(Rizki) Silaturahim

(Rizki) Silaturahim
By : Harjanto dc

Sampailah di sebuah bangunan sederhana. Saat memasuki sebuah pagar besi coklat muda setinggi kira-kira 2 meter. Halaman cukup luas dengan dua pohon jambu air di depannya.

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumussallam warrohmatullah…” Terdengar jawaban seorang perempuan dari dalam rumah dengan cat yang hampir semua mengelupas.

“Bapak wonten, mbak?” Tanyaku.

“Mboten wonten menika. Lha, pripun mas?” jawab perempuan dengan jilbab kuning itu, sembari mempersilahkanku duduk di teras.

“Kula tenggo mawon.” Sembari segera duduk di kursi kayu yang ada di teras.

Beberap menit kemudian, terdengarlah suara yang tak asing lagi. Sebuah motor yang lumayan tua memasuki gerbang besi. Seorang laki-laki yang cukup umur mengendarI motor tersebut.

Seusai jabat tangan, beliau mempersilahkanku masuk ke bangunan yang cukup mungil. Sedang keadaan di dalam tak jauh beda dengan apa yang ada di luar. Namun, bukan itu yang menjadi pelajaran hari ini.

Namun, sebuah ujian yang diberikan kepada manusia dari Allah. Saat manusia miskin dan serba kekurangan maka ia akan meminta kepada Allah untuk dicukupkan rizkinya, dan mungkin minta lebih daripada cukup. Siapapun itu?

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah setelah Allah mengabulkannya ia akan tetap bersikap layaknya saat miskin, ataukah menjadi lupa kepada Allah karena sudah memiliki segalanya?

Sebuah pelajaran besar yang dapat saya petik dari silaturahim hari ini. Sebuah keluarga yang berjuang untuk mencukupi hidupnya. Seiring jalan, Allah memberikannya lebih dari cukup. Namun, beliau tetap bersikap layaknya dulu tidak memiliki apa-apa. Dari rumah, bahkan cara berpakaian atau kah yang lainnya.

Terkadang ini yang tidak pernah kita pikirkan. Apapun yang diberikan oleh Allah adalah ujian. Harta, kecantikan istri, anak. Bila semua hal tersebut tidak dilandaskan pada keimanan kepada Allah maka, bisa jadi kita akan takabur, sombong dengan apa yang kita miliki.

Allah tidak akan menguji hambanya melebihi kemapuannya…

5 thoughts on “(Rizki) Silaturahim

  1. Pingback: Ending dalam sebuah Epilog kehidupan | mutiaramutiaracinta-harjantodc

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s