ketika imajinasi meramu dengan emosi

oleh : harjanto dc

Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 29 April 2012, melakukan sebuah perjalanan ke sebuah kota yang aku benci tetapi terkadang terbesit cinta yang besar, sebuah kerinduan akan kota itu. Jogja. THR Purawisata. Demi sekedar mengasah hati karena beberapa hal yang terjadi di Dunia maya maupun Nyata. Mempelajari ayat-ayat yang tersebar di langit dan di bumi. Dan karena sebuah janji dengan sahabat lama, yang telah mengajariku arti sebuah cita dan impian serta yang mengenalkanku pada segenggam dunia literasi. Dia adalah seorang novelis sejarah, kartunis, puitis, dan suami yang romantis, salah satu karyanya adalah “PENANGSANG”.

Sebuah acara besar yang di adakan sebuah komunitas besar dan menghadirkan seorang sastrawan besar dari negeri ini serta di hadiri oleh beberapa penulis-penulis hebat. Siapa yang tidak mengenal seorang Ahmad Tohari, seorang lelaki yang selalu berpenampilan sederhana. Dan siapa sangka novel Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) pun yang yang lahir tahun 80-an di film kan oleh negeri ini. Proses untuk menjadi penulis pun, sangat tidak mudah, dia mulai sejak masih SR (baca : SD). Dan sampai umur yang mungkin sudah mulai senja, ia masih tetap menulis. Bagaimana dengan kita? Benar kata bunda Leyla beberapa waktu yang lalu, di salah satu threadnya (aku agak lupa thread aslinya) tapi intinya adalah menulis atau jadi seorang penulis adalah sebuah proses yang harus di jalani. Bunda Leyla, butuh 17 tahun untuk bisa benar-benar jadi seorang penulis.

Salah satu yang di ajarkan Ahmad Tohari dalam bedah sastra tersebut adalah bagaimana beliau menemukan sebuah ide tentang seorang Ronggeng. Tapi saya tidak akan membahas tentang RDP tapi proses yang dilakukan seorang Ahmad Tohari untuk menjiwai setiap karakter yang beliau tuliskan dan berimajinasi serta menemukan greget atau emosi dari setiap imajinasinya.

Imajinasi dan Emosi.

Ketika salah satu indera menangkap suatu hal maka dalam tubuh kita ada beberapa rangsangan saraf yang bergerak. Siapakah yang akan menangkap lebih dulu maka itulah yang menang. Otak atau hati. Nah, ini adalah 2 organ yang saling berdekatan dalam hal bergerak memutuskan sesuatu setelah menerima rangsangan. Kalau secara ilmu biologi, maka otaklah yang akan menangkap respon dari indera, kemudian menggerakan indera yang lain untuk meneruskan. Namun, dalam hal menulis yang bergerak tidak hanya Otak, tapi ada sebuah organ yang sangat berpengaruh, yaitu Hati. Why? Dalam islam, diajarkan hati sangat berpengaruh dalam membentuk karakter setiap individu, bagaimana seorang ini bisa menjadi buruk ataukah baik. Nah, sama halnya ketika seorang penulis berimajinasi, bisa jadi imajinasinya menyimpang atau lurus pada arahnya. Manusia pada dasarnya mempunyai 2 keistimewaan yang bertolak belakang, yaitu akal dan nafsu. Kenapa di atas saya tuliskan Hati bukan Otak, di sinilah fungsinya. Yang dapat membedakan akal dan nafsu adalah hati, bukan Otak. Dan yang dapat membedakan imajinasi untuk lurus dalam sebuah pemikiran yang hebat adalah hati. Serta di sinilah muncul sebuah emosi (greget) dalam setiap imajinasi.

Dan bukankah ayat pertama yang di ajarkan kepada Rosul akhir zaman adalah tentang membaca. Salah satu syarat untuk menjadi seorang penulis adalah tidak pernah berhenti untuk membaca. Membaca adalah tidak hanya membaca buku tapi juga membaca alam sekitar dan kehidupan sosial.

Sebagai seorang muslim bukankah diperintahkan untuk menuntut ilmu hingga liang lahat (mati). Nah, berarti tak ada bosan-bosannya untuk membaca (ayat kauliyah dan ayat kauniyah) serta menuliskannya agar tidak lupa.

Dan yang tak kalah penting adalah bagaimana berbagi ilmu agama tapi tidak menggurui, inilah yang begitu sulit diterapkan. Menjadikan sebuah karya “agamis tetapi tidak Idealis”, aku suka gaya tulisannya Mells Shaliha dalam buku pertamanya “XIE XIE NI DE AI”, bagaimana seorang Mells melukiskan karakter islami seorang tokoh utama Ale, dan menyelipkan beberapa pelajaran tentang kewajiban menutup aurat, pergaulan lawan jenis dan lain sebagainya tanpa sedikitpun menggurui pembacanya. Mungkin kalau settingnya adalah Indonesia yang mayoritas muslim ini adalah biasanya, tapi setting sebuah Negara yang mayoritas non muslim adalah sungguh luar biasa ketika memunculkan sebuah karakter islami disekitar non muslim. (mau tau cerita lanjutanya, beli bukunya! numpang promosi. Pesan sendiri ma kak MEllS ya!).

Pesan terakhir beliau : “Jadilah generasi penulis yang hebat, terus berkarya dan Era saya telah berakhir, kini adalah era kalian untuk berkarya, lahirkan karya-karya yang besar untuk mengangkat negeri ini”

***
27 Mei 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s