SURGA Vs NERAKA

SURGA Vs NERAKA
by : Harjanto dc

Ibarat seorang penulis, akan mengalami perubahan dalam kecepatan dan teknik menulisnya adalah ketika mendekati DL. Sama halnya dengan perubahan kebaikan pada sikap dan keimanan seseorang ketika membuat target atau lembaran mutaba’ah sebagai pemicu akan ibadah hariannya. Bukannya ibadah karena lembaran-lembaran itu. Namun hanya sebagai sarana dalam menjadikan ia lebih baik. Tetap niat dan tujuan kita adalah ibadah kepada Allah. Karena itu yang telah diperintahkannya dalam surat Adz dzariyat [51] : 56, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.”

Yup. Itu adalah salah satu tujuan diciptakannya manusia. Namun, alangkah bodohnya manusia ketika janji prasetya telah diucapkan saat masih di alam ruh, kemudiania lupakan ketika lahir ke dunia. Seperti apa yan telah Allah firmankan dalam surat Al A’raf [7] : 172, Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Jelas sekali syahadat yang telah anak adam lafadzkan, namun kebanyakan orang kemudian mengingkari apa yan telah ia sepakati oleh Allah. Ini adalah pelajaran berharga bagi orang-orang yang kemudian beriman kepada Allah. Nah, bagaimana kemudian yang harus dilakukan untuk beribadah kepada Allah seperti apa yang telah Allah perintahkan dalam surat Adz dzariyat tersebut. Yaitu, bertaqwa kepada Allah. Arti taqwa adalah menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan. Apa-apa yan telah menjadi kewajiban atau pun sunnah maka itu lah yang kemudian Allah dan Rasulnya Muhammad perintahkan. Dan apa-apa yang Allah haramkan atas mereka , janganlah kemudian sekali-kali menghalalkannya. Seperti halnya nukilan hadist Arba’in Imam An Nawawi ke 22 : “Abu Abdillah Jabir bin Abdillah Al Anshari ra. Berkata, ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah saw., “Jika aku shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram, lalu aku tidak menambah selain amalan itu. Apakah aku akan masuk surga?” Beliau menjawab, ‘Ya’.” (HR. Muslim).

Dalam hadist tersebut bisa kita petik pelajaran yang luar biasa dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan lelaki itu. Implementasinya adalah ketakwaan kepada Allah. Dan tujuan peribadatan pun kepada Allah. Ini yang kemudian manusia masih sering melupakan tujuan ia diciptakan oleh Allah dan apa yang kemudian harus mereka lakukan di dunia ini. Dunia tidak akan kekal. Karena dunia adalah tempat mencari penghidupan di akherat. Surga atau neraka adalah pilihan yang harus ditentukan dari sekarang. Mana yang akan diharapkan adalah sesuai timbangan amal kebaikan masing-masing. Segeralah untuk taubat saudaraku. Jangan lah menunggu sampai Allah menguji dengan mautnya, seperti apa yang telah dialami saudara yang lain, bisa dilihat di https://mutiaramutiaracinta.wordpress.com/2014/10/19/. Semoga dengan target-target tertentu kita bisa lebih meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Wallahu’alam bi showab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s