Psikis sangat mempengaruhi kesembuhan suatu penyakit. Dorongan dan semangat orang-orang di sekitarnya serta keinginan kuat si sakit adalah kunci untuk bertahan selain harus terus berdoa. Aku sedih tapi aku bahagia. Sedih karena sakit yang enggan sembuh, namun bahagia saat-saat kritis bulik dibukakan pintu hidayah mengingat Allah. Sedikit orang yang di mudahkan kembali saat mendekati sakaratul maut.

Dokter pun keluar, aku perhatikan sekujur tubuh mulai kering, layu serta kurus bagaikan setangkai bunga yang lama tidak mendapatkan makanan. Sepeninggal dokter dari ruangan, masuklah serombongan tetangga menjenguk bulik. Aku sangat sedih ketika orang berbondong-bondong menjengguk tidak mendoakan, akan tetapi justru membicarakan si sakit di belakangnya. Kebiasaan yang tidak seharusnya dibudayakan masyarakat.
Tidak terasa sudah hampir 2 jam aku di Rumah Sakit, jam 4 sore harus ngajar4 anak-anak TPQ. Segera aku pamit keluarga dan meninggalkan bulik sementara waktu.
***

Rabu pagi, 22 Desember 2010
Sehari aku tidak menenggok bulik. Bekerja pun aku kepikiran bulik, bagaimana keadaannya? Sudah makan belum? Menangis ataukah tertawa? Pagi pukul 10.00, aku ijin lagi menjenguk bulik. Kamar 21, tampak tawa-tawa kecil mengelilingi bulik, saat aku lihat dari kejauhan. Bulik sudah berangsur membaik setelah beberapa hari kondisinya drop. Aku sedikit lega, NGT sudah dilepas, tersisa Canul O2 melintang di wajahnya yang mulai bersinar. Senyum kecil mulai terlihat di raut wajahnya. Bulik sudah bisa makan nasi dengan sayur, bahkan sampai request makanan ringan. Kebahagiaan terpancar dari suami dan Ibu dua anak itu serta mbah Putri. Aku pun turut bahagia, walaupun aku keponakan jauh di keluarga itu.
Melihat kebahagiaan itu, aku segera berdiri dan kembali ke tempat kerja dengan hati lega serta sedikit rasa was-was. Tapi, sebuah ganjalan ada di pikiranku, apakah ini tanda sakaratul maut? atau memang Allah memberi kesembuhan pada Bulik. Bukannya aku percaya mitos orang tua dulu. “Yen arep mati, biasane gawe seneng keluargane dhisik.”5 Namun segera aku tampik jauh-jauh dari pikiran itu. Semoga ini akan menjadi ini awal yang lebih baik.
Mentari akan segera ke peraduan, mega merah tampak di atas Merapi, mempesona dengan birunya cakrawala. Merapi tampak indah bila di pandang dari belakang Rumah Sakit. Bulik sudah di ijinkan pulang oleh dokter spesialis penyakit dalam, dan proses penyembuhan dilanjutkan dengan rawat jalan. Sore ini bulik akan pulang, aku tidak ikut mengantar pulang.
***

Sabtu, 25 Desember 2010
Dua hari aku tidak melihat keadaan bulik, karena kerjaan sedikit padat. Aku hanya mengandalkan SMS dengan keluarganya, selama dua hari keadaannya tampak baik-baik saja. Sabtu sore saudaranya yang dari Jakarta melihat keadaan bulik. Keadaannya memburuk lagi, beberapa saudara membacakan surat Yaasin di depan tempat tidurnya.
Aku berjalan menuju suara yang terus memanggilku. Aku pegang jemarinya dengan sangat kuat, di iringi lantunan surat Yaasin. Aku berusaha mentalqin bulik untuk bersyahadat, seluruh tubuhnya mulai dingin kecuali bagian leher ke atas sampai ubun-ubun. Aku dekatkan bibirku ke telinga bulik, dengan terus melafazkan kalimat syahadat. Berharap bulik kembali pada Allah dalam keadaan khusnul khotimah. Hingga pukul 22.00, hanya terdengar nafas kering di tenggorokan, udara keluar masuk seakan seret, seperti ada penghalang di antara tenggorokannya.

Seiring waktu terus berputar, aku pamit untuk pulang. Aku biarkan bulik bersama sebagian keluarganya yang terus melantunkan surat Yaasin. Hanya Allah yang tahu apa yang terbaik untuk bulik. Aku sudah mulai lelah, sayup-sayup penglihatan mulai mendera dan tubuhku pun perlu istirahat.

Aku berfikir sejenak, apakah malaikat maut telah siap mengambil nyawanya? Dimanakah malaikat itu? Akankah mengeluarkan ruh dari jasad dengan keras ataukah dengan lembut? Semua yang bernyawa pasti akan mati, tidak sekarang, mungkin esok atau lusa.
***

Ahad, 26 Desember 2010
Seiring adzan subuh berkumandang di segala penjuru, Malaikat pun akhirnya menghampiri, membawa ruh bulik kembali kepada pemilikNya. Derai air mata pun pecah, tak kuasa tertahan. Suami, mertua dan sanak saudara berasa kehilangan. Dua gadis belia yang tidak tahu apapun, hanya cengingisan6 di sudut kamar melihat Ibunya tertidur. Tidur panjang dan tak akan pernah bangun lagi. Air mataku sedikit mengalir di sela-sela garis wajah. Penyelasan yang dalam mengalir dalam darahku.
Kenapa aku tidak menyadari kalau Malaikat sudah bersiap menyambar bak Elang kelaparan di atas ubun-ubun bulik. Tanda sakaratul maut yang sudah di perlihatkan Allah di depan mata tidak aku mengerti. Aku tertunduk dan berdoa semoga bulik mengakhiri dengan lantunan dua kalimat syahadat yang aku talqinkan semalam.
***

Langit pekat serta awan pun menangis mengiring jenazah ke tempat akhir di semayamkan. Nisan, di atas tanah basah menjadi tanda terakhir tiap pusara. Semua telah berakhir, apa-apa yang bernyawa pasti akan mati. Tiga perkaralah yang akan mengikutinya, yaitu ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan anak yang sholeh. Semoga kita semua kembali dalam khusnul khotimah. Aamiin.

Catatan Kaki:
Ngos-ngosan1 (bahasa jawa) : tergesa-gesa
Kuwalahan2 (bahasa jawa) : Kebingungan
Oedema Cerebri3 : Penyakit penyumbatan pembuluh darah otak
ngajar4 (bahasa jawa) : Mengajar
“Yen arep mati, biasane gawe seneng keluargane dhisik.”5 (bahasa jawa) : kalau sebelum mati, biasanya membuat senang keluarga yang akan di tinggalkannya
cengingisan6 (bahasa jawa) : ketawa-ketawa kecil

3 thoughts on “NISAN, DI ATAS TANAH BASAH

  1. Pingback: Mutiara Cintaku | mutiaramutiaracinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s