BELUM ADA JUDUL (PART 1)

Oleh : Harjanto dc

Suasana sedikit mencekam, suhu malam mulai mencabik kulit terluar badan Anto yang tidak tertutup jaket. Pondok Tafidzul Qur’an juga sudah terlihat sepi. Sebagian santri sudah terlelap bersama hafalannya. Anto melangkah masuk lewat pintu samping, berjalan di belakang ustad Ahmad yang lebih dulu masuk. Anto sering mampir ke pondok. Saking senangnya mendengarkan remaja yang antusias dengan hafalan Al Quran, serta terbesit keinginan untuk bisa menghafal. Usia Anto sudah menginjak seperempat abad, namun hari-harinya yang terlewat sedikit jauh dari Al Quran.

“Kamu tidur sini?” Tanya ustad Ahmad.

“Tidak. Besok ada agenda.” Jawab Anto sembari membuka kitab-kitab koleksi ustad Ahmad yang tertata rapi di rak.

“Agenda apa?”

“Teman nikah.”

“Lha, kamu kapan?” celetuk ustad Ahmad.

Anto terdiam. Pertanyaan ustad Ahmad bagaikan halilintar di langit cerah. Umur Anto dua tahun lebih tua dari ustad Ahmad. Namun, sampai detik ini tak kunjung juga menikah.

“Ustad duluan saja!” Balas Anto mengalihkan.

Ustad Ahmad tidak menjawabnya, namun tiba-tiba muncul pertanyaan lain dari mulut ustad Ahmad.

“O, Iya, Aira itu teman kamu ya?”

“Aira. Bukan, tapi teman Andri. Temanku yang besok menikah.” Dengan nada datar Anto menjawab pertanyaan ustad Ahmad.

“Bukankah dulu sempat jadi santri ustad Ahmad di Pondok Tafidzul Qur’an yang di Solo?”

“Masa sih?”

“Iya. Seingatku.” Anto berusaha memperjelasnya.

“Menurutmu, Aira itu bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”

“Ya. Agamanya, pribadinya, semuanya-lah.”

“Semuanya baik. Insyaalloh.” Jawab Anto dengan nada datar.

Tak terasa malam telah larut. Anto pun memutuskan untuk pulang, karena esok hari ada acara sakral. Jalanan kota telah lenggang, tak seekor belalang maupun kijang melintasinya. Sunyi. Hanya Legenda kesayangannya yang melaju dengan kecepatan luar biasa, berasa menjadi pemenang malam itu.
***

Malam telah berganti. Fajar telah menyingsing. Semua orang telah siap di halaman rumah Andri. Avansa hitam yang berhias telah siap mengantarkan Andri menuju satu tingkat peubahan dalam hidupnya. Andri adalah sahabat Anto sejak masih duduk dibangku SMP. Karena Nomor urut absen yang berurutan menjadikannya kian dekat ketika ujian sekalipun. Usia mereka terpaut satu tahun lebih tua Anto. Mereka sempat berpisah selama hampir tujuh tahun setelah keduanya melanjutkan SMA dan kuliah di tempat yang berbeda. Dalam reuni SMP beberapa waktu lalu mereka pun dipertemukan kembali, dan sejak saat itu hubungan mereka tampak lebih akrab kembali.

Dreet…Dreeet…Dreettt…. Getaran terasa dari kantong celana Anto. Satu pesan singkat diterima.

“Mz, pagi ini bisa datng ke pondok? Tlng diushkan. Pnting!.”

Anto setengah tidak percaya ada pesan di Handphone-nya, dari seorang yang telah memutuskan komunikasi beberapa waktu lalu. Sejenak Anto terdiam, dan tidak segera membalas pesan tersebut.

Dilihat dan dibacanya lagi pesan itu dengan seksama. Degup jantungnya kian cepat. Detak yang tak seperti biasanya.

Anto berjalan ke belakang rumah, mencari tempat yang sedikit sepi. Menghindarkan diri dari kecurigaan Andri, dan tidak ingin melihat sahabatnya ikut cemas dengan apa yang terjadi padanya.

Handphone itu dipegang, klik tombol menu, jemarinya langsung tertuju pada kontak nama yang tadi kirim pesan padanya. Calling. Tuut…tuut…tuuut… Tidak ada jawaban dari seberang. Raut muka Anto kian pucat, dilapnya peluh yang melintasi pelipis matanya. Akhirnya, Anto putuskan untuk membalas SMS tadi.

“Adik ingat kan ini tgl berapa? Mas Andri kan nikah. Tidak mungkin mas mnggalkannya sekarang. Ini juga mau brngkat. Tidak mungkin mas PP dalam 1 jam. Mas usahkan stelah Aqad Nikah ya?”
Pesan terkirim.

Selang beberapa menit, ada satu inbok balasan.

Kata yang sangat singkat, tanpa narasi. “Ya.”

Pikiran Anto mulai berjalan tidak tentu arah, menyimpulkan jawaban

“Ya” dengan berjuta makna.

Dalam hati Anto bergeming sendiri, “Ini bukan jawaban Aira. Lalu, apakah ada orang lain yang memakai Hp Aira? Ah, entahlah.” Anto memijit dahinya yang sebenarnya tidak sakit.

“Anto, kamu sakit ya?” Tiba-tiba Andri memecah lamunannya.

“Ti…tidak kok.”

“Terus kamu kenapa pucat gitu?”

“Masa sich? Aku tidak apa-apa. Lupakan saja! Ini kan hari bahagiamu.” Anto berusaha menyingkirkan kecemasan sahabatnya, dengan mengalihkan pembicaraan.

Dalam sendiri Anto terus saja berpikir dengan SMS yang baru saja diterimanya. Sebuah pesan yang menurutnya terlalu istimewa. Aira. Pikiran Anto tertuju pada dua nama yang mungkin akan menghampirinya nanti siang.
***

Rumah dengan halaman yang agak lebar, tepat di pinggir persawahan. Pemilik rumah serta para tamu undangan sudah menanti kedatangan Andri dan rombongannya. Menyambutnya dengan penuh rasa syukur.

10.15

Anto duduk disebelah kanan Andri, Ayah serta saksi dari mempelai laki-laki duduk disebelah kiri Andri. Saksi dari mempelai perempuan duduk didepan Andri, sedikit disamping kanan penghulu. Ayah mempelai perempuan serta petugas dari kelurahan disamping kiri penghulu. Dan Shofi duduk dibelakang hijab. Terlihat Andri dengan penuh ketenangan. Namun disebelah kanan Andri, Anto masih memikirkan SMS tadi pagi, dan jantungnya pun berdegup tidak karuan. Takikardi.
Andri yang menikah, namun Anto yang deg-degan.

“Saya terima nikahnya Shofi binti Daliman dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan 10 gram, dibayar tunai.” Dengan lantang Andri melafadzkannya.

Alhamdulillah. SAH. Dari ta’aruf, khitbah hingga hari ini Walimatul ‘Ursy semua berjalan sesuai rencanaNya. Sebuah awal yang akan menjadikan perubahan dalam hidup Andri.

Dengan rasa penuh haru, Anto memeluk tubuh sahabatnya, melemparkan kecupan manis di pipi kanan dan kirinya, mutiaranya pun berjatuhan tidak tertahankan.

“Barrakalloh, sahabatku.” Anto membisikan sebait doa untuk Andri, sebelum akhirnya Anto pamit, menyelesaikan urusan yang sudah menunggunya.

“Aku pamit ya.” Bahagia bercampur kegelisahan, Anto pun meninggalkan sahabatnya.

“Iya. Hati-hati. Semoga urusanmu dimudahkanNya.”

“Aamiin.

Anto berjalan di antara tamu yang berjubel. Hingga sedikit kesusahan untuk bisa sampai di pintu masuk rumah.
***

Legenda pun melaju dengan kecepatan penuh. Yang ada di pikiran Anto adalah segera sampai pondok, bertemu dengan Aira. Mencari jalan tercepat untuk segera sampai.

Bangunan masjid besar yang menjadi pintu gerbang pondok. Ruang administrasi santri putra di sebelah masjid. Tak seorang pun terlihat di area ini. Anto parkir legendanya di halaman samping masjid.

Masuk lebih dalam, mengambil air wudhu kemudian sholat tahiyatul masjid. Berdoa pada Alloh, semoga sms tadi pagi adalah pertanda baik.
Dreeet…drettt…dreeet… satu pesan masuk inbok. Dibukanya dengan perlahan dan bismillah. “Sdh sampai mz?”

“Sudah, Mz di masjid, sbnrnya ada apa?”

“Gpp.” Sebuah balasan singkat lagi, yang menjadikan Anto semakin bertanya-tanya.

Waktu pun terus berlalu, namun Aira atau pun orang lain tak ada juga yang menghampirinya di masjid. Resah. Anto menenangkan hatinya dengan membaca mushaf yang ada di dalam masjid, hingga waktu dzuhur pun telah tiba. Namun, tetap sama tak ada seorang pun yang menghampirinya.

Anto mencoba menghubungi nomor Aira, namun kali ini nomor Hp-nya tidak aktif. Resah bercampur gelisah. Prasangka pun mulai merebak di pikiran Anto.

“Assalamu’alaikum….” Segenggam doa menyelamatkan Anto dari prasangka.

“Wa’alaikummusalam ustad.”

“Jangan panggil saya ustad. Belum pantas.”

“Bukankah ustad itu guru artinya, dan siapa pun pantas disebut guru ketika dia memberikan tauladan yang baik.” Anto mencoba memuliakan teman sepondoknya dulu.

“Na’am. Ada kabar apa, tiba-tiba mampir ke pondok?”

“Tidak ada apa-apa, mampir saja sahabatku.” Sambil berdoa, semoga Alloh mengampuni kebohongannya kepada Hanafi.

“Begitu ya?”

“Iya.” Singkat percakapan itu terhenti. Adzan Dzuhur berkumandang seantero kota itu.

Sholat dzuhur pun selesai, Hanafi mengajak Anto ke ruang administrasi santri putra. Untuk sekedar berbincang-bincang, karena sudah lama mereka tidak bertemu. Hanafi mencium sesuatu dari nada bicara Anto. Hanafi sangat mengenal sahabatnya.

“Jujurlah! Apa maksud kedatanganmu ke pondok?”

“Jujur apa tho? Aku hanya silaturahim saja, Fi.” Anto masih berusaha menyembunyikan maksudnya.

“Aku tahu siapa kamu, Anto.”

“Baiklah, tapi tolong jaga rahasia ini ya!”

“Insyaalloh.”

Anto pun kemudian menunjukan sms dari Aira kepada Hanafi, serta menjelaskan semuanya panjang lebar, hingga akhirnya sampailah Anto di Pondok.

“Aku sudah menebaknya, pasti karena Aira. Kamu tak bisa membohongiku, Anto.”

“Aku harus bagaimana? Sampai detik ini aku sudah banyak prasangka padanya, karena nomor Hp-nya nonaktif.”

“Aira. Kalau tidak salah lihat, tadi pagi ia ijin ustadzah untuk pulang.”

“Benarkah? Terus maksud sms tadi pagi apa? Atau jangan-jangan bukan Aira? Atau jangan-jangan ustad Ilyas?”

“Hush. Kamu ngawur? Tidak boleh berprasangka buruk.” Hanafi mengingatkan Anto.

“Astaghfirulloh…, Semoga Alloh mengampuni dosaku.”

“Ya sudah, supaya jelas kita pergi ke rumah Aira, menyusulnya.” Ajak ustad Hanafi.

“Iya, tapi….”

“Tapi. Tapi apa Anto?”

“Aku tidak tahu pasti alamat rumahnya.”
Anto pun berpikir sejenak. “Iya, aku ingat, ada nomor Hp bang Ari. Kakak Aira. Tanya saja alamat rumahnya pada bang Ari.”

“Alhamdulillah.” Jawab ustad Hanafi.

Bismillah. Legenda pun melaju dengan tenangnya. Namun hati Anto terus saja Takikardi. Menyisir kota Solo bagian utara.
***

Palang pintu kereta api. Biasa disebut palang kereta Joglo. Kadipiro. Yup beberapa menit lagi sampai di Kadipiro. Tanah kelahiran Aira. Sesuai intruksi bang Ari, sampailah Anto dan ustad Hanafi di sebuah perkampuangan padat penduduk. Tidak ada rumah yang memiliki pekarangan, semua tampak bangunan tempat tinggal. Rumah yang tak terlalu besar, dengan pintu tertutup. Anto mencoba sedikit masuk ke dalam untuk mengetuk pintu, dan ustad Hanafi menunggu di dekat Legenda.

“Assalamu’alaikum….”

“Wa’alaikumusalam warrohmatullohi wabarrokatuh…” suara lembut terdengar dari balik pintu kayu.

Dibukalah pintu itu, seorang wanita setengah baya keluar dari dalam rumah. Gamis biru laut dengan stelan jilbab yang sama pula menutup seluruh tubuhnya.

“Madhosi sinten nak?”

“Aira wonten, ibu?”

“Aira, Mboten wonten.”

Jawaban Ibu Aira, semakin menjadikan hati Anto tidak tenang. Pencariannya hari ini, ternyata tidak terhenti di Kadipiro. Tak ditemuinya juga Aira di rumahnya.

“Ibu, mangertos Aira wonten pundi?

“Nggih, datheng pondok karanganyar.” Jawab ibu.

“Bagaiamana Ustad?”

“Sudah kepalang basah, susul saja ke pondoknya, atau suudzon akan terus mengalir di hati dan darahmu.”

“Baiklah.” Jawab Anto singkat.

“Kulo sak rencang pamit nggih bu. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumusalam…atos-atos nggih.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s