Gerimis

Alhasil, akhirnya aku tau kenapa ibu selalu marah ketika kami berenang di kali belakang rumah. Kami selalu berpikir buruk tentang kasih sayang ibu. Kami berpikir ibu selalu memproteksi kami. Hingga pada akhirnya kami bertiga benar-benar tidak bisa berenang sampai hari ini.

Dan sungguh kami sayang padamu ibu.

#CeritaIbuSaatGerimisSoreTadi

Kado istimewa adik tercinta, 10 November 2014

Advertisements

Sepenggal Kisah

Sepenggal Kisah

By : Harjanto dc

Berubah. Hampir semua telah bergeser. Padahal saat tatapan dari kotak mungil kebanggaanku di atas sana, semua tampak indah. Rumah di seberang jendela kamarku tampak mewah dengan pepohonan rindang dan sebuah taman mengitarinya, seperti halnya miniatur arsitek yang tersusun rapi di dalam bingkai kaca.

Aku masih ingat saat-saat itu, Setiap kali bola mataku menatap dari balik tirai coklat yang menggantung, diantara bujur sangkar. Tampak dua orang lawan jenis seumuran sedang duduk di kursi. Manja. Tampak wajah cerah diantara keduanya. Mungkin, itu yang namanya jatuh cinta. Tapi entahlah, aku hanya seoarang anak bawang yang tak mengerti apapun. Anak yang dijauhkan dari pergaulan luar rumah. Yang dapat kulakukan hanya menatap dari balik tirai. Memandang apapun yang terlihat, termasuk mereka yang sedang duduk bercengkerama berdua.

Kini usiaku sudah hampir senja, pandangan tertuju pada kursi dan taman itu. Beda nya, dulu aku menatap dari balik bujur sangkar di atas sana. Jelas. Walaupun jauh. Kini aku memandang benar-benar dari garis horizontal. Kabur. Dan tak seindanh dulu. Saat kupandang Kursi itu patah, sedikit reot dan hampir hancur. Apakah sudah tak terawat? Ataukah dua manusia itu tak lagi memikirkan alam sekitarnya? Ataukah cinta itu telah usang? Ah, entahlah. Aku merasa masih tetap sama. Aku hanyalah Anak bawang yang tak mengerti apapun.

Berduel dengan Maut!

Berduel dengan Maut!
By : harjanto dc

Tubuh tinggi selalu jadi prasangka buruk. Kenapa? Apa yang salah dengan ketinggian. Menurutku tidak ada yang salah. Ya, kadang dalam kasus-kasus tertentu, misalkan saja saat berenang. Saat di kolam renang, seseorang dengan ketinggian akan selalu dianggap bisa jadi penolong jika terjadi insiden, atau bisa menyelamatkan dirinya sendiri waktu tenggelam. Benar sih, tapi ada kalanya orang tinggi yang lagi belajar berenang akan dianggap sedang becanda saat insiden itu mengenai ia sendiri. Sekitarnya tidak akan percaya dengan apa yan terjadi.

Nah itulah yang terjadi beberapa kali pada Ardi. Beberapa bulan yan lalu hampir saja ia tenggelam di perairan Baron, di sungai kecil yang terhubung dengan pantai selatan. Saat arus tiba-tiba membalik arah, beberapa orang terseret ke arah yang lebih dalam. Tiba-tiba Ardi pun ikut panik dengan segala keadaan, berusaha menggapai tepi dan memberikan sinyal kalau tenggelam dengan menggerakkan tangan. Namun, apa yang terjadi? Teman temen mengira Ardi sedang becanda dengan pura-pura tenggelam. Tubuh tinggi belum tentu kemudian bisa selamat di dalam arus ketika tidak bisa berenang.

Dan pagi ini kejadian terulang, saat lagi asyik berenang dan belajar untuk bisa berenang dengan gerakan yang benar. Mencoba di kedalaman 2 meter. Naas-nya, sebelum menggapai tepi, tenaga pun habis untuk menggerakan badan. Seketika panik dan tubuh pun bergerak seperti ada yang menarik ke bawah. Dengan tinggi 180 cm, kaki pun tak sampai dasar untuk tumpuan. Sempat menelan air tiga kali, baru kemudian salah satu teman menariknya keluar dari kedalaman.

Ada yang pernah bilang untuk bisa melakukan apapun yang mustahil maka perlu ada paksaan, seperti halnya untuk bisa berenang maka tenggelam adalah resiko. Kejadian-kejadian itu menginggatkan masa kecilku saat berenang di sungai belakang rumah. Tragedi yang sama, tenggelam di aliran yang sedikit deras. Dan waktu itu ada teman yang bernama Agus yang menyelamatkan nyawaku. Mungkin kalau tidak ada dia aku tidak ada sampai sekarang. Mungkin karena itu juga sampai sekarang aku tidak bisa berenang.

Tidak ada sesuatu yang musthil jika Allah berkehendak. Bukankah yang penting proses dari usaha itu? Yap. Walaupun harus tenggelam, tidak ada salahnya selalu mencoba. Hmm. Besok mencoba lagi untuk melakukannya. Kalau dipikir daripada berenang, memang lebih menarik track-trackan dijalanan. He…he…[]

MAUT!

MAUT!
By : Harjanto dc

Dreet…dreeet…glek…

Suara kendaraan sesaat berhenti di depan rumahku. Berpikir tamu yang aku nantikan sejak sore tadi sudah datang.

“Assalamu’alaikum…” Salam dari suara yang tidak begitu aku kenal.

“Wa’alaikumussalam…” Sembari membuka pintu kamar tamu, aku membalas doa yang diberikan sang tamu.

“Arbi ada?” Tanyanya kepadaku. Seolah ia begitu dekatnya dengan kakakku.

“Mas Arbi tidak dirumah.” Jawabku. Sambil mengingat-ingat wajah seseoarang yang ada di hadapanku.

Wajah yang sangat aku kenal. Suara, postur tubuh. Namun ada yang sedikit berbeda pada batok kepalanya. Ada segaris jahitan, seperti bekas kecelakaan. Dengan kumis sedikit tipis, dan jenggot yang hanya sedikit pula. Senyumnya menyerbak hingga aku mulai tersadar, kalau orang itu adalah tetanggaku. Seseorang yang dulu, mungkin beberapa tahun lalu sempat menempati sebuah rumah yang ada di ujung kampong.

Yup. Namanya mas Irfan (Samaran). Penampilan yang sekarang sungguh berbeda. Apa gerangan yang membawanya sampai ke istanaku. Ternyata ingatan tentang permainan bola kakakku masih menempel di kepalanya.

“Lha , ada apa mas?” tanyaku menyelidik.

“Tidak ada apa-apa. Hanya mau mengajaknya futsal.” Jawabnya sambil menaiki Revonya.

“Wah, aku juga bisa. Tapi, kalau sekarang tidak bisa.” Sembari menghibur kekecewaannya.

“Tenane1?” Ledeknya, seolah tidak percaya.

“Yo, tenanlah. Aku Kiper.” Kataku meyakinkannya.

Obrolan pun berlanjut, karena sudah sekian tahun ia tidak pernah lagi muncul di daerahku. Dari obrolan tanya kabar hingga pekerjaan serta masalah yang sangat pribadi.

Irfan mulai bercerita, bertanya kabar beberapa orang yang masih diingatnya. Hingga kemudian bercerita tentang musibah yang menimpanya beberapa waktu lalu. Sewaktu remaja Irfan adalah orang yang suka mendem2, pemakai (drug), dan beberapa kegiatan yang merusak hidupnya ia lakukan. Namun, Idul fitri tahun ini Allah memberikan hidayah dengan kecelakaan.

Kecelakaan itu menjadikannya tak sadarkan diri lebih dari 12 jam. Saat tidak sadar ia bercerita, ada sekelompok orang dengan pakaian putih bersorban melintas dan hendak membawanya pergi, namun seketika pemimpin dari sekelompok orang itu melarang untuk mengajaknya. Katanya pemimpin itu, “Ini belum waktunya dia ikut.”

Seketika Irfan bangun dari koma. Dan mulai menata hidupnya karena mimpi itu ia yakini sebagai teguran dari Allah. Semenjak saat itu, ia pun taubat, ibadah-ibadah wajib serta sunnah ia kerjakan.

Cerita pun terus mengalir, hingga tiba-tiba ia meminta Al Qur’an kepadaku.

“Kamu punya Al Qur’an, nggak? Kalau ada yang pake resleting.” Pintanya.

“Adak kok. Sebentar tak ambilkan.” Langkahku berbalik ke dalam rumah. Mengambil Al qur’an
yang jarang tak baca.

Alhamdulillah akhirnya Al Qur’an yang itu menemukan jodohnya. Yaitu mas Irfan. Selang beberapa saat tamu yang ku tunggu-tunggu pun akhirnya datang. Dan mas irfan pun pamit untuk segera futsal.

“Assalamu’alaikum…” sembari berjalan mengajak kami jabat tangan.

“Wa’alaikumussalam warrohmatullahi wabarrakatuh.”

***
Pelajaran : Kedatangannya pun adalah teguran Allah untukku. untuk lebih meningkatkan keimanan kepadaNYA.

Catatan kaki:
1 Tenane : benarkah?
2 Mendem: Minum-minuman keras

Full agenda, Full Barokah

Jum’at, 17 Oktober 2014
Full agenda, Full Barokah
By : harjanto dc

Seperti biasa usai jaga malam. Perjalanan panjang menuju istana bersama Legenda. Eist… bukan Legenda, namun si Silver. Legenda lagi sakit, usai perjalanan Delanggu Solo dengan jaraak tempuh kurang dari 20 menit. Ibu pun mengijinkan Silver keluar dari peristirahatan setelah hampir dua minggu berdiam di sudut kamar istana.

Agenda padat sudah terjadwal sejak beberapa hari. Kebetulan atau memang karena takdir, jadwal kerja yang tiba-tiba berubah menjadikan otakku bekerja keras untuk mengubah planing yang ada. Jadwal mengajar yang harusnya Jum’at ba’da sholat jum’at dan sabtu sepulang sekolah. Harus berubah menjadi hari jum’at semuanya. Mungkin karena Allah ingin memberikan kenikmatan di hari yang istimewa. Dan Alhamdulillah, hari ini benar-benar Full agenda sejak sepulang dari tempat kerja.

10.00
Dengan silver akhirnya sampailah di sekolah yang dulu pernah tiga tahun aku diami. Sekolah yang memberikan pengalaman pertama berorganisasi. Sekolah yang kemudian aku jadikan sebagai ladang dakwah. Lebih baik mengajar orang yang berada di area pendidikan, karena suatu saat ia akan jadi orang terpenting di dunia, dan akan memberikan pengaruh yang luar biasa.

Mengajar membaca Al Qur’an untuk Akhwat. Sebenarnya ada rasa yang kurang ‘gimana’ ketika bertatap muka dengan remaja perempuan. Namun, mencarikan pengajar akhwat masih belum dipertemukan. Sehingga untuk sementara waktu mengajar mereka tetap pilihan yang diambil. Setelah dimulai belajar hampir 2 bulanan, bacaan mereka sudah mulai membaik. Dan Alhamdulillah hanya mereka yang istiqomah datang setiap sepekan sekali lah yang mampu melafadzkan dengan lebih baik dan dengan latihan (tilawah) setiap hari yang akan menjadikan lebih baik lagi.

12.30
“Mas dwi, cepat buka pintunya!” teriakan salah satu adik kelas yang terburu-buru mau ke kampus.
Sholat jum’at pun selesai, tiba-tiba ada yang teriak merasa di dholimi. Semua ikhwan sholat jum’at dan pintu sekretariatan tertutup alias terkunci. Hampir semuanya panik, karena barang semua ada di dalam ruang sekretariat. Yang paling panik adalah seorang yang bernama Udin, karena jam satu harus sudah sampai Solo. Akhirnya dia pun berangkat ke Solo tanpa tasnya. Dan Alhamdulillah kunci motornya ada di kantong celana.
Semua berpikir, dan beruntung ada akhwat yang membawa kunci. Akhirnya meminjam ke tempat akhwat tersebut, sebab semua kunci yang dibawa ikhwan tertinggal di dalam ruangan. Sebagian mengambil kunci sebagian yang lain belajar Ngaji. Kelas pun selesai pukul dua siang.

14.30
Agenda pun berlanjut usai mengajar dua session yang sama. 200 lebih anak-anak sudah menanti di lapangan Ngadisari desa Mrisen. Outbond santri TPA Al Amin. Riuh anak dari usia PAUD hingga SD, dengan orator yang super keren, dan beberapa kakak pengajar yang super duper keren. Acara pun berlangsung dengan sangat menarik, tiga permainan untuk kelas TPA dan tiga permainan untuk kelas PAUD. Ditambah games-games seru dari tante orator. Akhirnya acara pun selesai dengan pesta Bakso di penghujung senja. Bertemankan cahaya orange di ufuk barat.

al amin

al amin 2

Di desa mrisen mengumpulkan 200 anak lebih hanya dengan satu TPA, jika dikelurahanku, mengumpulkan lebih dari 200 anak butuh TPA satu kelurahan. Itu adalah salah satu hal yang menjadikan TPA itu adalah TPA terbaik di Kecamatan Juwiring dalam kurun waktu beberapa tahun ini. Disamping umurnya lebih dari 28 tahun.

Tidak ada waktu yang sia-sia jika pekerjaan yang dilakukan adalah bermanfaat…

Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain…

17.30 (Maghrib)

Segenggam CINTA

Segenggam CINTA
By : Harjanto Dc

Wonosadi,
Pertemuan tanpa perkenalan
Kebersamaan tanpa kesepakatan

Karangmojo,
Kedua kali tanpa membekas
Sesekali mengenalnya

Semin,
Awal kisah berlanjut
Sebuah pertemuan yang dirindukan
Inspirator dalam kehidupan
Remaja yang tak kenal lelah
Kekurangan bukanlah penghalang
Kekurangan adalah kekuatan
Terulang dan slalu terulang
Dalam tiap bagian permata ada kekuatan

Ramadhan,
Kisah penuh berkah slalu terwarna
Hafalan yang tak pernah lekang
Tersambut dalam alunan rindu

Silaturahim,
Tak kenal maka tak sayang
Tak selalu dalam kebenaran
Sebab,
Tak kenal pun bisa lebih sayang

Antara Tukluk dan Banaran
Ada sebersit cinta yang mendalam
Bersemi dan kian subur dalam hati
Allah lah yang mempertemukan cinta

Antara Klaten dan Jogja
Jarak bukanlah penghalang
Jarak adalah kecepatan berbanding lurus dengan waktu
Karena dalam jarak ada cinta
Dan Allah memberikan cinta itu ada pada kalian

Terima kasih Permata ku
Terima kasih Permata Cendekia
Terima kasih atas Cinta dan Kasih Sayang
Terima Kasih Ya Allah
Permata Cendekia

“NDOL” FOREVER

“NDOL” FOREVER
by: Harjanto dc

Ngomong-ngomong soal hewan peliharaan. Turun temurun di rumah sederhana ini selalu sepi tanpa mereka. Si bulu lebat dengan empat kaki dan senjata pamungkas cakaran menjadi penghuni yang tak lekang oleh waktu. Dari jaman nenek masih hidup kami selalu memlihara mereka.

Dari si Bayek dan si Ndol (pertama) dua ekor anak kucing yang yatim-piatu karena induknya mati. Sejak lahir diurus oleh ibuku. Ibu menyayangi mereka seperti anak sendiri. Tiap hari diberi susu, disiapkan makan, dibuatkan tempat buang air dan kotorannya.

Seiring mereka besar. Bayek yang tidak pernah pergi dari rumah, tiba-tiba jalan-jalan dan itu adalah kali pertama Bayek pergi dan tak pernah kembali. Tinggalkan si Ndol (pertama ) seorang diri. Ndol (pertama) seolah menjadi penguasa, karena tidak ada rekan dalam maenghabiskan makanannya.

Ndol (pertama) pun tumbuh menjadi kucing dewasa dan seperti layaknya manusia. Ndol pun menemukan cintanya, menghilang bersama kucing perempuan tetangga.
Rumah ini sepi kembali tanpa mereka berdua, mereka adalah kesayangan adik laki-laki ku.

***

Selang beberapa bulan, entah sepertinya kucing-kucing liar itu tertarik dengan rumah ini. Makanan mungkin atau kasih sayang. Seekor induk kucing dengan tiga ekor anak mendatangi rumah kami. Warnanya mempesona dan cantik. Dua betina, dan satu jantan.

Adik senang sekali karena ada si manis yang mau tinggal di rumah. Adik memberinya nama Ndol untuk semua kucing kecil itu. Sebagai penghormatan atas Ndol yang pertama.

Ketiganya tumbuh dengan kasih sayang seperti yang Ndol (pertama) dan Bayek dapatkan dulu. Suatu ketika ada yang meminta kucing itu satu. Tapi kami tidak pernah memberikannya pada orang lain. Selang beberapa waktu, ada satu yang sakit dan akhirnya mati. Adik terlalu sedih kehilangan satu teman mainnya, namun semua itu cepat sirna karena kedua Ndol itu mampu memberikan tawa padanya.

Tersisa dua, karena semakin besar dan mereka makannya banyak, akhirnya yang betina diberikan kepada orang lain dengan rasa penuh kehilangan.

Ndol (kedua) menjadi kucing seperti Ndol (Pertama) penguasa, dan menang sendiri atas apa yang ada di rumah ini. Mungkin mengalami kebosanan yang mendalam, akhirnya Ndol pun mulai jarang pulang, kami tidak pernah tahu dia kemana. Mungkin karena posisi dia diambil alih oleh beberapa anak kucing yang tiba-tiba tinggal di rumah kami. Ndol (Kedua) adalah kucing paling penurut yang kami miliki, apapun yang dikatakan Ibu ia pun turuti. Ibarat manusia saat dimarahi, ia pun tertunduk diam.

Dan Induknya adalah kucing paling ngerti tatanan dan kesopanan, ketika meminta makan tidak naik meja akan tetapi mengeong dan mengangkat satu kakinya untuk memberi isyarat. Mungkin Ndol (kedua) mendapat ilmu dari genetik induknya.

Kini Ndol pun sudah hampir sebulan ini tidak kelihatan. Dan yang masih tinggal di rumah Induk dan beberapa adik Ndol.

Lalu…

Nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan? Saat hewan yang tidak punya akal pun bersikap layaknya manusia dalam menjalani hidupnya.

*salamNdol*Meong*

MBAK CANTIK

MBAK CANTIK
by : Harjanto dc

Hmm. Mbak cantik adalah nama sayang yang aku berikan kepada dua malaikat kecil itu. Dua anak yang sangat aku sayangi. Sejak lahir hingga usia mereka 5 tahun dan 3,5 tahun kebersamaan selalu terwarna dalam kehidupan kami.

Hari ini kami asyik mewarnai gambar yang ada dimajalah Hadila. Ada kemanfaatan pada Hadila yang tertumpuk di rak buku. Setelah selesai mewarnai kami belajar kosa kata bahasa arab. Mereka beruda anak yang unik serta cerdas.

Mbak cantik besar sudah TK nol besar dan mbak cantik kecil belum mau sekolah. Kebosanan tampak diraut wajahnya. Apa yang setiap hari ia lihat, yang dikerjakan mbak cantik besar, menjadikannya menganggap sekolah itu sesuatu yang mungkin tidak penting. Karena ia merasa mendapatkan dari orang-orang disekelilingnya.

Di rumah, mbak cantik kecil mendapatkan ilmu berjualan kelapa serta gula merah, di rumahku ia dapatkan ilmu berjualan pakaian dari ibu. Ketika bersamaku ia mendapatkan yang ia pinta, makanan, belajar sekolah, dan belajar mengaji. Dan bersama keluarga yang lain ia dapatkan persahabatan. Persahabatan dengan kakak perempuan yang usianya tidak terpaut jauh.

Dari mbak cantik besar lah ia mendapatkan ilmu sekolah. Ilmu yang dipelajari di sekolah, diterapkan bersama si kecil. Yup. Mereka akan terus menjadi penyejuk hatiku. Kini atau pun nanti.

Sayap yang Patah dan Kembali

Sayap yang Patah dan Kembali
By : Harjanto dc

Ari dapatkan adik yang ia impikan sejak kecil. Kedekatan yang selalu diharapkan, kini dengan adanya jarak harapan itu menjadi nyata. Dulu saat Ari yang ada di posisi adiknya, rasa-rasanya butuh tenaga ekstra untuk mendapatkan perhatian itu. Namun, kini saat adik yang di posisi Ari, justru mendapatkannya dengan lebih mudah.

Dulu Ari selalu mengira, adanya jarak karena sifatnya yang mungkin kata orang ia “kemayu”. Pada suatu ketika waktu dibangku SMP, saat Ari kelas 3 dan adik kelas 1. Ari 3 tahun lebih tua dari adiknya. Ada suatu kejadian yang menjadikan Ari berpikir adiknya malu memiliki kakak seperti ia. Disaat teman-teman Ari melontarkan perkataan yang tidak disukai adiknya.

“Hei…adiknya Ari yang kemayu.”

Tanpa pikir panjang, adik berusah membelaku dengan memukul teman-temanku. Nah, sejak saat itu Ari berpikir kalau adiknya malu punya kakak dengan sifat yang seperti itu.
Namun, prasangka itu sirna. Saat Ari dapatkan kedewasaan adiknya mempengaruhi pola pikir dalam kehidupannya. Kini tiga bersaudara yang semuanya laki-laki itu telah dewasa. Beda saat waktu kecil, Ari selalu menjadi bulan-bulanan kakak dan adiknya.

Waktu berjalan sebegitu cepat, ketika mengenang masa-masa itu rasanya ingin sekali kembali ke masa-masa itu. Namun, waktu tak akan pernah kembali. Masa depanlah yang harus dipikirkan.