SALAHKAH, JIKA AKU ‘BEDA’ (Part 2)

SALAHKAH, JIKA AKU ‘BEDA’
In Memorian Yudis
By : Harjanto dc

“Dapat sampel nggak?” Selidik beberapa rekan kerjaku.

Mereka penasaran, aku yang notabene-nya anak baru, seringkalinya mengambil pasien normal saja kadang meleset, apalagi ini seorang pasien spesial.

“Bisa. Dia diam.” Jawabku datar, seolah Yudis adalah laykanya pasien-pasien normal yang lain.

“Masa! Nggak mungkin.” Celoteh teman yang lain.

“Iya. Yudis diam. Nurut lagi.” Balasku meyakinkan mereka.

Dalam hati aku bicara sendiri, sebenarnya ada rasa takut, khawatir, sayang dan rasa-rasa yang lain melihat Yudis dengan keistimewaanya. Orang-orang dengan Retardasi Mental, tak seharusnya dijauhi. Retardasi Mental bukanlah suatu penyakit walupun merupakan proses patologik dalam otak yang memberikan gambaran keterbatasan intelektualitas dan fungsi adaptif. Pada dasarnya mereka sama seperti kita, mempunyai emosi, perasaan, kasih sayang dan lain sebagainya. Namun, memang karena walaupun usianya dewasa namun perilaku mereka layaknya anak-anak yang suka bermain.

Yudis memiliki keluarga yang sangat menyayanginya dengan segala keistimewaannya. Yudis anak paling tua dari dua bersaudara. Seorang Ibu yang sangat sabar dan penuh perhatian dengan rizki seorang Yudis yang diberikan Allah untuk dididiknya. Setiap hari bergantian yang menunggu, Ibu, ayah, sepupu, dan yang paling Yudis tunggu adalah sosok adik yang teramat dia sayang. Adiknya bekerja sebagai desain produk di Jakarta.

Yudis dirawat dengan diagnosa DHF (DENGUE HEMORRHAGIC FEVER) atau biasa disebut demam berdarah. Demam Berdarah Dengue adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue terutama menyerang anak-anak dengan ciri-ciri demam tinggi mendadak, disertai manifestasi perdarahan dan berpotensi menimbulkan renjatan/syok dan kematian (DEPKES. RI, 1992).

Yudis memiliki fisik yang kuat, kebanyakan dari penderita penyakit ini biasanya lemas, bergerak saja sakit apalagi disuntik, untuk diambil darah. Tapi tidak untuk Yudis, aktifnya luar biasa hebat. Perawat bangsal saja seringkali kuwalahan menghadapi keaktifannya.

Satu hari setelah sampling denganku, Yudis tidak mau diambil darah oleh rekan kerjaku. Padahal kemarin sudah janji padaku.

“Yudis janji ya! mau diambil teman adek.” Pintaku dengan lembut.

“Ya…ya…ya….” dengan menggerak-gerakkan kepalanya.

Yudis selalu melakukan pengulangan kata ketika berbicara.
Sewaktu mengambil darahnya, aku sedikit kesal karena sikapnya, nada bicarapun sedikit meninggi saat bicara padanya.

“Yudis kenapa ingkar janji? Tidak mau diambil teman adek?”

Yudis hanya diam, dengan nafas yang tak beraturan. Sepupunya hanya melihat dan mendengar apa yang kami bicarakan. Saat aku pegang tangan kirinya, tiba-tiba Yudis bertingkah aneh. Yudis yang biasanya nurut menjadi brutal, menepuk-nepuk dadanya dengan tangan kanan dan mengacungkan tangan kiri kepadaku serta menjejalkan kakinya kepadaku yang posisi saat itu berada di sebelah kaki kirinya. Gerakan itu layaknya seorang jagoan yang hendak berkelahi. Melihatku sebagai sosok musuh.

Karena terbiasa menghadapi anak kecil, bukan marah yang aku lakukan padanya. Sepupunya aku suruh keluar. Aku minta maaf padanya. Aku tersadar, apa yang membuatnya marah dan merasa dianiaya. Nada bicara sedikit tinggi tidak disukai olehnya. Kasih sayang dan menjadikan dia temanlah yang dibutuhkan oleh Yudis.

“Adek minta maaf Yudis!” Tangan kanan ku ulurkan padanya.

“Kita teman, ingat kan?” Terus bicara meyakinkan hatinya kembali.
Akhirnya dia pun mulai reda saat kata-kata sayang aku berondong kepadanya, dan mau diambil darahnya. Aku masih ingat saat bertanya pada Ibunya, ditengah-tengah kesibukanku mengambil darah Yudis beberapa waktu lalu.

“Yudis punya teman dirumah, Ibu?” Kulit yang mulai melipat-lipat itu menampakkan kesedihannya.

“Andai saja ada yang mau berteman, Ibu akan sangat berterimakasih kepadanya.” Sepotong kalimat harapan seorang Ibu, yang sangat menyentuh hatiku.

Ingin sekali kalau sudah sembuh, aku bermain dengan Yudis, bukan karena kata-kata Ibu, tapi dari awal bertemu aku menyukai anak ini. Seperti aku menyayangi anak salah satu Guruku yang sangat ku rindukan keberadaannya “IQRA”.

Klaten 31 Oktober 2012
Bersambung….

“Orang-orang Oligofrenia (Tuna Mental) bukan untuk dijauhi, tapi untuk disayang, karena mereka membutuhkan kasih sayang seperti layaknya orang yang normal.” (Harjanto DC, 2012)


Demam Berdarah Dengue adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue terutama menyerang anak-anak dengan ciri-ciri demam tinggi mendadak, disertai manifestasi perdarahan dan berpotensi menimbulkan renjatan/syok dan kematian (DEPKES. RI, 1992).

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium
a. Darah :
– Kadar trombosit darah menurun (trombositopenia)
– Hematokrit meningkat lebih dari 20%, merupakan indikator akan timbulnya rejatan.
– Hemoglobin meningkat lebih dari 20%.
– Lekosit menurun (lekopenia) pada hari kedua atau ketiga.
– Masa perdarahan memanjang.
– Protein rendah (hipoproteinemia)
– Natrium rendah (hiponatremia)
– SGOT/SGPT bisa meningkat
– Astrup : Asidosis metabolic

b. Urine :
Kadar albumin urine positif (albuminuria)

Foto thorax
– Bisa ditemukan pleural effusion.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s