ISTIQOMAH?

ISTIQOMAH?
by : Harjanto dc

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Fushilat [41]: 30-32)

Aspek terpenting dalam dakwah adalah perkataan. Tidak boleh menyepelekan perkataan. Karena perkataan itu menghalalkan hubungan suami istri. Iman dikatakan sempurna bila ada unsur perkataan. Iman adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, mengamalkan dengan rukun (perbuatan).

Keimanan itu harus di deklarasikan. Bukan sombong, namun sebagai penyeimbang dengan kemunafikan. Orang-orang munafiq saja membanggakan dirinya. Kenapa sebagai orang beriman justru menyembunyikannya.

Kedua sebagai pembeda. Maksudnya adalah yang disebut orang beriman adalah yang mereka mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan orang munafiq tidak akan pernah melafadzkannya. Bukti konkrit adalah paman nabi Muhammad abu thalib, beliau meyakini Allah. Akan tetapi selama hidupnya tidak pernah melafadzkan Syahadat. Dan inilah salah satu hal kenapa tidak boleh kemudian menyepelekan perkataan.

“Amal yang terbaik adalah katakan aku beriman kepada Allah kemudian (lalu) istiqomah.”
Ucapan terkadang lebih berat daripada imannya. Sebaik-baik jihad adalah mengatakan kebenaran di depan pemimpin yang dholim.

Dilihat dari Susunan ayat dalam surat Fushilat ini, menemukan agenda orang beriman ada 2 : Mengucapkan tuhan kami adalah Allah (Iman) kemudian Istiqomah. Istiqomah adalah sebuah proses, bukan lantaran sesuatu yang tiba-tiba ada. Orang yang istiqomah pastinya menalami godaan, ujian bahkan bisa jadi fitnah. Seperti yang ditegaskan dalam surat Al- Ankabut [29] : 2, “Apakah kamu mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “kami telah beriman, dan kami tidak diuji.”

Buah dari ujian adalah istiqomah.
Istiqomah itu :
1. Adamul Khauf : tidak akan mengalami rasa takut (masa depan),
2. Tidak memiliki rasa sedih (masa lalu)
3. Ada optimisme, karena Allah dan malaikat adalah penolong-penolong baginya.
***

One thought on “ISTIQOMAH?

  1. Pingback: Jalan keistiqomahan | MutiaraCinta-HarjantoDC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s