Golongan darah

Golongan darah

Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai. Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian.
Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang terkandung dalam darahnya, sebagai berikut:
• Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A di permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah A-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah A-negatif.
• Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah B-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan dolongan darah B-negatif.
• Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B. Sehingga, orang dengan golongan darah AB-positif dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut resipien universal. Namun, orang dengan golongan darah AB-positif tidak dapat mendonorkan darah kecuali pada sesama AB-positif.
• Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Namun, orang dengan golongan darah O-negatif hanya dapat menerima darah dari sesama O-negatif.
Secara umum, golongan darah O adalah yang paling umum dijumpai di dunia, meskipun di beberapa negara seperti Swedia dan Norwegia, golongan darah A lebih dominan. Antigen A lebih umum dijumpai dibanding antigen B. Karena golongan darah AB memerlukan keberadaan dua antigen, A dan B, golongan darah ini adalah jenis yang paling jarang dijumpai di dunia.
Ilmuwan Austria, Karl Landsteiner, memperoleh penghargaan Nobel dalam bidang Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 1930 untuk jasanya menemukan cara penggolongan darah ABO.

Proses Pengendalian Mutu Laboratorium

Proses Pengendalian Mutu Laboratorium

Laboratorium klinik sebagai subsistem pelayanan kesehatan menempati posisi penting dalam diagnosis invitro. Setidaknya terdapat 5 alasan penting mengapa pemeriksaan laboratorium diperlukan, yaitu : skrining, diagnosis, pemantauan progresifitas penyakit, monitor pengobatan dan prognosis penyakit. Oleh karena itu setiap laboratorium harus dapat memberikan data hasil tes yang teliti, cepat dan tepat.

Dalam proses pengendalian mutu laboratorium dikenal ada tiga tahapan penting, yaitu tahap pra analitik, analitik dan pasca analitik. Pada umumnya yang sering sering diawasi dalam pengendalian mutu hanya tahap analitik dan pasca analitik yang lebih cenderung kepada urusan administrasi, sedangkan proses pra analitik kurang mendapat perhatian.

Kesalahan pada proses pra-analitik dapat memberikan kontribusi sekitar 61% dari total kesalahan laboratorium, sementara kesalahan analitik 25%, dan kesalahan pasca analitik 14%. Proses pra-analitik dibagi menjadi dua kelompok, yaitu : pra-analitik ekstra laboratorium dan pra-analitik intra laboratorium. Proses-proses tersebut meliputi persiapan pasien, pengambilan spesimen, pengiriman spesimen ke laboratorium, penanganan spesimen, dan penyimpanan spesimen.

PERSIAPAN PASIEN
Persiapan pasien dimulai saat seorang dokter merencanakan pemeriksaan laboratorium bagi pasien. Dokter dibantu oleh paramedis diharapkan dapat memberikan informasi mengenai tindakan apa yang akan dilakukan, manfaat dari tindakan itu, dan persyaratan apa yang harus dilakukan oleh pasien. Informasi yang diberikan harus jelas agar tidak menimbulkan ketakutan atau persepsi yang keliru bagi pasien. Pemilihan jenis tes yang kurang tepat atau tidak sesuai dengan kondisi klinis pasien akan menghasilkan interpretasi yang berbeda. Ketaatan pasien akan instruksi yang diberikan oleh dokter atau paramedis sangat berpengaruh terhadap hasil laboratorium; tidak diikutinya instruksi yang diberikan akan memberikan penilaian hasil laboratorium yang tidak tepat. Hal yang sama juga dapat terjadi bila keluarga pasien yang merawat tidak mengikuti instruksi tersebut dengan baik.

Ada beberapa sumber kesalahan yang kurang terkontrol dari proses pra-analitik yang dapat mempengaruhi keandalan pengujian laboratorium, tapi yang hampir tidak dapat diidentifikasi oleh staf laboratorium. Ini terutama mencakup variabel fisik pasien, seperti latihan fisik, puasa, diet, stres, efek posisi, menstruasi, kehamilan, gaya hidup (konsumsi alkohol, rokok, kopi, obat adiktif), usia, jenis kelamin, variasi diurnal, pasca transfusi, pasca donasi, pasca operasi, ketinggian. Karena variabel tersebut memiliki pengaruh yang kuat terhadap beberapa variabel biokimia dan hematologi, maka gaya hidup individu dan ritme biologis pasien harus selalu dipertimbangkan sebelum pengambilan sampel.

PERSIAPAN PENGUMPULAN SPESIMEN
Spesimen yang akan diperiksa laboratorium haruslah memenuhi persyaratan sebagai berikut :

Jenisnya sesuai jenis pemeriksaan

Volume mencukupi

Kondisi baik : tidak lisis, segar/tidak kadaluwarsa, tidak berubah warna, tidak berubah bentuk, steril (untuk kultur kuman)

Pemakaian antikoagulan atau pengawet tepat

Ditampung dalam wadah yang memenuhi syarat

Identitas benar sesuai dengan data pasien

Sebelum pengambilan spesimen, periksa form permintaan laboratorium. Identitas pasien harus ditulis dengan benar (nama, umur, jenis kelamin, nomor rekam medis, dsb) disertai diagnosis atau keterangan klinis. Periksa apakah identitas telah ditulis dengan benar sesuai dengan pasien yang akan diambil spesimen.

Tanyakan persiapan yang telah dilakukan oleh pasien, misalnya diet, puasa. Tanyakan juga mengenai obat-obatan yang dikonsumsi, minum alkohol, merokok, dsb. Catat apabila pasien telah mengkonsumsi obat-obatan tertentu, merokok, minum alkohol, pasca transfusi, dsb. Catatan ini nantinya harus disertakan pada lembar hasil laboratorium.

1. Peralatan
Peralatan yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

bersih, kering

tidak mengandung deterjen atau bahan kimia

terbuat dari bahan yang tidak mengubah zat-zat dalam spesimen

sekali pakai buang (disposable)

steril (terutama untuk kultur kuman)

tidak retak/pecah, mudah dibuka dan ditutup rapat, ukuran sesuai dengan volume spesimen

2. Antikoagulan
Antikoagulan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah pembekuan darah. Jenis antikoagulan yang dipergunakan harus disesuaikan dengan jenis pemeriksaan yang diminta. Volume darah yang ditambahkan juga harus tepat.

3. Pemilihan Lokasi Pengambilan Spesimen
Tentukan lokasi pengambilan spesimen sesuai dengan jenis spesimen yang diperlukan, seperti :

Darah vena umumnya diambil dari vena lengan (median cubiti, vena cephalic, atau vena basilic). Tempat pengambilan tidak boleh pada jalur infus atau transfusi, bekas luka, hematoma, oedema, canula, fistula Darah arteri umumnya diambil dari arteri radialis (pergelangan tangan), arteri brachialis (lengan), atau arteri femoralis (lipat paha). Darah kapiler umumnya diambil dari ujung jari tengah atau jari manis tangan bagian tepi atau pada daerah tumit 1/3 bagian tepi telapak kaki pada bayi. Tempat yang dipilih untuk pengambilan tidak boleh memperlihatkan gangguan peredaran darah seperti sianosis atau pucat.

Spesimen untuk pemeriksaan biakan kuman diambil dari tempat yang sedang mengalami infeksi, kecuali darah dan cairan otak.

4. Waktu Pengambilan
Penentuan waktu pengambilan spesimen penting untuk diperhatikan.

Umumnya pengambilan dilakukan pada waktu pagi (ideal)

Spesimen untuk kultur kuman diambil sebelum pemberian antibiotik

Spesimen untuk pemeriksaan GO diambil 2 jam setelah buang air yang terakhir

Spesimen untuk malaria diambil pada waktu demam

Spesimen untuk mikrofilaria diambil pada tengah malam

Spesimen dahak untuk pemeriksaan BTA diambil pagi hari setelah bangun tidur

Spesimen darah untuk pemeriksaan profil besi diambil pada pagi hari dan setelah puasa 10-12 jam

PENGAMBILAN SPESIMEN
Hal-hal yang harus diperhatikan pada pengambilan spesimen adalah :

Tehnik atau cara pengambilan. Pengambilan spesimen harus dilakukan dengan benar sesuai dengan standard operating procedure (SOP) yang ada.
Cara menampung spesimen dalam wadah/penampung.
Seluruh sampel harus masuk ke dalam wadah (sesuai kapasitas), jangan ada yang menempel pada bagian luar tabung untuk menghindari bahaya infeksi.
Wadah harus dapat ditutup rapat dan diletakkan dalam posisi berdiri untuk mencegah spesimen tumpah.
Memindahkan spesimen darah dari syringe harus memperhatikan hal-hal seperti berikut :
Darah harus segera dimasukkan dalam tabung setelah sampling.
Lepaskan jarum, alirkan darah lewat dinding tabung perlahan-lahan agar tidak terjadi hemolisis.
Untuk pemeriksaan kultur kuman dan sensitivitas, pemindahan sampel ke dalam media dilakukan dengan cara aseptik
Pastikan jenis antikoagulan dan volume darah yang ditambahkan tidak keliru.
Homogenisasi segera darah yang menggunakan antikoagulan dengan lembut perlahan-lahan. Jangan mengkocok tabung keras-keras agar tidak hemolisis.
Menampung spesimen urin
Sediakan wadah yang bersih, kering, tidak terkontaminasi oleh bahan apapun, mudah dibuka, mudah ditutup, dan bermulut lebar
Sebaiknya pasien diinstruksikan membuang urine yang mula-mula keluar sebelum mengumpulkan urine untuk diperiksa.
Untuk mendapatkan specimen clean catch diperlukan cara pembersihan lebih sempurna :
Mulut uretra dibersihkan dengan sabun dan kemudian membilasnya sampai bersih.
Penderita wanita harus lebih dulu membersihkan labia minora, lalu harus merenggangkannya pada waktu kencing.
Perempuan yang sedang menstruasi atau yang mengeluarkan banyak secret vagina, sebaiknya memasukkan tampon sebelum mengumpulkan specimen.
Bagian luar wadah urine harus dibilas dan dikeringkan setelah spesimen didapat dan keterangan tentang pemeriksaan harus jelas dicantumkan.
Menampung spesimen tinja
Sampel tinja sebaiknya berasal dari defekasi spontan. Jika sangat diperlukan, sampel tinja juga dapat diperoleh dari pemeriksaan colok dubur.
Masukkan sampel ke dalam wadah yang bersih, kering, tidak terkontaminasi oleh bahan apapun, dapat ditutup rapat, dapat dibuka dengan mudah dan bermulut lebar.
Menampung spesimen dahakPenting untuk mendapatkan sekret bronkial dan bukan ludah atau sekret hidung.
Sediakan wadah yang bersih, kering, tidak terkontaminasi oleh bahan apapun, mudah dibuka, mudah ditutup, dan bermulut lebar. Untuk pewarnaan BTA, jangan gunakan wadah yang mengandung bercak lilin atau minyak, sebab zat ini dapat dilihat sebagai bintik-bintik tahan asam dan dapat menyulitkan penafsiran.
Sebelum pengambilan spesimen, penderita diminta berkumur dengan air, bila mungkin gosok gigi terlebih dulu. Bila memakai gigi palsu, sebaiknya dilepas dulu.
Pada saat pengambilan spesimen, penderita berdiri tegak atau duduk tegak
Penderita diminta untuk menarik nafas dalam 2 – 3 kali kemudian keluarkan nafas bersamaan dengan batuk yang kuat dan berulang kali sampai dahak keluar.
Dahak yang dikeluarkan langsung ditampung dalam wadah dengan cara mendekatkan wadah ke mulut.
Amati keadaan dahak. Dahak yang memenuhi syarat pemeriksaan akan tampak kental purulen dengan volume cukup ( 3 – 5 ml )
Tutup wadah dengan rapat untuk menghindari kontaminasi dari udara dan secepatnya dikirim ke laboratorium.

Sumber-sumber kesalahan pada pengambilan spesimen darah :

Pemasangan turniquet terlalu lama dapat menyebabkan :
Protein (termasuk enzim) , Ca2+, laktat , fosfat, dan Mg2+ meningkat
pH menurun, hemokonsentrasi
PPT dan APTT mungkin memendek karena pelepasan tromboplastin jaringan ke dalam sirkulasi darah
Pemompaan menyebabkan kalium, laktat, glukosa, dan Mg2+ meningkat, sedangkan pH menurun
Pengambilan darah terlalu lama (tidak sekali tusuk kena) dapat menyebabkan :
trombosit dan fibrinogen menurun; PPT dan APTT memanjang
kalium, LDH dan SGPT/ALT meningkat
Pengambilan darah pada jalur infus dapat menyebabkan :
natrium meningkat pada infus saline
kalium meningkat pada infus KCl
glukosa meningkat pada infus dextrose
PPT, APTT memanjang pada infus heparine.
kreatinin, fosfat, LDH, SGOT, SGPT, Hb, Hmt, lekosit, trombosit, eritrosit menurun pada semua jenis infus
Homogenisasi darah dengan antikoagulan yang tidak sempurna atau keterlambatan homogenisasi menyebabkan terbentuknya bekuan darah.
Hemolisis dapat menyebabkan peningkatan K+, Mg2+, fosfat, aminotransferase, LDH, fosfatase asam total

IDENTIFIKASI SPESIMEN
Pemberian identitas pasien dan atau spesimen adalah tahapan yang harus dilakukan karena merupakan hal yang sangat penting. Pemberian identitas meliputi pengisian formulir permintaan pemeriksaan laboratorium dan pemberian label pada wadah spesimen. Keduanya harus cocok sama. Pemberian identitas ini setidaknya memuat nama pasien, nomor ID atau nomor rekam medis serta tanggal pengambilan. Kesalahan pemberian identitas dapat merugikan.
Untuk spesimen berisiko tinggi (HIV, Hepatitis) sebaiknya disertai tanda khusus pada label dan formulir permintaan laboratorium.

PENGIRIMAN SPESIMEN KE LABORATORIUM
Spesimen yang telah dikumpulkan harus segera dikirim ke laboratorium.

Sebelum mengirim spesimen ke laboratorium, pastikan bahwa spesimen telah memenuhi persyaratan seperti yang tertera dalam persyaratan masing-masing pemeriksaan.
Apabila spesimen tidak memenuhi syarat agar diambil / dikirim ulang.
Pengiriman spesimen disertai formulir permintaan yang diisi data yang lengkap. Pastikan bahwa identitas pasien pada label dan formulir permintaan sudah sama.
Secepatnya spesimen dikirim ke laboratorium. Penundaan pengiriman spesimen ke laboratorium dapat dilakukan selambat-lambatnya 2 jam setelah pengambilan spesimen. Penundaan terlalu lama akan menyebabkan perubahan fisik dan kimiawi yang dapat menjadi sumber kesalahan dalam pemeriksaan, seperti :
Penurunan kadar natrium ( Na+ ), glukosa darah, angka lekosit, angka trombosit.
Perubahan morfologi sel darah pada pemeriksaan mikroskopik
PPT / APTT memanjang.
Peningkatan kadar kalium ( K+ ), phosphate, LDH, SGPT.
Lisisnya sel pada sample LCS, transudat, eksudat.
Perkembangbiakan bakteri
Penundaan pengiriman sampel urine :
Unsur-unsur yang berbentuk dalam urine (sediment), terutama sel-sel eritrosit, lekosit, sel epitel dan silinder mulai rusak dalam waktu 2 jam.
Urat dan fosfat yang semula larut akan mengendap, sehingga menyulitkan pemeriksaan mikroskopik atas unsur-unsur lain.
Bilirubin dan urobilinogen teroksidasi bila berkepanjangan terkena sinar matahari.
Bakteri-bakteri akan berkembang biak yang akan menyebabkan terganggunya pemeriksaan bakteriologis dan pH.
Jamur akan berkembang biak
Kadar glukosa mungkin menurun dan kalau semula ada, zat-zat keton dapat menghilang.Apabila akan ditunda pengirimannya dalam waktu yang lama spesimen harus disimpan dalam refrigerator/almari es pada suhu 2 – 8 oC paling lama 8 jam.
Pengiriman sample sebaiknya menggunakan wadah khusus, misalnya berupa kotak atau tas khusus yang tebuat dari bahan plastik, gabus (styro-foam) yang dapat ditutup rapat dan mudah dibawa.

PENANGANAN SPESIMEN

Identifikasi dan registrasi spesimen

Seluruh spesimen harus diperlakukan sebagai bahan infeksius

Patuhi cara pengambilan spesimen dan pengisian tabung yang benar

Gunakan sentrifus yang terkalibrasi

Segera pisahkan plasma atau serum dari darah dalam tabung lain, tempeli label

Segera distribusikan spesimen ke ruang pemeriksaan

PENYIMPANAN SPESIMEN

Penyimpanan spesimen dilakukan jika pemeriksaan ditunda atau spesimen akan dikirim ke laboratorium lain

Lama penyimpanan harus memperhatikan, jenis pemeriksaan, wadah dan stabilitasnya

Hindari penyimpanan whole blood di refrigerator

Sampel yang dicairkan (setelah dibekukan) harus dibolak-balik beberapa kali dan terlarut sempurna. Hindari terjadinya busa.

Simpan sampel untuk keperluan pemeriksaan konfirmasi / pengulangan

Menyimpan spesimen dalam lemari es dengan suhu 2-8ºC, suhu kamar, suhu -20ºC, -70ºC atau -120ºC jangan sampai terjadi beku ulang.

Untuk jenis pemeriksaan yang menggunakan spesimen plasma atau serum, maka plasma atau serum dipisahkan dulu baru kemudian disimpan.

Memberi bahan pengawet pada spesimen

Menyimpan formulir permintaan lab di tempat tersendiri

Waktu penyimpanan spesimen dan suhu yang disarankan :

Kimia klinik : 1 minggu dalam referigerator

Imunologi : 1 minggu dalam referigerator

Hematologi : 2 hari pada suhu kamar

Koagulasi : 1 hari dalam referigerator

Toksikologi : 6 minggu dalam referigerator

Blood grouping : 1 minggu dalam referigerator

Siapa yang Terlibat Dalam Proses Pra-Analitik?
Selalu ada beberapa orang yang terlibat dalam proses pra-analitik, yaitu pasien, dokter, paramedis/perawat, petugas layanan transportasi, analis dan dokter laboratorium; mereka semua berbagi tanggung jawab terhadap mutu bahan spesimen dan harus memahami pentingnya tahap pra-analtik, serta mengenali kemungkinan penyebab kesalahan dan konsekuensi mereka untuk hasil pemeriksaan.

Komunikasi antara dokter, paramedis/perawat, petugas layanan transportasi, analis dan dokter laboratorium harus selalu ditingkatkan dalam bentuk komunikasi langsung, telepon, atau media lainnya. Lebih baik kalau laboratorium dapat membuat pedoman atau semacam SOP mengenai pengumpulan spesimen untuk penggunaan oleh bagian lain. Pedoman tersebut harus ditinjau ulang oleh supervisor laboratorium. Laboratorium juga perlu menetapkan prosedur untuk penanganan spesimen dan prosedur untuk manajemen spesimen (penerimaan atau penolakan spesimen)

PERLAHAN TAPI PASTI (Kanker Serviks)

PERLAHAN TAPI PASTI
(Kanker Serviks)
Oleh: harjanto dc

Setiap Wanita yang telah melakukan hubungan seksual atau telah aktif secara seksual, berisiko untuk mengidap kanker leher rahim (kanker serviks). Pada kesempatan kemarin (14/01/2011), di gedung Pemerintah Daerah Kabupaten Klaten, seorang dokter spesialis kandungan, dr. Ivanna Brahmana, Sp.OG menyatakan : “Bahwa belum ditemukan teori yang menyatakan wanita yang belum pernah hubungan seksual menderita penyakit kanker leher rahim.”

Taukah Anda?
Kanker leher rahim adalah kanker penyebab kematian terbesar pada wanita Indonesia dan diperkirakan terjadi 200.000 kasus baru di dunia setiap tahunnya (Report of WHO Consultation, 2002). Sekitar 80% disebabkan oleh infeksi HPV.

Bagaimana Mendeteksi Kanker Leher Rahim?
Kanker leher rahim dapat diketahui malalui screening diri, dengan cara: Pap Smear dan HPV DNA.
Pap smear adalah pemeriksaan untuk melihat sel-sel leher rahim dimana sampel diambil dari liang vagina. Ada 2 macam Pap Smear, yaitu: Pap Smear konvensional dan Sitologi Serviks Berbasis Cairan (SSBC).

SSBC merupakan metode baru untuk meningkatkan keakuratan deteksi kelainan sel-sel leher rahim. Cara kerja metode ini lebih akurat daripada yang konvensional, karena sampel dimasukkan ke dalam cairan khusus yang akan memisahkan sel dari faktor pengganggu lainnya, sebelum di lihat dibawah mikroskop.

HPV DNA adalah pemeriksaan molecular yang secara langsung bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya virus HPV pada sel-sel yang diambil dari serviks. Infeksi HPV ada 13 tipe, yakni 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, dan 68. Namun yang paling berbahaya tipe 16 dan 18.

Apakah Kanker Leher Rahim Bergejala?
Infeksi HPV berbeda dengan infeksi virus flu. Pada stadium dini gejala tidak jelas atau bahkan tidak bergejala sama sekali. Pada stadium lanjut (Invasi) akan terjadi perdarahan setelah bersenggama, keputihan atau keluas cairan encer dari vagina, perdarahan setelah menopause serta keluar cairan kekuningan berbau, bercampur dengan darah. Pemeriksaan laboratorium sangatlah penting, untuk mengetahui kanker leher rahim sejak diri.

Kapan melakukan Screening Kanker Leher Rahim?
Usia 30 tahun, pemeriksaan Pap Smear dan HPV DNA secara berkala. Wanita dengan usia > 30 tahun yang telah aktif secara seksual berisiko tinggi mengalami infeksi HPV yang menetap. Infeksi HPV yang menetap berkaitan erat dengan kejadian kanker leher rahim.

Masih Perlukah Screening Kanker Leher Rahim bagi Wanita yang telah Diangkat Rahimnya?
Masih perlu: Jika sebelum diangkat pasien mempunyai riwayat hasil Pap Smear abnormal, jika pasien belum pernah melakukan pemeriksaan sitologi serviks. Pemeriksaan dilakukan 3 tahun berturut-turut, jika hasilnya negative maka setelah itu screening dihentikan.
Tidak perlu: jika pasien selumnya tidak memiliki riwayat pemeriksaan Pap Smear maupun HPV DNA abnormal.

Apa Saja Persiapan sebelum Pap Smear?
Pastikan tidak dalam keadaan menstruasi, waktu terbaik adalah 5 hari setelah berakhir hingga hari ke 14 sejak hari pertama menstruasi terakhir. Hindari penggunaan jeli atau krim vagina selama 3 hari sebelum pemeriksaan. Hindari pencucian (douche) vagina selama 2-3 hari sebelum pemeriksaan. Hindari hubungan sekseual dalam waktu 2 hari sebelum melakukan pemeriksaan.

Apakah Kanker Leher Rahim Dapat Disembuhkan?
Kanker leher rahim adalah salah satu jenis kanker yang paling dapat dicegah dan paling dapat disembuhkan dibandingkan dengan jenis kanker lainnya, asalkan diketahui pada stadium dini.

Haruskah Takut dengan Hasil Pap Smear yang Abnormal?
Janganlah panik! Yang terpenting adalah tindak lanjut pengobatan dari hasil tersebut. Hasil abnormal harus segera diobati supaya perubahan sel yang terjadi tidak memburuk.

Mengapa Pap Smear harus dilakukan secara Berkala?
Pap Smear (SSBC) merupakan cara yang mudah untuk screening kanker leher rahim, tanpa melakukan screening berkala terjadinya perubahan bentuk sel leher rahim menjadi sel kanker terlambat diketahui. Keberhasilan pengobatan kanker leher rahim besar kemungkinan apabila diketahui pada stadium dini. Sebagian besar wanita yang menderita kanker leher rahim ternyata tidak pernah melakukan Pap Smear sebelumnya.

Tingkat kesembuhan berdasarkan stadium kanker leher rahim:

Stadium Tingkat Kesembuhan
Stadium IA 100 %
Stadium IB 83% – 90%
Stadium IIA 68% – 83%
Stadium IIB 62% – 68%
Stadium III 33% – 48%
Stadium IV 14%

Lakukan pemeriksaan Pap Smear dan HPV DNA secara berkala untuk deteksi diri kanker leher rahim.

Masih Perlukah Uji Saring (Screening) setelah Vaksinasi HPV?
Masih, karena: Vaksin tidak memberikan perlindungan terhadap semua tipe HPV yang meyebabkan kanker serviks. Jika tidaK mendapatkan vaksin secara lengkap maka tidak mendapat perlindungan sempurna. Kerja vaksin tidak maksimal jika sebelum vaksin sudah terinfeksi HPV tipe 16 dan 18.
SCREENING RUTIN = HEMAT
***************************************************************

HPV (Human Papilloma Virus)
Siapa saja yang dapat terinfeksi HPV? Pria maupun wanita yang pernah melakukan hubungan seksual denagn orang yang terinfeksi HPV, keduanya tidak akanmenyadari dirinya terinfeksi, karna HPV dapat berdiam lama tanpa menunjukkan gejala. Seseorang dapat saja terinfeksi HPV jauh setelah melakukan hubungan seksual.

Apakah Human Papilloma Virus (HPV)?
Human papilloma Virus yang terdiri dari lebih 100 tipe, disebut Papilloma karena virus ini sering menimbulkan warts atau benigna (warts: tumor epidermal yang disebabkan virus papilloma atau proliferasi jinak mirip kutil). HPV yang menimbulkan warts di tangan dan kaki berbesa tipe dengan yang menimbulkan warts di alat genetalia (kelamin). Beberapa tipe HPV genetalia sangat berhubungan erat dengan terjadinya kanker leher rahim.

Mengapa masih banyak orang yang tidak tahu HPV?
HPV sebetulnya bukan virus baru, tetapi banyak orang tidak menyadarinya karena infeksi HPV tidak bergejala dan dapat sembuh dengan sendirinya tanpa menyebabkan masalah kesehatan.

Apa yang memudahkan seseorang terinfeksi HPV?
Kebanyakan orang ynag telah aktif secara seksual dapat terinfeksi HPV. Kelompok yang mudah terinfeksi HPV termasuk dalam kelompok risiko tinggi, yaitu: pertama, orang yang melakukan hubungan seksual diwaktu muda (usia 14-16 tahun). Wanita remaja usia 14 – 16 tahun masih mengalami perubahan hormone yang besar, selama masa pubertas kondisi leher rahimnya masih immature (belum berkembang sempurna) dan sel-sel leher rahim masih sangat aktif oleh sebab itu risiko infeksi HPV meningkat. Dan kedua, Orang yang mempunyai pasangan seks banyak. Berhubungan dengan banyak pasangan memperbesar kemungkinan terpapar HPV dari pasangannya.

Apakah infeksi HPV = HIV = HSV?
Infeksi HPV tidak sama dengan infeksi HIV maupun HSV meskipun sama-sam ditularkan melalui hubungan seksual. Infeksi HPV pada kebanyakan orang tidak menimbulkan masalah kesehata, tetapi infeksi yang menetap akan menimbulkan kenker leher rahim. Berdasarkan hubungan dengan kanker leher rahim, HPV dibagi menjadi 2 kelompok, yakni: HPV tipe risiko rendah dan HPV tipe risiko tinggi.

HPV tipe risiko rendah tidak menimbulkan kanker. Hanya terdapat perubahan yang terlihat seperti genital warts. Genital warts ini dapat tumbuh pada alat kelamin pria maupun wanita, biasanya tidak menimbulkan rasa nyeri, dapat berbentuk datar, kecil maupun besar satu atau banyak.

Sedangkan HPV tipe risiko tinggi berkaitan erat dengan terjadinya kanker leher rahim. Infeksi ini dapat bersifat semntara maupun menetap. Infeksi HPV yang menetap dapat menyebabkan perubahan bentuk sel leher rahim, perubahan ini lama-kelamaan dapat terus berlanjut menjadi kanker leher rahim apabila tidak diobati.

Apakah jika terinfeksi HPV tipe risiko tinggi artinya terkena Kanker?
BELUM TENTU. Infeksi HPV risiko tinggi tidak sama dengan Kanker. Infeksi HPV risiko tinggi akan menimbulkan kanker apabila infeksinya menetap dan menyebabkan perubahan bentuk sel. Proses perubahan dari infeksi HPV menjadi kanker leher rahim membutuhkan waktu relative lama, kurang lebih 10 – 15 tahun.

Siapakah yang berisiko Infeksi HPV menetap? Ada beberapa yang berisko terinfeksi, yakni wanita yang berusia diatas 30 tahun, perokok, penderita gangguan system kekebalan tubuh (seperti AIDS), dan peminum steroid seperti pada penderita Lupus Erythematosus.

Apakah Pria juga perlu melakukan pemeriksaan HPV?
Pemeriksaan HPV DNA untuk pria tidak direkomendasikan, meskipun infeksi HPV juga umum dialami pria. Namun infeksi ini pada pria tidak menimbulkan masalah kesehatan yang serius. Namun yang terpenting diwaspadai adalah bahwa pria yang terinfeksi HPV berpotensi menularkan HPV ke pasangannya atau siapa saja yang berhubungan seks dengannya.

Dapatkan Infeksi HPV diobati?
Tidak ada obat yang dapat membunuh HPV itu sendiri, tapi kekebalan tubuh yang baik dapat melawan HPV dengan sendirinya. Sehingga pengobatan lebih pada akibat yang ditimbulkan seperti genital warts, perubahan sel leher rahim dan kanker leher rahim.

Adakah Cara untuk mengurangi risiko terinfeksi HPV?
Cara yang pasti untuk mencegah infeksi HPV adalah tidak melakukan hubungan seksual. Jika memutuskan untuk memiliki pasangan seks, maka caranya adalah tidak berganti-ganti pasangan.
Wajar saja apabila seseorang terinfeksi HPV maka ingin tahu siapa yang menularinya. Namun tidak ada cara untuk memastikannya. HPV dapat saja sudah terdiam lama jauh sebelum terdeteksi. Jika terinfeksi HPV jangan salahkan pasangan yang sekarang atau menuduh pasangan berselingkuh. Infeksi HPV sebaiknya tidak dijadikan penanda pasangan selingkuh.

(Seminar Patelki DPC Klaten kerjasama dengan Laboratorium Prodia Klaten, 14/01/2012).

Bagaimana Mendeteksi Kanker Leher Rahim?

Kanker leher rahim dapat diketahui malalui screening diri, dengan cara:
1. Pap Smear
Pap smear adalah pemeriksaan untuk melihat sel-sel leher rahim dimana sampel diambil dari liang vagina. Ada 2 macam Pap Smear, yaitu:
• Pap Smear konvensional
• Sitologi Serviks Berbasis Cairan (SSBC)
SSBC merupakan metode baru untuk meningkatkan keakuratan deteksi kelainan sel-sel leher rahim. Cara kerja metode ini lebih akurat daripada yang konvensional, karena sampel dimasukkan ke dalam cairan khusus yang akan memisahkan sel dari faktor pengganggu lainnya, sebelum di lihat di bawah mikroskop.
2. HPV (Virus Human Papilloma) DNA
HPV DNA adalah pemeriksaan molecular yang secara langsung bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya virus HPV pada sel-sel yang diambil dari serviks. Infeksi HPV ada 13 tipe, yakni 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, dan 68. Namun yang paling berbahaya tipe 16 dan 18.

Schizophreniform

Schizophreniform gangguan adalah jenis jangka pendek skizofrenia , gangguan mental yang serius yang mendistorsi cara seseorang berpikir, bertindak, mengekspresikan emosi, memandang realitas, dan berhubungan dengan orang lain. Seperti skizofrenia, gangguan schizophreniform adalah jenis penyakit mental , yang disebut “psikosis,” di mana seseorang tidak bisa mengatakan apa yang nyata dari apa yang dibayangkan. Meskipun skizofrenia adalah penyakit seumur hidup, schizophreniform gangguan berlangsung kurang dari enam bulan.
Apa Apakah Gejala Gangguan schizophreniform?
Gejala gangguan schizophreniform yang mirip dengan skizofrenia dan dapat mencakup:
• Delusi (keyakinan yang salah yang tidak didasarkan pada realitas dan bahwa orang yang menolak untuk menyerah, bahkan ketika disajikan dengan informasi faktual).
• Halusinasi (melihat, mendengar, atau merasa hal-hal yang tidak benar-benar ada)
• Tidak teratur pidato, seperti tidak masuk akal, menggunakan kata-kata omong kosong dan / atau melompat-lompat dari satu topik ke topik lain.
• Perilaku aneh atau aneh seperti mondar-mandir, berjalan berputar-putar, atau menulis terus-menerus.
• Kurangnya energi, kebersihan yang buruk dan kebiasaan perawatan, kehilangan minat atau kesenangan dalam hidup, dan penarikan dari keluarga, teman, dan kegiatan sosial.
Apa Penyebab Gangguan schizophreniform?
Meskipun penyebab pasti dari gangguan schizophreniform tidak diketahui, para peneliti percaya bahwa faktor genetik, biokimia, dan lingkungan yang terlibat.
• Genetika (keturunan): Sebuah kecenderungan untuk mengembangkan gangguan schizophreniform dapat diturunkan dari orang tua kepada anak-anak mereka.
• Otak kimia: Orang dengan skizofrenia dan gangguan schizophreniform mungkin memiliki ketidakseimbangan bahan kimia tertentu di otak. Bahan kimia ini, yang disebut neurotransmiter, adalah zat yang membantu sel-sel saraf di otak mengirim pesan satu sama lain. Sebuah ketidakseimbangan dalam bahan kimia ini dapat mengganggu transmisi pesan, menyebabkan gejala.
• Faktor lingkungan: Bukti menunjukkan bahwa faktor lingkungan tertentu, seperti interaksi sosial yang buruk atau kejadian yang sangat menegangkan dapat memicu gangguan schizophreniform pada orang yang telah mewarisi kecenderungan untuk mengembangkan penyakit.
Bagaimana common Apakah schizophreniform Disorder?
Gangguan tersebut terjadi sama pada pria dan wanita, meskipun sering menyerang pria pada usia yang lebih muda, antara usia 18 dan 24. Pada wanita, paling sering terjadi antara usia 24 dan 35.
Bagaimana schizophreniform Disorder Didiagnosis?
Jika gejala gangguan schizophreniform yang hadir, dokter akan melakukan riwayat medis yang lengkap dan pemeriksaan fisik. Meskipun ada tes laboratorium khusus tidak untuk mendiagnosa gangguan schizophreniform, dokter dapat menggunakan berbagai tes – seperti X-ray atau tes darah – untuk menyingkirkan penyakit fisik sebagai penyebab gejala-gejala.
Jika dokter tidak menemukan alasan fisik untuk gejala, ia mungkin merujuk orang ke psikiater atau psikolog, profesional kesehatan mental yang khusus dilatih untuk mendiagnosa dan mengobati penyakit mental. Psikiater dan psikolog menggunakan wawancara yang dirancang khusus dan alat penilaian untuk mengevaluasi seseorang untuk sebuah gangguan psikotik. Diagnosis gangguan schizophreniform dibuat jika seseorang memiliki gejala khas bahwa kurang dari enam bulan terakhir
Apakah Pengobatan untuk Gangguan schizophreniform?
Pengobatan untuk gangguan schizophreniform umumnya terdiri dari obat-obatan dan psikoterapi (sejenis konseling). Orang dengan gejala berat atau yang beresiko melukai diri sendiri atau orang lain mungkin perlu dirawat di rumah sakit sampai kondisi stabil.
• Obat: Obat-obatan utama yang digunakan untuk mengobati gejala psikotik dari schizophreniform gangguan, seperti delusi, halusinasi, dan berpikir teratur, disebut antipsikotik. Sekelompok obat yang lebih baru, yang disebut antipsikotik atipikal, yang paling sering digunakan. Ini termasuk Risperdal , Clozaril, Seroquel, Geodon, dan Zyprexa.
• Psikoterapi: Tujuan terapi adalah untuk membantu pasien belajar tentang penyakit, menetapkan tujuan, dan mengelola masalah sehari-hari terkait dengan penyakit. Hal ini juga dapat membantu orang mengelola perasaan tertekan yang terkait dengan gejala-gejala. Terapi keluarga dapat membantu keluarga mengatasi lebih efektif dengan orang yang dicintai yang memiliki gangguan schizophreniform, memungkinkan mereka untuk lebih membantu orang yang mereka sayangi.
Apakah Outlook untuk Orang-Orang Dengan Gangguan schizophreniform?
Jika gejala tidak membaik, orang kemungkinan memiliki skizofrenia, yang merupakan penyakit seumur hidup. Menurut American Psychiatric Association, sekitar dua pertiga dari orang dengan gangguan schizophreniform terus mengembangkan skizofrenia di beberapa titik.
Gangguan dapat schizophreniform Dicegah?
Namun, diagnosis dini dan pengobatan dapat membantu mengurangi gangguan terhadap kehidupan seseorang, keluarga, dan persahabatan.