“NDOL” FOREVER

“NDOL” FOREVER
by: Harjanto dc

Ngomong-ngomong soal hewan peliharaan. Turun temurun di rumah sederhana ini selalu sepi tanpa mereka. Si bulu lebat dengan empat kaki dan senjata pamungkas cakaran menjadi penghuni yang tak lekang oleh waktu. Dari jaman nenek masih hidup kami selalu memlihara mereka.

Dari si Bayek dan si Ndol (pertama) dua ekor anak kucing yang yatim-piatu karena induknya mati. Sejak lahir diurus oleh ibuku. Ibu menyayangi mereka seperti anak sendiri. Tiap hari diberi susu, disiapkan makan, dibuatkan tempat buang air dan kotorannya.

Seiring mereka besar. Bayek yang tidak pernah pergi dari rumah, tiba-tiba jalan-jalan dan itu adalah kali pertama Bayek pergi dan tak pernah kembali. Tinggalkan si Ndol (pertama ) seorang diri. Ndol (pertama) seolah menjadi penguasa, karena tidak ada rekan dalam maenghabiskan makanannya.

Ndol (pertama) pun tumbuh menjadi kucing dewasa dan seperti layaknya manusia. Ndol pun menemukan cintanya, menghilang bersama kucing perempuan tetangga.
Rumah ini sepi kembali tanpa mereka berdua, mereka adalah kesayangan adik laki-laki ku.

***

Selang beberapa bulan, entah sepertinya kucing-kucing liar itu tertarik dengan rumah ini. Makanan mungkin atau kasih sayang. Seekor induk kucing dengan tiga ekor anak mendatangi rumah kami. Warnanya mempesona dan cantik. Dua betina, dan satu jantan.

Adik senang sekali karena ada si manis yang mau tinggal di rumah. Adik memberinya nama Ndol untuk semua kucing kecil itu. Sebagai penghormatan atas Ndol yang pertama.

Ketiganya tumbuh dengan kasih sayang seperti yang Ndol (pertama) dan Bayek dapatkan dulu. Suatu ketika ada yang meminta kucing itu satu. Tapi kami tidak pernah memberikannya pada orang lain. Selang beberapa waktu, ada satu yang sakit dan akhirnya mati. Adik terlalu sedih kehilangan satu teman mainnya, namun semua itu cepat sirna karena kedua Ndol itu mampu memberikan tawa padanya.

Tersisa dua, karena semakin besar dan mereka makannya banyak, akhirnya yang betina diberikan kepada orang lain dengan rasa penuh kehilangan.

Ndol (kedua) menjadi kucing seperti Ndol (Pertama) penguasa, dan menang sendiri atas apa yang ada di rumah ini. Mungkin mengalami kebosanan yang mendalam, akhirnya Ndol pun mulai jarang pulang, kami tidak pernah tahu dia kemana. Mungkin karena posisi dia diambil alih oleh beberapa anak kucing yang tiba-tiba tinggal di rumah kami. Ndol (Kedua) adalah kucing paling penurut yang kami miliki, apapun yang dikatakan Ibu ia pun turuti. Ibarat manusia saat dimarahi, ia pun tertunduk diam.

Dan Induknya adalah kucing paling ngerti tatanan dan kesopanan, ketika meminta makan tidak naik meja akan tetapi mengeong dan mengangkat satu kakinya untuk memberi isyarat. Mungkin Ndol (kedua) mendapat ilmu dari genetik induknya.

Kini Ndol pun sudah hampir sebulan ini tidak kelihatan. Dan yang masih tinggal di rumah Induk dan beberapa adik Ndol.

Lalu…

Nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan? Saat hewan yang tidak punya akal pun bersikap layaknya manusia dalam menjalani hidupnya.

*salamNdol*Meong*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s