GAME, Mendoktrin otak manusia!

GAME, Mendoktrin otak manusia!
By : harjanto dc

Hmm. Judulnya lebih mirip seperti teroris, yang kemudian mencuci otak targetnya. Hampir mirip cara kerja game ini. Jangan dipikir bermain game itu hanya permainan seperti adu kelereng atau lompat tali untuk anak-anak. Game yang dimainkan dalam media elektronik memiliki efek yang berbeda. Efek yang bisa jadi ‘CANDU’ bagi si pemainnya. Lhah? Kok bisa?

Kisah-kisah
Ada kisah seru dibalik artikel ini. Kisah yang pertama tentang seorang yang amat dekat denganku. Dulu kejadian ini saat ia usia kelas 2 STM. Seorang yang kemudian menghabiskan waktu setahunnya hanya untuk main playstation. Berbagai lomba yang berhubungan dengan playstation ia ikuti. Hingga setahun itu menjadi waktu yang gagal untuk belajarnya. Setahun tidak berangkat sekolah. Kalaupun berangkat hanya 1 atau 2 kali seminggu.

Kisah kedua tentang seorang santri di TPQ tempat dimana aku biasa mengajar. Anak usia SMP kelas 1 ini kecanduan game sejak SD. Uang SPP tidak terbayarkan demi bisa main Game Online. Kalau dipikir, sungguh sangat meresahkan masyarakat adanya game online di setiap internet. Sampai sekarang sering bolos ngaji lantaran ngegame di warnet.

Kisah ketiga. Ini mungkin kisah terparah. Kebebasan penggunaan internet di rumah sangatlah berpengaruh besar pada pendidikan anak. Seorang mahasiswa yang sangat cerdas. Waktu di SMA juara satu paralel. Namun, cita-citanya hancur karena kecanduan game. Keseharian ia habiskan untuk duduk di depan computer, menikmati serangkaian permainan yang menguras tenaga dan pikirannya. Ketika tidak ada internet di rumah maka warnet menjadi pelarian. Kuliahnya hancur. Kepandaiannya tak berfungsi ketika otak sudah tidak mau berorientasi untuk mengubah perilaku.

Pelajaran berharga dari ketika kisah tersebut adalah. Game tidak hanya di sukai anak-anak, bahkan remaja, dewasa dan orangtua sekalipun. Namun, disini bagaimana kemudian kita tetap yakin dapat mengendalikannya. Bukan permainan yang mengendalikan otak kita. Jangan kemudian mencoba-coba sesuatu yang mungkin anda sendiri tidak dapat mengendalikannya.

Cara kerja game adalah awalnya mungkin baik-baik saja, namun ketika tantangannya semakin berat dan kegagalan yang selalu di dapatkan. Maka kemampuan akan di uji. Keseringan untuk selalu mencoba akan muncul. Nah, disinilah titik terberat yang akan memporak-porandakan keimanan. Bagaimana tidak? Sebenarnya ketika itu diterapkan dalam belajar maka efeknya adalah kecerdasan. Namun ketika penerapannya pada sebuah permainan maka kecanduan untuk selalu menang dan menang yang akan mendoktrin otak.

Lalu, siapa yang disalahkan?

Pendidikan akhlak dewasa ini mengalami kebobrokan moral. Bagaimana kemudian anak-anak disuguhkan acara-acara televisi yang tidak mendukung pola pengembangan anak. Peran orangtua, guru dan praktisi pendidikan lainnya sangatlah dibutuhkan. Ketika kemudian beberapa faktor itu tidak saling mendukung maka mungkin 20 tahun yang akan datang, anak-anak inilah yang nantinya akan menggantikan posisi-posisi penting di Negara ini. Mau dibawa kemana negeri ini?

Apakah kemudian kita kan menyesal? Jangan menunggu terjadi, namun lebih baik mencegah daripada mengobati.

Apa yang harus dilakukan?
Perhatian Orang tua
Orangtua adalah faktor utama. Karena rumah tangga adalah tempat anak-anak belajar. Mencontoh sesuatu dari keduanya. Ketika kemudian orang tua cuek dengan segala keadaan anak-anaknya. Yah, bisa dipastikan anak-anaknya akan mencontoh kebiasaan yang keliru itu. Akhlak sangat berperan penting dalam perkembangan anak. Sebagai orang tua sudah sepantasnya memberikan dan mengajarkan akhlak yang baik kepada anak-anaknya.

Pendidikan Usia Dini
Pendidikan karakter harus lebih dikembangkan. Mengarahkan anak untuk menikmati pendidikan yang mengajarkan kepada titik terbesar dalam sopan-santun. Anak-anak sekarang sudah mulai lupa dengan etika kesopanan yang menjadi ciri khas orang timur. Padahal tata karama ini sangat penting dalam sosial dengan orang lain.

Lingkungan

Lingkungan adalah faktor pemicu yang amat ampuh, ketika orangtua sudah lepas kendali kepada pendidikan anak-anaknya. Ibarat pepatah, “ketika berteman dengan penjual minyak wangi maka akan wangi, namun ketika berteman dengan pandai besi maka akan kena asapnya.” Sungguh ini hal sepele, namun pelajarannya luar biasa. Dengan siapa kita berteman makan akan jadi apa? Ini adalah pilihan.

Semoga dalam menjadi praktisi pendidikan, tidak puas ketika hanya pendai sendirian. Namun, akan merasa lebih lega ketika generasi kita lebih baik dari kita. Ibarat hidupkan bagaiakan pohon yang subur, bagaiamana kemudian dari setiap apa yang dihasilkan pohon tersebut akan bermanfaat untuk orang lain. Pohon yang besar, daun yang hijau ataupun kering, buah yang segar semua itu akan bermanfaat. Dan sebaik-baik kamu adalah yang palin banyak manfaatnya untuk orang lain.
***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s