Sebuah Harap By: harjanto dc

Sebuah Harap
By: harjanto dc

“Menggali sebuah kisah dalam perjalanan hidup selayaknya mengarungi samudra yang tak terbatas. Disaat kepenatan melanda jiwa, tergulir satu waktu yang menentramkan hati.”
***

Alhamdulillah, namaku ada dibarisan peringkat teratas. Dan aku tidak percaya bakalan lulus tahun ini. Aku pun spontan bersujud di depan papan pengumuman, mengalirkan semua kerinduan dan kasih sayang atas kebesaran Allah. Kemudian bangkit, dan berlari memotong kerumunan mahasiswa yang mungkin hatinya juga sama, bersyukur dengan cara masing-masing.

Beberapa sahabatku sedang merayakan keberhasilannya di bawah pohon beringin yang menjadi tempat favorit untuk belajar. Yang menjadi salah satu tempat kebanggaan kita.

“Ola, Sinta, Beny… Aku lulus tahun ini.” Rani pun berteriak sambil memeluk, menabrakkan badannya ke mereka. Dan sempoyongan, hampir terjatuh.

“Iya Rani, alhamdulillah kami juga lulus.” Sahut Ola.

“Aku lapar nich, makan yuk!” Sambung Sinta yang memang hobi makan.

“Hmm, gimana ya…sepertinya aku ingin langsung pulang.”

“Ayolah Rani, tidak ada salahnya kita merayakan ini kan?” tambah Beny meyakinkan semuanya.

“Oke dech.”

Semua terwarna dalam spektrum cinta. Tidak ada hal yang lebih indah dari persahabatan. Suka, duka bercampur dalam hati, menghiasai setiap langkah dalam mengarungi hidup. Langit senja mulai menguning, tersebar cahaya merah di ufuk barat. Purnama akan segera menyambut dengan kelapangan.
***

Perjalanan panjang menyusur jalan berkelok, ada yang sedikit curam, tajam serta landai. Terlihat atas bukit yang hijau kebiruan. Serta kerinduan akan tanah kelahiran, “Akhirnya aku pulang Ibu.” Sembari memeluk selembar kertas kelulusan.

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumussalam…” Tidak hanya satu orang yang menjawab salam, namun beberapa orang ada di dalam rumahku.

“Lhoh, Budhe, Pakde, Bulik dan beberapa tetangga ada di rumah, wonten acara nopo?” Rani tidak merasakan apapun, nadanya pun datar saja.

Budhe mengajak Rani keluar, dan menjelaskan semuanya pelan-pelan.

“Ibumu nduk.”

“Ibu kenapa?”

“Ibumu sudah tidak ada, ibumu meninggal dunia.” Tubuhnya pun kaku, layaknya petir yang menyengat sekujur tubuhnya.

Dan seketika Rani berlari menuju jasad ibunya, dengan berlinang mutiara-mutiara cinta, dengan masih menggenggam nilai kertas kelulusannya. Berharap ibunya melihat keberhasilan yang telah diusahakan.

“Allah tidak adil…, kenapa Allah mengambil ibu saat-saat seperti ini.” Omongan Rani sudah tidak bisa dikendalikan.
Rani terus saja berteriak “Allah tidak adil…, Allah tidak adil…”

“Allah tidak adil padaku…” itu kata terakhir sebelum Rani tergeletak di jasad ibunya.
Langit akan segera gelap, pemakaman pun disegerakan tanpa Rani. Jodoh, mati, rizki adalah urusan Allah, dan manusia hanya dapat berusaha sampai batas kemampuannya.
***

Seminggu setelah kepergian Ibu, Rani tetap masih mengurung dirinya. Semua keluarga, saudara, sahabat tidak mampu mengobati hatinya. Hingga pada suatu ketika ia menemukan secarik kertas yang terselip di bawah baju-baju yang ada di almari ibu.

Rani enggan untuk membukanya, namun ada dorongan yang selalu menyuruhnya untuk membaca tulisan itu. Rani pun melangkah keluar menuju tempat pengasingan di atas bukit. Dan mencoba membacanya disana.

Untuk : anakku tercinta “Rani”

Assalamu’alaikum…

“Mungkin saat Rani menemukan surat ini, ibu sudah tidak ada di dunia ini lagi. Ibu sudah bersama malaikat-malaikat yang senantiasa akan menunjukkan jalan ke surga. Pesan ini sengaja Ibu tinggalkan untukmu, seandainya kamu tidak menemukan pesan ini setelah Ibu meninggal, maka nanti ibu akan cerita saat kita berada di surga.”

“Jangan jatuhkan mutiara yang berharga itu sayang…”

“Rani, selama ini ibu merahasiakan tentang satu hal. Ibu di vonis kanker rahim stadium empat. Dan mungkin nyawa ibu tidak akan lama lagi. Namun, ibu tidak ingin kamu tahu, karena pasti akan mempengaruhi kuliahmu yang tinggal selangkah lagi.”

“Rani, ibu hanya berharap, anak ibu pulang dengan membawa keberhasilan yang akan mengubah desa kita menjadi lebih baik.”

“Sekarang kamu sudah pulang dengan membawa kesuksesan, maka mulailah dengan hal yang kecil melakukan perubahan itu.”

“Ibu bangga padamu…semoga kamu berhasil dan Ibu berdoa semoga Allah mempertemukan kita di surga.”

“Aamiin.”

Wassalamu’alaikum

“Ibumu”

Mutiara itu pun tak tertahankan, dan terjatuh dari kelopaknya. Menyadarkan Rani tentang apa yang sedang ia ratapi adalah kesalahan yang tidak seharusnya dilakukan.

Rani pun segera bangit dari duduknya. Mengusap buliran-bulihan lembut di sela-sela pipinya. Meregangkan seluruh anggota badannya. Berdiri menikmati panorama keindahan kaki bukit, berjajajar padi yang menguning, siap untuk dipanen. Deretan rumah yang kelihatan atapnya, pepohonan hijau melengkapi sudah keindahan kaki bukit, dan itu adalah bukti kekuasaan Allah.
Rani mulai melangkah, mengambil tempat paling ujung dari bukit itu, tempat paling curam. Ia berdiri, kemudian membentangkan tangannya dan menatap kumpulan gundukan putih yang berbaris di bawah kebiruan. Sembari melepas teriakan, “Aku mencintaimu…”

Jurang itu tidak ada selangkah di depannya, sesuatu hal kecil saja bisa menjatuhkan hingga dasar. Tidak ada seorang pun di atas bukit itu. Yang ada hanya jalan setapak menuju kaki jurang yang sama curamnya dengan puncak bukit. Ia masih berdiri disana, dengan sedikit menurunkan tatapan ke alam yang terbentang dibawahnya. Kedua bibirnya mulai menggerutu, “Allah memang tidak adil padaku, tapi aku yakin ini adalah yang terbaik untukku.”
***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s