s=vxt

s=vxt
by : harjanto dc

Jarak adalah kecepatan berbanding lurus dengan waktu. Jarak bukanlah hal yang kemudian mengendurkan semangat dakwah. Justru orang-orang yang kemudian istiqomah di jalanNya akan menjadikan rintangan atau ujian sebagai buah dari ke istiqomahan. Karena istiqomah tidak bisa didapatkan dengan berdiam diri. Namun, didapatkan dengan berusaha atau berproses dalam setiap aktivitas yang ada.

Kata Imam Ghazali, apa yang paling jauh dari hidupmu? Jawabnya adalah waktu yang telah terlampaui/ditinggalkan. Siapa yang bisa memutar waktu kecuali Allah. Manusia tidak akan pernah bisa kembali ke masa lalunya. Jadi sebisa mungkin bagaimana kemudian memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Bukankah sebaik-baik kalian adalah yang diberi umur panjang oleh Allah, dan paling banyak amalnya.

Kemudian apa yang paling dekat dengan hidupmu? Jawabnya kematian. Setiap anak adam yang terlahir ke dunia telah diikuti dengan takdir kematiannya. Namun, bagaimana kemudian manusia itu memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik mungkin. Mencari bekal sebanyak-banyaknya di dunia untuk menuju negeri akherat yang kekal. Siapa pun tidak tahu kapan dan dimana malaikat mautnya akan datang. Untuk itu berdoalah agar Allah menjemput dalam keadaan baik.

Penjelasan tentang istiqomah dalam surat Fushilat [41] : 30-32, bahwasannya ada 3 pelajaran yang dapat diambil : pertama janganlah engkau takut dengan masa depanmu, karena Allah selalu bersama orang-orang yang istiqomah. Kedua janganlah khawatir atau sedih dengan masa lalumu, sebab masa lalu orang-orang yang beriman insyaallah penuh kebahagiaan dan ketiga adalah optimis, karena Allah dan RasulNya adalah sebaik-baik penolong.

Saudaraku yakinlah akan waktu yang akan terus membersamai sampai ruh terlepas dari jasadnya. Sampai tetes darah terakhir yang engkau keluarkan dalam jihadmu. Sebaik-baik jihad adalah mengatakan kebenaran di depan pemimpin yang dholim.

Ini adalah hari pertama di bulan pertama hijiriyah, catatan amal setahun yang lalu telah Allah tutup. Diganti dengan kitab kosong untuk setahun ke depan. Apa yang sebaikan dilakukan, apakah akan terus menjadi manusia merugi dengan tidak muhasabah diri. Hisablah dirimu sebelum Allah akan menghisab di hari perhitungan kelak.

Allah telah menjamin atau menjadikan kita umat terbaik (Ali Imran [3]: 110), dan lalu bagaimana kemudian berusaha menjadi bukti konkrit dari ayat tersebut. Hidup adalah pilihan, seperti hal nya surga dan neraka. Semua tergantung dari apa yang kita lakukan sekarang, bagaimana kita menguasai waktu 24 jam yang diberikan oleh Allah. Semua manusia dengan waktu yang sama, hanya berbeda dalam pemanfaatnya saja.

Semoga kita termasuk hamba Allah yang pandai memanfaatkan waktu.[]

Mutiara Cintaku

Mutiara Cintaku
Oleh : harjanto dc

kenangan 12
Januari sebuah symphony yang klimak atas semua jawab untuk meninggalkan habitat lamaku. Bergerak maju dan terus maju. Yup. Bukankah manusia hidup dituntut untuk esok selalu lebih baik dari hari ini. Itulah sebuah keberuntungan. Sudah tak terhitung sebagai makhluk yang nomaden, hijrah dari satu tempat ke tempat lain untuk sebuah peningkatan taraf hidup. Sebuah klimak yang akhirnya jatuh di bulan Februari. Keinginan besar untuk hijrah menyeruak dalam hatiku, mengobarkan semangat juang yang luar biasa. Menutup segala kelemahan menjadikannya berjuta kelebihan untuk mencapai sebuah target tujuan yang luar biasa. Penghujung Februari, penyelesaian dari segala konflik batin di hatiku, sebuah keraguan yang sungguh sangat luar biasa menghantui setiap ujung jiwaku. Haruskan hijrah atau tetap tinggal dalam lingkungan yang kurang baik. Februari juga pertama kali karyaku terbit, sebuah kisah inspirasi kehidupan dalam sebuah antologi A Sweet Candy for Teens. https://mutiaramutiaracinta.wordpress.com/2012/02/05/antologi-a-sweet-candy-for-teens/. terima kasih bunda https://www.facebook.com/leyla.imtichanah?ref=ts&fref (bunda leyla).

Adaptasi adalah suatu proses yang sangat aku benci, memulai semua dari awal untuk membentuk sebuah populasi dan ekosistem yang baru. Maret menjadikanku manusia baru, dengan memilih untuk hijrah. Menyongsong masa depan yang menjanjikan. Sebuah hal baru, tantangan baru, ujian baru, semua harus dilalui dengan tahap awal yang namanya adaptasi. https://mutiaramutiaracinta.wordpress.com/2012/05/28/hijrah/.

Sebuah target kian dekat April 2013, tujuh tahun yang aku nantikan. Kurang setahun lagi. Ah, tidak tinggal beberapa lngkah lagi. April yang bersejarah, degup jantung mulai berdetak, mitiara kian memecah keheningan. Selalu ada yang istimewa di bulan April. April 2009 aku mendapat sebuah keluarga yang penuh cinta, https://mutiaramutiaracinta.wordpress.com/2012/02/02/fuir/ yang menentramkan hatiku saat semua orang tak menginginkan keberadaanku, Yayasan FUIR di Jakarta. April 2010 Allah memudahkan hijrah ke kota kelahiran. April 2011 Mendapatkan sebuah keluarga PELANGI https://mutiaramutiaracinta.wordpress.com/2012/01/02/kenangan/. Serta memulai belajar di Pondok Al Mahir di Karanganyar. https://mutiaramutiaracinta.wordpress.com/2012/01/18/mahir/. Dan April 2012 Allah menyempurnakan planingku, citaku yang suatu saat nanti bekerja pada institusi kesehatan di Klaten. Dan tujuan yang kian mendekat adalah April 2013, hari ini hanya bisa berharap, semoga bulan itu Allah menyempurnakan apa yang menjadi harapanku.

Mei, Allah selalu merencanakan sesuatu yang indah. Seiring waktu adaptasi yang aku lakukan selalu dipermudah, mungkin memang karena sifatku yang mudah bergaul, dan sekaligus pengakhiran masa percobaan tiga bulan yang sungguh sangat memilukan. Akhir yang indah serta sebuah awal yang menakutkan. Ketika dulu selalu sendiri kini beda. Yup. Kesendirian itu telah punah bersama kebersamaan dalam suatu ruangan bernama Laboratorium. Ada yang terselip sebuah kebersamaan di bulan Mei https://mutiaramutiaracinta.wordpress.com/2012/05/29/flash-back-to-sangiran/.

Juni, ada sebuah buku menarik yang baru bisa tereview setelah beberapa bulan. https://mutiaramutiaracinta.wordpress.com/2012/06/02/xie-xie-ni-de-ai-mell-shaliha/. dan Juli, https://mutiaramutiaracinta.wordpress.com/2012/07/29/ramadhan-ke-2-di-rs/. Pertama kalinya merasakan puasa di Rumah Sakit. Si kembar slalu terwarna istimewa menjelang Agustus yang selalu terkenang di hati. 8 Agustus 2011 adalah kenangan yang tak bisa terlupakan. Folder itu selalu tersimpan dibagian hatiku. Tentang sebuah peristiwa, tentang harapan dan masa depan yang sirna, namun tetap akan abadi dalam balutan cinta. Agustus 2012 ini aku masih saja mengingatnya. Genap 1 tahun. Yup satu tahun yang tak terasa kepergiannya. Masih belum bisa melupakannya. Dia telah mengajariku banyak hal, semua tentangnya terbingkai dalam https://mutiaramutiaracinta.wordpress.com/2011/08/10/puisi-terakhir-untuk-rinduku/.

Menemukan seorang yang istimewa. Berharap rasa yang telah lama sirna tergantikan, September, di ujung pulau jawa bagian utara aku menemukannya. Mengejar hingga ujung tahun, dan akhirnya sebuah pengakhiran yang indah, saat seorang itu mengatakan kepadaku hal yang sangat indah “Some day, you will get some who care with you”. Terimakasih sahabatku, semoga citamu tercapai. September pula kebahagiaan seorang sahabat 10-09-12, menjadi hari baiknya, melepas masa lajangnya. Penuh mutiara cinta membanjiri Ijab Qobul di kota Makmur.

Oktober pun sama, tahun ini jatuh bangun mengejar sesuatu. Mungkin Allah memang belum menghendakinya. Tepat 5 Oktober dia menghilang untuk kedua kalinya. Menghempaskan sayap, tak ingin seorang pun tahu keberadaannya. Pergi dan tak kembali.

November, mengenang masa bersama Yudis. Semoga Allah memberikan tempat terbaik disisiNya. https://mutiaramutiaracinta.wordpress.com/2012/11/15/salahkah-jika-aku-beda-full/. Tak ada yang istimewa, karena 10-11-12 telah diambil oleh seorang sahabat kembar. Sebuah kebahagiaan yang terwarna di Gajah Mungkur. TEPAT dan TERBAIK, Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?. 13-11-11, setahun yang lalu dan sampai sekarang dan sampai kapanpun mereka tetap keluargaku https://mutiaramutiaracinta.wordpress.com/2012/11/12/sepucuk-cinta-untuk-belahan-jiwa/. 20-11-2011 menemukan sebuah rumah yang nyaman, dengan segala aktivitas hebatnya. Be A Writer.

Desember, sebuah akhir. Justru Desember ini adalah sebuah kenangan. Kalau kata sebuah lagu Desember Kelabu. Tapi menurutku Desember 2012 ini sungguh sangat istimewa. Duka, bahagia, senyum, tangis menghiasi setiap jengkal hatiku. 03-12-12 dia menyelinap datang membisik dihati memberikanku sebuah nama ‘Om Rambutan’, serta dia mengajariku banyak hal seperti Rinduku mengajariku tentang arti kehidupan, tentang sangat berharganya sebuah mutiara. 16-12-12 ada yang terlupakan kang Kun Geia baroklalloh ya. masih ingat awal pertemuan kita https://mutiaramutiaracinta.wordpress.com/2012/07/09/the-lost-java/. 26-12-12 dia telah pergi bersama cintaNya yang abadi https://mutiaramutiaracinta.wordpress.com/2012/12/26/puisi-terkahir-untuk-sahabatku-habibah/. Serta 26 Januari tahun lalu aku kehilangan seorang yang sangat berharga https://mutiaramutiaracinta.wordpress.com/2012/01/27/nisan-di-atas-tanah-basah/. 27-12-12 sebuah janji yang tak pernah terjadi. 12-12-12 sebuah kenangan indah yang baru termulai. 31-12-12 akhir sebagai sebuah muhasabah, dan esok hari memulai sebuah kehidupan baru yang akan terwarnakan. Ada yang sedikit terlupakan tentang keberadaan anak-anakku, karena sejak sabtu kemarin mereka rihlah. Suara yang biasanya kini hening tak berasa. Meninggalkan sebuah kenangan tentang cinta dan kasih sayang https://mutiaramutiaracinta.wordpress.com/2012/08/04/week-end/.

Dan hari ini https://www.facebook.com/elrowi.abdurrahman?ref=ts&fref=ts (EL) dan https://www.facebook.com/outletspecial?ref=ts&fref=ts (Sekar) memberikanku kado istimewa di 13094-13091-1 mempertemukanku dengan seorang kawan https://www.facebook.com/echo.quds?fref=ts (Eko) serta teman lama https://www.facebook.com/Qihan.Akzanbak?ref=ts&fref=ts. (FQ) sampai lupa ada adikku di sana https://www.facebook.com/fujio.civil?fref=ts. Akhir yang mengharukan.

NISAN, DI ATAS TANAH BASAH

(Naskah Gagal Audisi)
NISAN, DI ATAS TANAH BASAH
Oleh: Harjanto Dc

Aku masih ingat satu tahun yang lalu, dia terkapar dengan nafas ngos-ngosan1 di sebuah ruang kecil di sudut bangsal. Ruang isolasi, sebuah ruang khusus untuk pasien yang mengidap penyakit menular. Tuberculosis Paru dengan Suspect KP lama serta Oedema Cerebri, itu info penyakit yang bisa aku tanyakan pada dokter penyakit dalam dan juga dokter spesialis syaraf yang menanganinya.
***

19 Desember 2010
“Assalamu’alaikum,” spontan aku kaget, pagi buta ada tamu mendatangi rumahku, dengan nada terbat-bata.

“Wa’alaikumussalam,” Ummi lebih dulu berlari ke pintu depan dan aku buntuti dari belakang, aku dapatkan seorang wanita setengah baya berdiri di depan pintu dengan nafas satu-satu, lengkap dengan mukena birunya. Tampak raut kegelisahan dalam dirinya. Aku berpikir, mengingat paras yang ada dihadapanku. Aku langsung pegang tangannya yang mulai lemas dengan sisa tenaga yang dimilikinya.

“Ini benar rumah Dwik,” mulutnya melepas kata dengan sisa tenaga.

“Dari mana Bulik tahu rumahku bahkan tahu namaku padahal aku bertemu hanya sekali, itupun saat aku sekedar mampir ke rumah mbah beberapa waktu lalu,” gumamku dalam hati.

Aku biasa memanggilnya bulik, karena secara urutan silsilah keluarga seperti itulah adanya.

“Dwik, bimbing Bulik sholat subuh, ya!” pintanya kepadaku.

Aku hanya menganggukan kepala dan membawanya masuk ke ruang tamu. Keadaan kian lemah, dan aku takut bulik akan pingsan. Aku dudukkan menghadap kiblat, dengan terus memintaku untuk membimbingnya. “Subhanallah,” terucap pelan dari bibirku, Allah masih menyayangiku, Allah masih memberiku kesempatan untuk berbuat baik.

Sholat subuh pun selesai, dan bulik memintaku untuk membacakan Al Qur’an, beberapa ayat aku bacakan. Mungkinkan hati Bulik merasa tenang, hingga dia tertidur.

Mentari mulai menyapa di balik pohon bambu di samping rumah. Aku bangunkan bulik, dan segera mengantarnya pulang ke rumah. Orang rumah pasti kuwalahan2 mencari bulik. Berjalan beberapa meter, dan aku tidurkan di ranjangnya.

“Bulik dan keluarganya baru tiba 2 hari yang lalu dari Jakarta ke Klaten. Sebenarnya untuk menenangkan diri, sudah hampir setahun belakangan ini keluar masuk Rumah Sakit. Lik War kuliah sambil kerja, sehingga memutuskan untuk perawatan di kampung. Ada keluarga Lik War yang bias merawatnya.” Cerita lik War kepadaku.

Aku pamit pulang setelah keadaan tenang. Aku berjanji pada bulik membelikan Al Qur’an dan buku petunjuk sholat.
***

Hari ahad, kebetulan atau sudah direncanakanNya. Aku mempunyai waktu lebih untuk segera menepati janjiku pada bulik. Aku sempat kebingungan, saat aku tengok dompet, ternyata uangku tidak cukup untuk membeli Al Qur’an yang besar. Aku pun berpikir sejenak, aku teringat pernah membelikan sebuah Al Qur’an besar untuk Ibunya teman. Tanpa pikir panjang dan tanpa malu aku langsung pinjam Al Qur’an itu dulu.

Setiba di rumah mbah, tidak aku temukan seorang pun kecuali bulik Yanti. Kata bulik Yanti, “Mbak Dewi di bawa ke Rumah Sakit.”

Tidak terlalu susah menemukan ruangan bulik, karena hampir seluruh ruangan di Rumah Sakit ini aku hafal lokasinya. Pintu masuk sebelah selatan, tepatnya di dinding sebelah kanan biasanya terpampang daftar nama dan bangsal pasien rawat inap. Bangsal Mina 22, Ny. Dewi alamat Juwiring. Segera aku menuju bangsal Mina, namun tidak aku temukan nama Ny. Dewi di daftar nama bangsal Mina. Aku tanya pada perawat jaga, ruang isolasi yang di tunjukkan oleh perawat jaga siang itu.

Aku tidak terlalu kaget saat harus menuju ruang itu. Ada lik War dan mbah Putri di luar ruangan. Aku bersalaman dengan keduanya, dan Mbah Putri berbisik padaku, kalau bulek memanggil-manggil namaku sedari tadi.

Ruangan kecil berjajar dari 21 sampai 24, empat ruang isolasi yang ada di bangsal ini. Aku masuk perlahan ke kamar 22, sebelum masuk aku pakai masker sebagai pelindung diri. Keadaan yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya. Seperangkat selang terpasang pada saluran pernafasan Bulek, Naso Gastrik Tube (NGT) namanya. Sebuah alat seperti selang panjang yang di masukkan ke dalam lubang hidung hingga sampai tenggorokan sebagai pengganti mulut untuk makan. bulik tidak bisa makan dengan mulutnya, karena bibir luar penuh luka, lidah muncul sariawan pula, dan tenggorokan terasa sakit untuk menelan makanan kasar. Terpasang pula Canul O2 pada lubang hidungnya. Keaadaan tubuh yang penuh selang. Aku menjadi bersyukur saat udara dapat dinikmati tanpa harus membelinya.

Saat aku pegang tangannya, bulik sadar kalau aku yang datang. Batuk yang kian keras dengan nafas ngos-ngosan, suara lirih agak sayup keluar dari bibirnya.

“Dwik, bacakan Al Qur’an ya!” Pinta bulik padaku.

“Ya,” jawabku singkat.

Aku ambil Al Qur’an dalam tas. Surat Al Baqoroh 153-158 mengalir merdu menghiasi seluruh ruangan, dengan nada sedikit sayu aku melantunkannya, hingga buliran mutiara terjatuh dari kelopaknya. Walaupun aku baru dekat dengan bulik tadi pagi, rasanya hubungan kita sangat dekat. Bahkan rasanya kita saling mengenal jauh sebelum hari ini. Memang hubungan kita sebatas keponakan jauh, menurut silsilah keluarga mbah-mbah pendahulu.

Keadaan bulik mulai tenang, aku pamit pulang karena masih banyak agenda yang harus aku selesaikan. Mulai saat itu, tiap waktu longgar aku menjenguk bulik. Tak terasa suasana Mina sedikit lenggang, taman samping bangsal menyambut hangat terik mentari siang itu.
***

20 Desember 2010
Senin, seperti biasa aku shift pagi. Senin ini terasa sedikit sepi, aku minta ijin dokter jaga untuk ke Rumah Sakit melihat keadaan bulik. Kantor dan Rumah Sakit untuk merawat bulik tidak terlalu jauh. Aku bekerja di sebuah Poliklinik 24 jam sebagai tenaga Laboratorium.

Saat aku datang, lik War sedang membacakan Al Qur’an. Aku tidak langsung masuk. Aku mendengarkan lantunan ayat suci dari ruang tunggu pasien. Selama tidak ada aku, lik War dan mbah Putri yang senantiasa menjaga bulik dengan penuh kasih sayang. Sekilas tersirat dari wajah lik War rasa was-was serta takut kehilangan istri yang sangat dia cintai.

Aku masuk ruangan setelah lik War selesai membacakan Al Qur’an. Hari ini keadaan bulik kian memburuk. Keadaan lebih buruk lagi ketika kamar sebelah, isolasi 21 terjadi jeritan sakaratul maut, teman beda kamarnya semalam meninggal dengan identifikasi yang sama dengan bulik.

Kegelisahan tampak pada diri bulik, berusaha melepas Canul O2, melepas jilbabnya, mengeser tubuhnya ke kanan, miring kemudian ke kiri balik lagi, seperti orang akan sakaratul maut.

Hari ini aku tidak membacakan Al Qur’an, karena lik War sudah membacakannya. Aku hanya membimbing untuk senantiasa Ightifar. Aku hanya bisa memberi semangat hidup untuknya, dengan mengingatkan pada kedua anaknya yang masih membutuhkan sosok seorang Ibu. Hani dan Acha terlampau kecil untuk kehilangan seorang ibu. Dua bocah yang belum mengerti apapun tentang arti kehidupan.

Aku hanya berusaha, bukankah Allah menyuruh kita untuk berusaha, tawwakal dan ikhtiar. Bukankah Allah tidak menyukai orang-orang yang berputus asa. Alloh berfirman dalam surat Ar Ra’d ayat 11: “…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…”

Hari makin siang, dan aku tidak bisa lama-lama di Rumah Sakit. Segera aku bangkit kembali bekerja, meninggalkannya sebentar dalam ketenangan dan keterjagaannya.
***

Senin Sore aku kembali menjenguk bulik, Keadaan kian memburuk hari demi hari. Aku menunggu dokter spesialis penyakit dalam yang menangani bulik. Aku penasaran dengan kondisi bulik, keadaan sebenarnya seperti apa?

Dokter spesialis penyakit dalam pun akhirnya visit. Dokter hanya menyarankan untuk banyak berdoa. Rekam medis dari rumah sakit sebelumnya di Jakarta pun tidak terbawa, sehingga semua proses pengobatan mengulang dari awal. Menurut ilmu medis pengobatan TBC tidak boleh terputus, itu yang aku pelajari. Hasil Laboratorium, Radiologi dan CT-Scan mengarahkan diagnosa Tuberculosis Paru dengan Suspect KP Lama disertai Oedema Cerebri3.

Kemungkinan sembuh terlalu tipis, akan tetapi keadaan Psikis sangat mempengaruhi kesembuhan suatu penyakit. Dorongan dan semangat orang-orang di sekitarnya serta keinginan kuat si sakit adalah kunci untuk bertahan selain harus terus berdoa. Aku sedih tapi aku bahagia. Sedih karena sakit yang enggan sembuh, namun bahagia saat-saat kritis bulik dibukakan pintu hidayah mengingat Allah. Sedikit orang yang di mudahkan kembali saat mendekati sakaratul maut.

Dokter pun keluar, aku perhatikan sekujur tubuh mulai kering, layu serta kurus bagaikan setangkai bunga yang lama tidak mendapatkan makanan. Sepeninggal dokter dari ruangan, masuklah serombongan tetangga menjenguk bulik. Aku sangat sedih ketika orang berbondong-bondong menjengguk tidak mendoakan, akan tetapi justru membicarakan si sakit di belakangnya. Kebiasaan yang tidak seharusnya dibudayakan masyarakat.
Tidak terasa sudah hampir 2 jam aku di Rumah Sakit, jam 4 sore harus ngajar4 anak-anak TPQ. Segera aku pamit keluarga dan meninggalkan bulik sementara waktu.
***

Rabu pagi, 22 Desember 2010
Sehari aku tidak menenggok bulik. Bekerja pun aku kepikiran bulik, bagaimana keadaannya? Sudah makan belum? Menangis ataukah tertawa? Pagi pukul 10.00, aku ijin lagi menjenguk bulik. Kamar 21, tampak tawa-tawa kecil mengelilingi bulik, saat aku lihat dari kejauhan. Bulik sudah berangsur membaik setelah beberapa hari kondisinya drop. Aku sedikit lega, NGT sudah dilepas, tersisa Canul O2 melintang di wajahnya yang mulai bersinar. Senyum kecil mulai terlihat di raut wajahnya. Bulik sudah bisa makan nasi dengan sayur, bahkan sampai request makanan ringan. Kebahagiaan terpancar dari suami dan Ibu dua anak itu serta mbah Putri. Aku pun turut bahagia, walaupun aku keponakan jauh di keluarga itu.
Melihat kebahagiaan itu, aku segera berdiri dan kembali ke tempat kerja dengan hati lega serta sedikit rasa was-was. Tapi, sebuah ganjalan ada di pikiranku, apakah ini tanda sakaratul maut? atau memang Allah memberi kesembuhan pada Bulik. Bukannya aku percaya mitos orang tua dulu. “Yen arep mati, biasane gawe seneng keluargane dhisik.”5 Namun segera aku tampik jauh-jauh dari pikiran itu. Semoga ini akan menjadi ini awal yang lebih baik.
Mentari akan segera ke peraduan, mega merah tampak di atas Merapi, mempesona dengan birunya cakrawala. Merapi tampak indah bila di pandang dari belakang Rumah Sakit. Bulik sudah di ijinkan pulang oleh dokter spesialis penyakit dalam, dan proses penyembuhan dilanjutkan dengan rawat jalan. Sore ini bulik akan pulang, aku tidak ikut mengantar pulang.
***

Sabtu, 25 Desember 2010
Dua hari aku tidak melihat keadaan bulik, karena kerjaan sedikit padat. Aku hanya mengandalkan SMS dengan keluarganya, selama dua hari keadaannya tampak baik-baik saja. Sabtu sore saudaranya yang dari Jakarta melihat keadaan bulik. Keadaannya memburuk lagi, beberapa saudara membacakan surat Yaasin di depan tempat tidurnya.
Aku berjalan menuju suara yang terus memanggilku. Aku pegang jemarinya dengan sangat kuat, di iringi lantunan surat Yaasin. Aku berusaha mentalqin bulik untuk bersyahadat, seluruh tubuhnya mulai dingin kecuali bagian leher ke atas sampai ubun-ubun. Aku dekatkan bibirku ke telinga bulik, dengan terus melafazkan kalimat syahadat. Berharap bulik kembali pada Allah dalam keadaan khusnul khotimah. Hingga pukul 22.00, hanya terdengar nafas kering di tenggorokan, udara keluar masuk seakan seret, seperti ada penghalang di antara tenggorokannya.

Seiring waktu terus berputar, aku pamit untuk pulang. Aku biarkan bulik bersama sebagian keluarganya yang terus melantunkan surat Yaasin. Hanya Allah yang tahu apa yang terbaik untuk bulik. Aku sudah mulai lelah, sayup-sayup penglihatan mulai mendera dan tubuhku pun perlu istirahat.

Aku berfikir sejenak, apakah malaikat maut telah siap mengambil nyawanya? Dimanakah malaikat itu? Akankah mengeluarkan ruh dari jasad dengan keras ataukah dengan lembut? Semua yang bernyawa pasti akan mati, tidak sekarang, mungkin esok atau lusa.
***

Ahad, 26 Desember 2010
Seiring adzan subuh berkumandang di segala penjuru, Malaikat pun akhirnya menghampiri, membawa ruh bulik kembali kepada pemilikNya. Derai air mata pun pecah, tak kuasa tertahan. Suami, mertua dan sanak saudara berasa kehilangan. Dua gadis belia yang tidak tahu apapun, hanya cengingisan6 di sudut kamar melihat Ibunya tertidur. Tidur panjang dan tak akan pernah bangun lagi. Air mataku sedikit mengalir di sela-sela garis wajah. Penyelasan yang dalam mengalir dalam darahku.
Kenapa aku tidak menyadari kalau Malaikat sudah bersiap menyambar bak Elang kelaparan di atas ubun-ubun bulik. Tanda sakaratul maut yang sudah di perlihatkan Allah di depan mata tidak aku mengerti. Aku tertunduk dan berdoa semoga bulik mengakhiri dengan lantunan dua kalimat syahadat yang aku talqinkan semalam.
***

Langit pekat serta awan pun menangis mengiring jenazah ke tempat akhir di semayamkan. Nisan, di atas tanah basah menjadi tanda terakhir tiap pusara. Semua telah berakhir, apa-apa yang bernyawa pasti akan mati. Tiga perkaralah yang akan mengikutinya, yaitu ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan anak yang sholeh. Semoga kita semua kembali dalam khusnul khotimah. Aamiin.

Catatan Kaki:
Ngos-ngosan1 (bahasa jawa) : tergesa-gesa
Kuwalahan2 (bahasa jawa) : Kebingungan
Oedema Cerebri3 : Penyakit penyumbatan pembuluh darah otak
ngajar4 (bahasa jawa) : Mengajar
“Yen arep mati, biasane gawe seneng keluargane dhisik.”5 (bahasa jawa) : kalau sebelum mati, biasanya membuat senang keluarga yang akan di tinggalkannya
cengingisan6 (bahasa jawa) : ketawa-ketawa kecil

MAHIR

MAHIR

Oleh: harjanto dc

Udara dingin menusuk permukaan kulitku pagi ini. Sungguh rasanya beda ketika makan sahur sendiri dan bersama anak-anak di Al Mahir. Kebersamaan yang menentramkan hati. Selama hampir tiga bulan ini aku mendapatkan sahabat sekaligus keluarga di Al Mahir yang begitu menyemangatiku untuk jadi lebih baik. Sungguh hal terindah, dan aku sangat berterimakasih kepadanya. Seseorang yang mengenalkanku pada sebuah pembelajaran Al Qu’an, darinya lah aku sampai ditengah-tengah mereka. Walaupun sekarang kini jauh, namun persahabatan tetap terukir indah. Kalau tidak sekarang suatu hari kita toh akan berpisah, setelah menemukan pasangan masing-masing.

Air wudhu terasa dingin sekali saat seluruh bagian tersirami dengan kusyuk. Sembari menunggu Subuh, aku lantunkan beberapa ayat Al Qur’an. Adzan pun berkumandang dari masjid pondok, di sebelah selatan asrama putra. Ustadz Subkhan sudah mendahului sebelum panggilan sholat dikumandangkan. Keluar dari asrama dengan kulit menggigil saking merasuknya udara dingin ke seluruh tubuh. Berjalan pelan, langkah demi langkah, sampai juga di Masjid. Baru beberapa jama’ah yang ada di dalam masjid. Bapak Keamanan Pondok selalu jadi jama’ah subuh pertama.

Subuh pun berlalu, dan yang menjadi kebiasaan di Pondok, alunan merdu ayat-ayat Alloh pun terdengar sangat indah ketika hampir semua santri putra dan beberapa jama’ah lain melantunkannya. Lantunan terdengar sampai matahari terbit, sekaligus melaksanakan Dhuha.

Karena pagi ini ada ujian menghafal, temen-temen mulazamah pun bersegera kembali ke asrama, mandi dan siap-siap ujian hafalan Al Qur’an. Aku pun kembali ke kamar setelah ikut kelas tahsin pagi, siap-siap pulang juga. Akh. Rino, Akh. Andi, Akh. Qohar, dan Ustadz Subkhan pun sudah berada di masjid, untuk ujian bersama. Setelah menulis beberapa lembar, karena semalam nggak sempat menulis, aku pun pulang sekitar jam setengah sepuluh pagi. Meninggalkan jejak di Al Mahir, melangkah menjauh kembali ke peraduan. Rasanya berat sekali ketika harus keluar melangkahkan kaki dari Al Mahir. Entah kenapa, seperti ada magnet yang menarik hatiku untuk senantiasa berada di lingkungan Al Mahir.

Legenda pun melaju seperti biasa, speed full, rem blong, dan klakson mati. Menelusur Adi Sucipto, lanjut ke pasar Kartosuro dan jalan Solo—Jogja, sirkuit panjang dengan medan lurus sedikit meliuk tajam di beberapa titik dan sungguh sangat menyenangkan ketika kebut-kebutan tanpa rem dan klakson. Menyalip besi-besi tua berjajar, truk-truk busuk dengan tebu yang manis, belalang tempur yang ngajak beradu dan sepeda onthel yang menyingkir dengan sendirinya. Hampir 3 bulan aku melakukan hal ini tiap kamis pagi.

Pukul sepuluh sampai rumah juga, setelah kutinggalkan kemarin malam. Ternyata kamarku ada penunggunya, si Ndol-Ndol melingkar di atas tempat tidurku tanpa rasa bersalah sedikitpun. Mukanya memelas, membuatku iba tuk kasih dia sedekah. Dengan suaranya yang khas, ia meminta makanan padaku, namun tidak ku gubris, langsung ku tinggal pergi. Rasanya capek sekali setelah perjalanan Solo—Juwiring.

Setengah dua melanjutkan perjalanan Juwiring—Klaten, Speed full, rem blong, dan klakson mati lagi. Sengaja tidak kuperbaiki, karena sangat menegangkan ketika mengendarai motor dengan keterbatasan, kehati-hatianlah yang akan kulakukan.

Hari ini aku merasa bahagia, Alloh memberiku banyak hal untuk selalu kusyukuri. Keluarga Al Mahir, Keluarga Pelangi, Anak-anak Taman Pendidikan Al Qur’an An Nur, Keluarga Matapena, dan yang paling membahagiakan aku masih memiliki kedua orangtua serta saudara-saudaraku. Mereka motivasiku, dan seseorang yang nantinya akan diciptakan Alloh untuk pendampingku selamanya. Suatu saat nanti. Aamiin.

Klaten, 07 Juli 2011

25 Desember

Rasanya hari ini berat tuk menulis, mata rasanya berkunang-kunang. Suhu badan meningkat, kaku terasa berat tuk berdiri. Jemari yang biasanya menari kini mulai lelah dengan tariannya. Namun, aku tetap berusaha menuliskan kisahku hari ini. 25 Desember, yang aku benci.
Sepuluh tahun sudah masa-masa itu terlewat. Masa yang ingin aku ingat sebagian, dan melupakan sebagian lagi. Namun, sampai kapanpun mereka hanya ingat kata-kata yang tak ingin aku dengar. Kata-kata yang menjadikan masa kejayaanku 10 tahun yang lalu dengan sosok yang lain. 3 tahun aku mendapat gelar yang tak ingin aku sebutkan lagi. Mungkin gelar itu yang menjadikan renggang persaudaraan antara aku dan adikku. Aku tak tahu pasti. Tapi, semua dimulai setelah kejadian di belakang kelas itu.

Al Qur’an dalam surat Al Hujurat Ayat 11 dijelaskan “…Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” Ayat itu secara jelas mengatur bagaimana memanggil setiap dari diri kita dengan nama yang baik. Tapi aku selalu tidak peduli teman memanggilku dengan sebutan buruk sekalipun. Aku tidak pernah marah. Aku selalu berpikir, panggilah dengan nama yang kamu sukai bila itu menyenangkanmu. Kesalahan terbesar saat aku melakukan itu. Dan semua itu baru aku rasakan saat pertemuan kamarin, setelah 10 tahun terlewat. Kalau aku tidak ingin mendengar panggilan itu lagi.

Aku masih ingat, saat teman sekelasku mengadu, kalau adik bungsuku menganiaya mereka. Ternyata adikku malu dan marah saat kakaknya disebut dengan panggilan itu. Mugkin sejak itu adikku mulai menjauh dan malu punya kakak sepertiku. Kakak yang cowok tapi terlalu lembut dan feminin, serta bersikap layaknya seorang cewek. (namun bukan cara berpakaian ya…)

25 Desember yang aku benci, namun merindukan. Aku dan temanku, Diky namanya yang menggumpulkan mereka setelah 10 tahun. Berharap semua dapat berkumpul, namun tidak lebih dari 50 % yang hadir, dan sekitar 5 % belum diketahui keberadaannya, serta 1 orang sudah kembali kepada pemilikNya beberapa tahun yang lalu. Dan yang sangat aku sesalkan, panggilan pertama yang dilontarkan dari mulut mereka bukan namaku tapi sebuah panggilan yang benar-benar tak ingin aku dengarkan lagi sejak lulus 10 tahun yang lalu.

25 Desember, aku benar-benar membencinya. Ingin segera ku akhiri pertemuan hari ini.

TRAGEDI

SUPER OUT BOUND KOJAIS
HUTAN WISATA WONOSADI
Duren, Beji, Ngawen, Gunung Kidul

Sayang aku terlambat. Karena ada sedikit agenda yang sudah terjadwalkan ahad 18 Desember 2011 kemarin. Kurang lebih 150 peserta dari dua organisasi Islam Kecamatan Sambirejo dan Ngawen Kabupaten Gunung Kidul dengan usia SD kelas 5 sampai mahasiswa serta yang tidak sekolah pun ikut andil dalam outbond dengan tema “Satu Jiwa Sejuta Karya” (kayaknya pernah dengar kata-kata ini sebelumnya deh…Ya. Bukunya Fachmy Casofa , numpang promosi). Aku orang asing yang tiba-tiba bergabung jadi panitia bayangan. Karena hanya aku yang berasal dari Jawa Tengah, sedangkan yang lain Yogyakarta. Beberapa permainan di Pos-pos dan semuanya serba alami. Di sebuah Hutan Wisata yang terletak di dukuh Duren Desa Beji Kecamatan Ngawen Kabupaten Gunung Kidul. Rerentetan pegunungan yang memisahkan Jawa Tengah (Kecamatan Bayat, Klaten) dengan Gunung Kidul (Yogyakarta).

Kendaraan harus di parkir satu kilometer dari kaki gunung. Karena jalan berbatu dan menanjak. Semua kendaraan di parkir di tempat sekretariatan atau juru kunci Hutan Wisata Wonosadi. Saat perjalanan ke puncak gunung dibimbing oleh salah satu juru kunci sebagai ‘Guide’. Tinggi dari kaki ke Puncak kurang lebih 3 km dengan jalan yang cukup landai (kalau dpl kurang tahu ya. he…he…).

Konon ceritanya Hutan itu ada yang menunggu (seseorang yang hilang di puncak pegunungan, dan menurut masyarakat setempat jasad dan ruhnya ada di puncak itu). Puncak pegunungan, oleh masyarakat desa dianggap tempat paling memiliki nilai spiritual. Dalam acara-acara adat selalu dilakukan upacara atau ritual. Apapun itu kami harus menghormatinya, tapi soal agama, ketika kami meminta hanya kepada Allah. (OKE)

Tidak hanya tempatnya yang alami, sejuk, tapi flora dan fauna pun dilindungi oleh Pemda Gunung Kidul. Beberapa jenis Aves, Amfibi, Serangga, Anggrek, dan beberapa hewan dan tumbuhan yang lain dapat kita temui disana. Kebetulan saat kita naik, mereka (Penanggung Jawab) sedang Reboisasi hutan. Beberapa tumbuhan yang tak layak hidup digantikan dengan tumbuhan muda yang lebih baik.

Diantara semua permainan di tiap pos, dan sport jantung saat menuruni jalan yang sangat landai dan licin. Lebih memacu adrenalin lagi adalah Flying Fox, pasti sudah tahu kan? Mungkin menurutku biasa, tapi tidak bagi anak-anak perbatasan ini. Semua anak mencoba permainan ini. Jeritan. Teriakan. Tangisan, bahkan diam tanpa emosi menjadi kenangan tersendiri bagi peserta.

Tragedi pun terjadi karena sedikit kesalahanku yang mungkin sangat fatal. Hampir mencelakakan satu peserta, karena lupa tidak mengaitkan tali rem saat peserta meluncur dari ketinggian. Bahu anak itu menabrak finish di seberang dengan kecepatan tinggi. Pohon Jati besar jadi tumpuan tuk berhenti. Kakak yang di seberang pun kaget, ketika peserta meluncur tanpa henti. Jantungku berdebar kencang, takut terjadi apa-apa pada si anak. Aku berlari ke bawah menuruni bukit, dan anak itu di tidurkan terlentang untuk mendapat perawatan dari tim relawan. Kakak instruktur lebih takut daripada aku, dia jongkok dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya, seolah kecewa dengan bantuan yang aku tawarkan. Dan menjadikan satu tragedi yang harusnya tidak terjadi. Kakak Instruktur pun mengikuti aku turun ke arah anak tadi. Saat di interogasi anak itu hanya diam, pucat, tapi dia bilang tidak sakit. Aku suruh minum air putih yang banyak dan membiarkan istirahat sejenak. Semua lega anak itu tidak kenapa-kenapa. Tragedi itu tidak menjadikan yang lainnya takut, justru mereka lebih antusias tuk mencobanya. Permainan tetap berlanjut sampai kakak relawan ikut meluncur termasuk aku tidak ketinggalan.

Tidak terasa kami hampir seharian di Hutan Wisata Wonosadi. Dari jam 8 pagi, sampai jam 3 sore. Agenda kami tutup dengan kesan dan pesan dari peserta, kakak panitia serta relawan training. Rasanya ingin mengulang lagi berbagi dengan alam. Masih banyak lagi wisata di Gunung Kidul, Seperti pantai Sundak, Krakal, Kukup, Sepanjang, Baron. Rerentetan pegunungan kidul yang melebar menjadi perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta yang hijau tampak alami serta Goa-goa disekitarnya.

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

So, ada yang mau ikut agenda berikutnya… Ini kisahku mana kisahmu.

AHAD PERTAMA DI BULAN TERAKHIR

Ahad pertama di bulan terakhir tidak ubahnya ahad-ahad biasanya. Aku mulai mencoret-coret kalender, menghitung mundur pertemuan terakhir dengan teman-teman. Rasa-rasanya tiga bulan adalah waktu yang sangat cepat sekali. Tak terasa sudah menginjak bulan terakhir kebersamaan. Tiap pertemuan pastinya telah ditetapkan perpisahan. Seperti yang terjadi hari ini di Sirkuit Sepang Malaysia, seorang pembalap yang beberapa waktu lalu sempat diunggulkan, hari ini diunggulkan di akherat. Sebuah kecelakaan mencabut nyawanya, mengakhiri mimpi dunia, dan mempertanggungjawabkan di pengadilan tertinggi. Tak seorang pun bisa memperkirakan kematian, termasuk juga diriku. Baikkah sudah diri ini? Siapkah tuk kembali? Muhasabah Cinta kepadaNya sudahkah?

Ahad hari ini, kembali seperti biasa, darah, urine, faeces dan dahak senantiasa menjadi teman dan sumber kehidupan duniaku. Berusaha menyelamatkan nyawa orang lain atas ridho Alloh. Karena hanya Alloh yang meyembuhkan perantara tim medis. Darah rutin, SGOT, SGPT, Ureum, Creatinine, dan HbsAg selalu menjadi senjata utama memecahkan beberapa kasus. Memang hanya sekedar penunjang medis, namun sungguh manfaatnya sangat besar sebagai penunjang diagnosa penyakit. Hampir seluruh penyakit terdeteksi lewat pemeriksaan laboratorium.

Sungguh aku tak pernah menyangka kalau hari-hariku akan seperti ini. 3,5 tahun yang lalu, aku yang tak pernah tahu apa itu Analis, tak tahu ini-itu. Sungguh hari ini, hal itu sangat menyenangkan. Teringat saat menimba ilmu bersama teman-teman, sangat menyenangkan, rasanya ingin kembali ke masa-masa itu. Bermain, belajar, olok-olokan, nangis semua rasa bercampur, tumpah ruah membanjiri seisi kelas. Dimana mereka semua, sudahkan malaikat-malaikat kecil menghiasi rumah mereka? Ku merindukan kebersamaan kita. Merindu tuk bertemu kalian…

Ahad hari ini, ku mulai detik penghabisan, akhir ceritaku bermula. Sosok kematian kian mendekat, terus dan terus mendekat tanpa seorangpun merasakannya.

Ahad hari ini, ku mulai semua harapan, awal sebuah kesuksesan catatan hidupku. Hamparan sorban putih mendekap erat jasadku. Mutiara-mutiara kecil bercahaya membanjiri tiap sudut ruangku.

Ahad hari ini apakah akan jadi ahad terakhir untuk hidupku?

Ahad hari ini, semoga menjadi ahad terindah yang pernah ada.

Ahad pertama di bulan terakhir…

Ahad, 23 Oktober 2011