Orang yang Tersisih

ORANG YANG TERSISIH
Oleh : Harjanto dc

Legenda itu menepi. Tepat di perempatan yang agak zig-zag. Ada seorang tua yang sedang menyapu lantai depan rumahnya, tepat di sudut jalan sebelah kiri. Sepanjang jalan tidak ada orang lagi, laki-laki kurus itu satu-satunya orang yang bisa ia ajak bicara. Dengan wajah sedikit letih, serta nafas yang kejar mengejar, Ryan turun dari Legenda kesayangannya. Pelan. Ryan melangkah ke arah laki-laki itu.

“Pak…Pak…Pak!” sampai tiga kali Ryan memanggil, namun bapak itu juga tidak mendengarnya.

Baru yang ke empat kalinya, Ryan mencoba memanggil sambil sedikit memegang bahu si bapak. Sungguh di hati Ryan tampak sedikit keraguan untuk melanjutkan niatnya. Sempat muncul prasangka buruk di hati Ryan, namun disini sudah tidak lagi ada orang yang bisa membantunya. Dengan melafadzkan Basmallah sedikit pelan, Ryan yakinkan hatinya kalau prasangka buruknya salah.

“Wonten nopo, mas?”1 Tiba-tiba orang tua tadi memecah lamunan Ryan.

“O…Nggih Pak. Nyuwun Pangampunten. Bapak mboten saget ningali nggih?”2 Dengan nada lembut, Ryan mencoba bicara dengannya. Takut kalau kata-katanya akan menyakiti si bapak.

“Nggih mas, lha wonten perlu menopo?”3 Bapak itu tidak marah atau bahkan tidak tersinggung, justru ia bangga tentang kesempurnaan yang diberikan sang pencipta padanya. Tanpa ada rasa minder sedikit pun.

“Kulo meniko nyasar pak. Jalan ten Karanganom-Jatinom meniko pundi nggih?”4 mungkin semua orang akan menganggap Ryan gila, bertanya jalan pada orang yang tak bisa melihat jalan.

Tapi sungguh, keyakinan yang mematahkan prasangka buruknya tentang si bapak membawa pada kebenaran.

“Nggih mangertos mas.”5 Jawab si bapak dengan lantangnya.

“Pundi pak?”6 Dalam hati, Ryan merasa kalah dengan kesempurnaannya dalam bab indera.

“Prapatan meniko ngiwo, wonten Perempatan POM Bensin ngiwo malih, wonten lampu Bang Jo nengen. Lempeng terus tekan protelon ngiwo. Wonten kelurahan Padas, lempeng malih kelurahan Jungkare. Lempeng sepindhah Kelurahan Karanganom.”7 Dengan panjang lebar, si bapak menerangkan tanpa kurang sedikit pun.

“Nggih, matur suwun pak. Ngapunten sampun ngewohi wekdhalipun.”8 Ryan pun menuju Legendanya yang terparkir 3 meter dari tempatnya berdiri.

“Sami-sami, ngatos-atos nggih.”9 Sudah menolong masih mendoakan.
***
Pelajaran yang sangat berharga untuk hari ini. Jangan pernah anggap sebelah mata orang-orang yang kekurangan. Justru dalam kekurangan itu Allah menjadikannya lebih. Seperti kisah diatas, bahkan mungkin orang yang lengkap indaranya pun belum tentu bisa memberikan penjelasan yang rinci dan lengkap mengenai sesuatu. Terima kasih Bapak, siapun namamu. Allah yang akan membalas kebaikanmu.
***

orang buta

Catatan kaki :
1 Ada apa mas?
2 O..iya. Maaf. Bapak tidak bisa melihat ya?
3 Iya, ada perlu apa?
4 Saya itu tersesat, tahu jalan ke Karanganom-jatinom?
5 Ya tahu mas.
6 kemana pak?
7 Perempatan selok kiri, bertemua perempatan POM Bensin belok kiri lagi. Ada perempatan Lampu Merah ambil kanan. Lurus sampai pertigaan ambil kanan. Ada desa Padas, Lurus lagi Desa Jungkare, Lurus sekali lagi itu Desa Karanganom.
8 Iya, terima kasih pak. Maaf sudah mengganggu waktunya.
9 sama-sama, ati-ati ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s