Hijrah

Oleh : Harjanto dc

Semenjak hijrah 3 bulan yang lalu, rasanya jalan hidupku berubah 360 derajat. Bagaimana aku harus berusaha prioritasnya kegiatan yang terpenting dari yang terpenting. Dulu sebelum pindah rasanya waktu bisa aku siasati, karena jadwal kegiatan bisa diatur sesuka hati. Namun, sekarang harus jauh hari mengatur jadwal agar tidak bertubrukan dengan yang lain. Organisasi, komunitas, mengajar, bekerja dan belajar tak ubahnya sebuah perjalanan yang terus berputar dalam keseharianku.

Tiga bulan yang lalu,terkadang masih sering memprioritaskan komunitas, dan sering terlambat bekerja. Karena pekerjaan yang terlalu santai sehingga mudah sekali untuk melenakannya. Namun, aku harus mulai berubah. Usiaku kian bertambah banyak, masa anak-anak dan kesendirian akan segera terkikis. Habis. Tak tersisa sedikitpun kalau tidak segera berubah.

Hijrah adalah sebuah perpindahan atau perjalanan dari yang buruk menuju yang baik. Tiga bulan terakhir ini, Allah benar-benar mengujiku dengan waktu luang. Salah satu nikmat yang terkadang mudah sekali melenakan manusia adalah waktu luang. Bagaimana memanfaatkan waktu luang? Apakah hanya akan terbuang untuk hal yang sia-sia?.
***
Ada cerita yang mungkin bisa jadi pelajaran untuk ke depan. Mahasiswa atau siswa sekalipun adalah golongan atau sekelompok orang yang mungkin paling banyak memiliki waktu. Tapi terkadang justru mereka membuangnya sia-sia dengan sesuatu yang sia-sia pula. Memang tak semua mahasiswa, tapi sebagian besar adalah seringkalinya menunda-nunda sebuah pekerjaan atau kewajiban kampus, yang akhirnya adalah menunda sebuah kelulusan dan kesuksesan. Atau mereka lebih gencar mensosialisasikan sebuah organisasi kampus daripada belajar untuk kelulusannya. Secara normal mahasiswa S1 bisa selesai dalam waktu 3,5 – 4 tahun, tapi tak sedikit mahasiswa yang tak selesai-selesai sampai akhirnya drop out. Apa yang salah? Mahasiswanya? Dosennya? Kampusnya? Atau sistem pembelajarannya? Jawaban ada pada diri sendiri. Kembali pada manajemen waktu, pengaturan waktu yang ada. Ketika mahasiswa-mahasiswa ini mampu mengendalikan waktu maka sesuatu sekecil apapun dalam terselesaikan. Kata seorang ulama, “mulailah dari diri sendiri, mulailah dari yang paling kecil,dan mulailah dari sekarang juga. Jangan menunda-nunda!”
***
Prioritas, bahkan dalam islam pun ada pelajaran tentang fikh prioritas. Apa yang harus di utamakan dalam setiap mengambil sebuah keputusan. Ambil manfaat dan madharatnya (keburukan), lebih banyak yang mana? Dulu sering kali, aku memprioritaskan hal-hal yang berhubungan dengan organisasi atau komunitas dari pada pekerjaanku. Tapi kini aku harus sedikit mengubah pikiran, tapi semua hal tetap berjalan.

Hijrah sekarang menjadikanku manusia yang lebih baik. Sebuah ketertiban, dan tidak meng-KORUPSI waktu yang bukan menjadi hak-ku. Waktu bekerja adalah ibadahku. Dan waktu yang lain adalah komunitas serta untuk anak-anak yang sangat aku cintai. Yang menjadikan PELANGI dalam keseharianku. Keep Istiqomah.

Klaten, 29 Mei 2012

One thought on “Hijrah

  1. Pingback: Mutiara Cintaku | mutiaramutiaracinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s