mutiara cinta

MUTIARA CINTA
Oleh : Harjanto dc

“Hentikan Ummi…”

Rindu tidak pernah sekalipun membentak seorang yang biasa ia panggil dengan sebutan Ummi. Mutiara-mutiara itu mulai menggelinding jatuh dari kelopak matanya. Suasana kamar sedikit tenang. Hening.
Ummi meninggalkan kost Rindu dengan simpul wajah kekecewaan. Rindu masih duduk bersimpuh dengan mutiara yang terus mengalir dari kedua matanya. Pintu kamar masih terbuka selepas kepergiaan Ummi. Dan seolah kata-kata yang baru saja terucap dari bibir Ummi terus menggema di dalam kamar.

“Pergiii!” Teriak Rindu sambil menutup kedua genderang telinganya.

Hisan tiba-tiba muncul dihadapan Rindu. Tanpa salam Hisan sempoyongan mendekati tubuh Rindu yang kian lemas.

“Ada apa Rindu?” Hisan mencoba menenangkan hati sahabatnya.

Rindu masih tetap dalam posisinya, tidak pindah sedikit pun. Mutiara itu terus mengalir tidak terbendung. Entah apa yang sudah terjadi, bibirnya masih kelu untuk mengungkap semunya.

“Berdirilah Rindu!” Hisan memapah tubuh yang berlumur peluh dan air mata.
Seiring isakan yang kian menjadi, Rindu memeluk tubuh Hisan. Lirih Rindu berbisik pada Hisan.

“Aaku…Aaa….”
Belum sempat Rindu membisikan, tubuhnya sudah terjatuh dalam dekapan Hisan. Tidak sadar.
***

“Ummi tega.” Dengan nada sedikit meninggi, Rahmat menimpali pengakuan Umminya.

“Semua demi kebaikanmu, bang.” Kata Ummi membela diri.

“Kebaikan yang mana Ummi?” Rahmat masih keras kepala.

“Ummi membesarkannya hingga menjadi perempuan yang sholehah. Perempuan yang taat kepada orangtua. Lihatlah! Laki-laki mana yang tidak tertarik pada adikmu? Apakah Ummi salah menginginkannya menjadi menantu di rumah ini? Sudah saatnya adikmu membalas kebaikan Ummi. Sudah ikuti kata-kata Ummi!” Semua diam.

Ummi pun meninggalkan ruang keluarga, berharap Rahmat memikirkan kembali penolakan rencananya. Rahmat pun segera ke rumah sakit. Rahmat seorang dokter spesialis saraf.
***

Ruang jingga yang cukup luas, tepat sepandang mata sebuah televisi kira-kira dua puluh sembilan inci tergantung diatas. Kamar mandi di pojok sebelah kiri bersebelahan dengan pintu masuk depan. Almari kecil di kiri tempat tidur. Sofa panjang disebelah kanan tempat tidur, tepat dibawah jendela yang bersebelahan dengan pintu masuk belakang.

Duduk termenung seorang diri diatas sofa abu-abu, seorang perempuan tinggi, tubuh agak besar serta berjilbab biru, sesenggukan bersama mutiara yang sedikit mengalir di pipinya. Hisan. Miftahul Khairati Hisan nama lengkapnya, sahabat karib Rindu.

Telunjuk kanannya tiba-tiba bergerak pelan diikuti seluruh jarinya serta kedua matanya sayup terbuka. Sadar.

Diraihnya tangan kanan Rindu. Rindu Rahmawati nama lengkapnya. Dengan penuh hangat dieratkan jemari kedua telapak tangannya. Hisan tak ingin melepaskan sekejap pun, seiring mengusap butiran-butiran kecil dari kedua bola matanya.

“Alhamdulillah….” Terucap lirih dari bibir sahabatnya.

Sembari terus merekatkan jemari, dipeluknya tubuh Rindu yang mulai sedikit demam. Terdengar lirih suara dari bibir manis perempuan yang baru genap berusia dua puluh satu tahun itu.

“Dimana aku? Siapa kamu?” Hisan sedikit melonggarkan genggaman jemarinya, berpindah memegang wajah yang masih tampak lesu didepannya.

“Astaghfirullah….” Hisan sedikit tercekat dengan kata pertama yang terucap dari bibir sahabatnya.

“Ini Hisan. Sahabatmu.”

“Hisan. Siapa?”

“Hisan. Teman masa kecilmu.” Sekuat tenaga meyakinkan, namun Rindu tetap tidak mengingat siapa itu Hisan.

Hisan pun terperanjat, serta terus melafazkan asma Allah dan keluar menuju ruang keperawatan, memberitahukan keadaan sahabatnya. Gemuruh dihatinya terus bertanya-tanya. Apa yang yang terjadi dengan Rindu?
***

“Alzhaimer. Tidak mungkin. Dokter pasti bercanda.”

“Baru gejala dokter Rahmat.” Dokter Ibrahim menegaskan penyataannya.
Rahmat memukulkan kepalan tangannya ke tembok di sebelah pintu kamar bangsal ZamIII.

“Adikku hobi membaca dan menulis, sejak kecil selalu juara. Bukankah Alzhaimer itu penyakit pikun pada orangtua? Dan Adikku, usianya baru genap 21 tahun. Usia yang masih belia untuk mengidap penyakit itu.” Tatapannyanya kosong selepas dokter pergi.

Tiba-tiba Ummi menepuk pundak Rahmat dari belakang, dan spontan Rahmat memeluk tubuh Umminya dengan sedikit leleran mutiara mengalir dari pipinya.

“Apa yang terjadi, bang?”

“Dik Rindu. Ummi.”

“Adikmu kenapa?”

“Adik mengidap Alzheimer.” Rahmat terdiam.

Ummi pun terdiam, tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Hening. Beku. Suasana hati kian sunyi seiring bangsal yang mulai sepi pengunjung.

“Ummi…mii…,” dari dalam kamar terdengar sayup suara yang memecah keheningan di lobi bangsal.

“Iya. Ummi disini Rindu.”

Ummi berlari meninggalkan Rahmat yang dilanda kekacauan hati dan pikiran. Rindu mengigau. Hanya nama Ummi yang ia pikirkan. Seorang yang sangat ia hormati dan cintai.

“Sabar Ummi.”
Hisan mendekati perempuan separuh baya yang ada di depannya. Saking akrabnya degan Rindu, Hisan pun sering memanggil Ummi Rindu dengan sebutan Ummi juga. Ummi terus menggenggam erat jemari dan menatap wajah yang tampak layu dihadapannya.

“Semua salah Ummi.” Gerutu ummi dengan sesekali sesenggukan.

“Maksudnya apa, Ummi?” Selidik Hisan penasaran.

“Tidak…tidak ada apa-apa, Hisan. Pulanglah! Terimakasih sudah menjaga Rindu. Maaf bukannya mengusirmu, tapi Ummi ingin berdua dengan Rindu.”

“Baiklah Ummi, Hisan pamit. Assalamu’alaikum….”

“Wa’alaikumussalam warrohmatullahi wabarrokatuh.” Ucap Ummi lirih.

Hisan meninggalkan kamar rindu, membiarkan dua hati berbicara dengan bahasa jiwa.
Rahmat masih di lobi, duduk bersandar tembok ruang ZIII. Menekuk kedua kakinya, serta menempelkan kedua tangannya di kepala. Rahmat masih belum bisa menerima nasib adiknya. Adik yang sangat disayangi sejak kecil. Sejak ia menjadi bagian dari keluarganya.
***

Seminggu pun berlalu, Rindu sedikit membaik serta sudah diperbilehkan pulang. Tiba-tiba ia mengenal semua orang yang ada di sekitarnya. Karena baru gejala Alzhaimer, amnesia yang dialami Rindu pun sesekali sembuh dan sesekali kambuh.

Langit senja telah tampak dikejauhan. Duduk termenung berhampar rumput hijau yang seolah menguning karena cahaya senja. Gamis serta jilbab merah jambu menutup seluruh tubuhnya. Pandangannya kosong ke langit senja.

“Sedang apa nak?” Suara lirih menggempur lamunan Rindu.

“Eh, Ummi. Sedang duduk saja kok.”

“Boleh Ummi duduk?” Dengan penuh kehati-hatian Ummi rangkai kata-demi kata.

“Kenapa harus minta ijin Rindu Ummi?”

“Rindu. Ummi mau bicara.” Kedua tangan Ummi menggenggam tangan Rindu, dengan tatapan penuh kasih sayang.

“Tentang apa Ummi?”

“Tentang kata-kata Ummi kemarin?”

“Sudahlah Ummi, tidak usah dibahas lagi!” senyum simpul penuh kesedihan dilempar kepada Ummi.

“Tidak Rindu. Ummi minta maaf. Semua salah Ummi. Ummi egois. Apakah masih pantas Ummi menjadi orang tua yang baik, setelah perlakuan Ummi kepadamu. Jujur Ummi takut kehilangan Rindu. Ummi lupa, niat awal menjadikan Rindu dalam keluarga kami. Karena kami ingin mempunyai anak perempuan.” Dengan penuh cinta dan kasih sayang, Ummi berusaha menjelaskan semuanya, bahkan butiran-butiran bening pecah diantara tatapan keduanya.

“Cukup Ummi. Tak sepantasnya orang tua meminta maaf pada anaknya. Apa yang dilakukan orang tua pastinya mempunyai beberapa pertimbangan sebelum mengadilinya. Bukankah dari kecil Rindu selalu nurut kepada Ummi, tidak pernah sekalipun perintah Ummi terabaikan. Namun kali ini, dengan berat hati Rindu tidak bisa memenuhi permintaan Ummi. Tidak mungkin Rindu menikah dengan orang yang dalam hati adalah kakak. Semoga Ummi memakhluminya.” Mutiara-mutira cinta terus berjatuhan seiring pengakuan Rindu.

“Iya, benar apa yang Rindu katakan. Kemarilah peluk Ummi sayang!”

“Walaupun Rindu bukan anak kandung Ummi, tapi sampai kapan pun Rindu akan tetap jadi anak Ummi.” Disela kebahagiaan terbisik sebait kata dari bibir Rindu di telinga Ummi.

animated gifs

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s