The Lost Java ?

oleh : harjanto dc

Mbolang hari-1
Jumat, 6 Juni 2012
Ar Royan, Solo

Dua buah hadiah istimewa dari seorang Kun Geia, penulis novel “The Lost Java” yang baru terbit Juni 2012. Pertama, Siang yang cukup menyengat dengan ruang laboratorium kepenulisan yang menyesakkan. Semua unsur dalam tulisan di buat dalam percobaan dari awal sampai akhir. Proses perkenalan sampai ending yang sesuatu banget. Sebuah bedah buku yang tidak membedah buku, namun di jadikan sebuah laboratorium yang sangat unik, dan baru kali ini rasanya mengikuti sebuah pelatihan yang menjadikan audiensnya seorang praktikan semua.

Seorang lelaki dengan simpul senyum manis yang selalu ia lontarkan dari sisi kanannya kepada semua praktikan, tiba-tiba menjadikan semua praktikan anak-anak yang “AROGAN”. Ini adalah sebuah konspirasi yang dilakukan seorang Master Kimia jebolan UGM itu kepada kami. Laki-laki kelahiran Garut, 27 tahun silam adalah bagian dari FLP wilayah Yogyakarta. Datang ke Solo untuk menghadiri walimatul ‘Ursy kerabatan, namun menyempatkan untuk kerjasama dengan FLP Soloraya, berbagi bagimana dia membuat suatu naskah yang berbeda, tidak mengekor pada penulis lain.

“The Lost Java“ adalah buku yang indah menurutku. Bagaimana penipuan demi penipuan yang dilakukan penulis kepada pembaca dari bab ke bab sangat menarik untuk mengakhiri membaca buku ini. Penokohan yang kuat, alur cepat yang berpacu dengan adrenalin, setting yang detail, pembelokan sebuah cerita yang mencabik-cabik pembaca, dan ini yang penting mempertahankan Emosi pembaca. Kata lelaki yang selalu memeakai topi di ruangan itu, “Sebuah penulis gagal ketika menjadikan emosi pembaca berhenti sebelum buku itu selesai di baca.” Alasannya, bisa jadi pembaca tidak kuat dan merinding atau semua gejolak perasaan muncul yang menjadikannya takut untuk meneruskan membaca buku tersebut.

KONSPIRASI dan AROGAN menjadi titik temu pada laboratorium Ar Royan, dan aku teringat saat PELANGI mendatangkan seorang Dezna, penulis dari penerbit Bentang satu tahunan yang lalu. Dia pun hampir sama gayanya. Memunculkan emosi kita, untuk Arogan, berkonspirasi untuk membuat naskah yang hebat. Dan itu pun sama juga saat pelatihan bersama pak Ahmad Tohari penulis Novel Ronggeng Dukuh Paruk, 29 Mei 2012. Bagaimana emosi yang di dapatkan saat beliau terinspirasi dari sosok Ronggeng. Melihat seorang penari yang telanjang bulat mandi di kali.

https://mutiaramutiaracinta.wordpress.com/2012/05/27/ketika-imajinasi-meramu-dengan-emosi/
***
Kedua, saat break, setelah sholat ashar, aku dan beliau sharing. Alhamdulillah, kado sore itu sangat istimewa. Dia bercerita, “Suatu cerita ada seorang tua yang menghabiskan masa hidupnya hanya sebagai penunggu dan peniup bara api yang ada di pesawat, dia tidak boleh keluar dari pekerjaannnya, dan perusahaan tidak mau memecatnya. Suatu ketika dia merasa malas dan sangat bosan. Suatu ketika orang tua tersebut bertemu dengan seorang penumpang, dan dia bertanya kepada si tua.

“Sudah berapa lama, bapak bekerja?”

“Asal bapak tahu, seumur hidup saya menunggui bara api ini.” Jawab si tua seakan tak terima dengan keadaan.

“Tahukah pak? Berapa orang yang sudah bapak antar kemana-mana dengan pesawat ini, tak terhitung jumlahnya. Harusnya bapak bersyukur, manjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain. Walaupun terkadang kita tidak menyadari apa yang dilakukan ternyata banyak manfaatnya untuk orang lain. Bukankah islam mengajarkan, “Sebaik-baik kamu adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain.” Dan janganlah bapak menyesal dan mengeluh dengan keadaan ini.” Dengan panjang lebar seorang pengusaha tadi menjelaskan manfaat kepada si tua.

Si bapak tua merasa tertusuk duri, sakit ketika dia ingat akan keluhannya beberapa waktu yang lalu, air matanya pun tiba-tiba pecah dan sujud syukur menyertainya.

Aku pun teringat akan keputusan yang telah lewat 4 bulan yang lalu, aku yang berpikir sama seperti bapak tersebut, merasa pekerjaanku tak sesuai dengan ilmu yang di pelajari, aku jadikan sebuah alasan untuk hijrah. Namun, bukan penyesalan, tapi sebuah perbaikan diri untuk tatap bertahan di tempat yang sekarang.

Sore yang sepi. [ ]

One thought on “The Lost Java ?

  1. Pingback: Mutiara Cintaku | mutiaramutiaracinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s