Full agenda, Full Barokah

Jum’at, 17 Oktober 2014
Full agenda, Full Barokah
By : harjanto dc

Seperti biasa usai jaga malam. Perjalanan panjang menuju istana bersama Legenda. Eist… bukan Legenda, namun si Silver. Legenda lagi sakit, usai perjalanan Delanggu Solo dengan jaraak tempuh kurang dari 20 menit. Ibu pun mengijinkan Silver keluar dari peristirahatan setelah hampir dua minggu berdiam di sudut kamar istana.

Agenda padat sudah terjadwal sejak beberapa hari. Kebetulan atau memang karena takdir, jadwal kerja yang tiba-tiba berubah menjadikan otakku bekerja keras untuk mengubah planing yang ada. Jadwal mengajar yang harusnya Jum’at ba’da sholat jum’at dan sabtu sepulang sekolah. Harus berubah menjadi hari jum’at semuanya. Mungkin karena Allah ingin memberikan kenikmatan di hari yang istimewa. Dan Alhamdulillah, hari ini benar-benar Full agenda sejak sepulang dari tempat kerja.

10.00
Dengan silver akhirnya sampailah di sekolah yang dulu pernah tiga tahun aku diami. Sekolah yang memberikan pengalaman pertama berorganisasi. Sekolah yang kemudian aku jadikan sebagai ladang dakwah. Lebih baik mengajar orang yang berada di area pendidikan, karena suatu saat ia akan jadi orang terpenting di dunia, dan akan memberikan pengaruh yang luar biasa.

Mengajar membaca Al Qur’an untuk Akhwat. Sebenarnya ada rasa yang kurang ‘gimana’ ketika bertatap muka dengan remaja perempuan. Namun, mencarikan pengajar akhwat masih belum dipertemukan. Sehingga untuk sementara waktu mengajar mereka tetap pilihan yang diambil. Setelah dimulai belajar hampir 2 bulanan, bacaan mereka sudah mulai membaik. Dan Alhamdulillah hanya mereka yang istiqomah datang setiap sepekan sekali lah yang mampu melafadzkan dengan lebih baik dan dengan latihan (tilawah) setiap hari yang akan menjadikan lebih baik lagi.

12.30
“Mas dwi, cepat buka pintunya!” teriakan salah satu adik kelas yang terburu-buru mau ke kampus.
Sholat jum’at pun selesai, tiba-tiba ada yang teriak merasa di dholimi. Semua ikhwan sholat jum’at dan pintu sekretariatan tertutup alias terkunci. Hampir semuanya panik, karena barang semua ada di dalam ruang sekretariat. Yang paling panik adalah seorang yang bernama Udin, karena jam satu harus sudah sampai Solo. Akhirnya dia pun berangkat ke Solo tanpa tasnya. Dan Alhamdulillah kunci motornya ada di kantong celana.
Semua berpikir, dan beruntung ada akhwat yang membawa kunci. Akhirnya meminjam ke tempat akhwat tersebut, sebab semua kunci yang dibawa ikhwan tertinggal di dalam ruangan. Sebagian mengambil kunci sebagian yang lain belajar Ngaji. Kelas pun selesai pukul dua siang.

14.30
Agenda pun berlanjut usai mengajar dua session yang sama. 200 lebih anak-anak sudah menanti di lapangan Ngadisari desa Mrisen. Outbond santri TPA Al Amin. Riuh anak dari usia PAUD hingga SD, dengan orator yang super keren, dan beberapa kakak pengajar yang super duper keren. Acara pun berlangsung dengan sangat menarik, tiga permainan untuk kelas TPA dan tiga permainan untuk kelas PAUD. Ditambah games-games seru dari tante orator. Akhirnya acara pun selesai dengan pesta Bakso di penghujung senja. Bertemankan cahaya orange di ufuk barat.

al amin

al amin 2

Di desa mrisen mengumpulkan 200 anak lebih hanya dengan satu TPA, jika dikelurahanku, mengumpulkan lebih dari 200 anak butuh TPA satu kelurahan. Itu adalah salah satu hal yang menjadikan TPA itu adalah TPA terbaik di Kecamatan Juwiring dalam kurun waktu beberapa tahun ini. Disamping umurnya lebih dari 28 tahun.

Tidak ada waktu yang sia-sia jika pekerjaan yang dilakukan adalah bermanfaat…

Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain…

17.30 (Maghrib)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s