Sepenggal Kisah

Sepenggal Kisah

By : Harjanto dc

Berubah. Hampir semua telah bergeser. Padahal saat tatapan dari kotak mungil kebanggaanku di atas sana, semua tampak indah. Rumah di seberang jendela kamarku tampak mewah dengan pepohonan rindang dan sebuah taman mengitarinya, seperti halnya miniatur arsitek yang tersusun rapi di dalam bingkai kaca.

Aku masih ingat saat-saat itu, Setiap kali bola mataku menatap dari balik tirai coklat yang menggantung, diantara bujur sangkar. Tampak dua orang lawan jenis seumuran sedang duduk di kursi. Manja. Tampak wajah cerah diantara keduanya. Mungkin, itu yang namanya jatuh cinta. Tapi entahlah, aku hanya seoarang anak bawang yang tak mengerti apapun. Anak yang dijauhkan dari pergaulan luar rumah. Yang dapat kulakukan hanya menatap dari balik tirai. Memandang apapun yang terlihat, termasuk mereka yang sedang duduk bercengkerama berdua.

Kini usiaku sudah hampir senja, pandangan tertuju pada kursi dan taman itu. Beda nya, dulu aku menatap dari balik bujur sangkar di atas sana. Jelas. Walaupun jauh. Kini aku memandang benar-benar dari garis horizontal. Kabur. Dan tak seindanh dulu. Saat kupandang Kursi itu patah, sedikit reot dan hampir hancur. Apakah sudah tak terawat? Ataukah dua manusia itu tak lagi memikirkan alam sekitarnya? Ataukah cinta itu telah usang? Ah, entahlah. Aku merasa masih tetap sama. Aku hanyalah Anak bawang yang tak mengerti apapun.

Advertisements

mutiara cinta

MUTIARA CINTA
Oleh : Harjanto dc

“Hentikan Ummi…”

Rindu tidak pernah sekalipun membentak seorang yang biasa ia panggil dengan sebutan Ummi. Mutiara-mutiara itu mulai menggelinding jatuh dari kelopak matanya. Suasana kamar sedikit tenang. Hening.
Ummi meninggalkan kost Rindu dengan simpul wajah kekecewaan. Rindu masih duduk bersimpuh dengan mutiara yang terus mengalir dari kedua matanya. Pintu kamar masih terbuka selepas kepergiaan Ummi. Dan seolah kata-kata yang baru saja terucap dari bibir Ummi terus menggema di dalam kamar.

“Pergiii!” Teriak Rindu sambil menutup kedua genderang telinganya.

Hisan tiba-tiba muncul dihadapan Rindu. Tanpa salam Hisan sempoyongan mendekati tubuh Rindu yang kian lemas.

“Ada apa Rindu?” Hisan mencoba menenangkan hati sahabatnya.

Rindu masih tetap dalam posisinya, tidak pindah sedikit pun. Mutiara itu terus mengalir tidak terbendung. Entah apa yang sudah terjadi, bibirnya masih kelu untuk mengungkap semunya.

“Berdirilah Rindu!” Hisan memapah tubuh yang berlumur peluh dan air mata.
Seiring isakan yang kian menjadi, Rindu memeluk tubuh Hisan. Lirih Rindu berbisik pada Hisan.

“Aaku…Aaa….”
Belum sempat Rindu membisikan, tubuhnya sudah terjatuh dalam dekapan Hisan. Tidak sadar.
***

“Ummi tega.” Dengan nada sedikit meninggi, Rahmat menimpali pengakuan Umminya.

“Semua demi kebaikanmu, bang.” Kata Ummi membela diri.

“Kebaikan yang mana Ummi?” Rahmat masih keras kepala.

“Ummi membesarkannya hingga menjadi perempuan yang sholehah. Perempuan yang taat kepada orangtua. Lihatlah! Laki-laki mana yang tidak tertarik pada adikmu? Apakah Ummi salah menginginkannya menjadi menantu di rumah ini? Sudah saatnya adikmu membalas kebaikan Ummi. Sudah ikuti kata-kata Ummi!” Semua diam.

Ummi pun meninggalkan ruang keluarga, berharap Rahmat memikirkan kembali penolakan rencananya. Rahmat pun segera ke rumah sakit. Rahmat seorang dokter spesialis saraf.
***

Ruang jingga yang cukup luas, tepat sepandang mata sebuah televisi kira-kira dua puluh sembilan inci tergantung diatas. Kamar mandi di pojok sebelah kiri bersebelahan dengan pintu masuk depan. Almari kecil di kiri tempat tidur. Sofa panjang disebelah kanan tempat tidur, tepat dibawah jendela yang bersebelahan dengan pintu masuk belakang.

Duduk termenung seorang diri diatas sofa abu-abu, seorang perempuan tinggi, tubuh agak besar serta berjilbab biru, sesenggukan bersama mutiara yang sedikit mengalir di pipinya. Hisan. Miftahul Khairati Hisan nama lengkapnya, sahabat karib Rindu.

Telunjuk kanannya tiba-tiba bergerak pelan diikuti seluruh jarinya serta kedua matanya sayup terbuka. Sadar.

Diraihnya tangan kanan Rindu. Rindu Rahmawati nama lengkapnya. Dengan penuh hangat dieratkan jemari kedua telapak tangannya. Hisan tak ingin melepaskan sekejap pun, seiring mengusap butiran-butiran kecil dari kedua bola matanya.

“Alhamdulillah….” Terucap lirih dari bibir sahabatnya.

Sembari terus merekatkan jemari, dipeluknya tubuh Rindu yang mulai sedikit demam. Terdengar lirih suara dari bibir manis perempuan yang baru genap berusia dua puluh satu tahun itu.

“Dimana aku? Siapa kamu?” Hisan sedikit melonggarkan genggaman jemarinya, berpindah memegang wajah yang masih tampak lesu didepannya.

“Astaghfirullah….” Hisan sedikit tercekat dengan kata pertama yang terucap dari bibir sahabatnya.

“Ini Hisan. Sahabatmu.”

“Hisan. Siapa?”

“Hisan. Teman masa kecilmu.” Sekuat tenaga meyakinkan, namun Rindu tetap tidak mengingat siapa itu Hisan.

Hisan pun terperanjat, serta terus melafazkan asma Allah dan keluar menuju ruang keperawatan, memberitahukan keadaan sahabatnya. Gemuruh dihatinya terus bertanya-tanya. Apa yang yang terjadi dengan Rindu?
***

“Alzhaimer. Tidak mungkin. Dokter pasti bercanda.”

“Baru gejala dokter Rahmat.” Dokter Ibrahim menegaskan penyataannya.
Rahmat memukulkan kepalan tangannya ke tembok di sebelah pintu kamar bangsal ZamIII.

“Adikku hobi membaca dan menulis, sejak kecil selalu juara. Bukankah Alzhaimer itu penyakit pikun pada orangtua? Dan Adikku, usianya baru genap 21 tahun. Usia yang masih belia untuk mengidap penyakit itu.” Tatapannyanya kosong selepas dokter pergi.

Tiba-tiba Ummi menepuk pundak Rahmat dari belakang, dan spontan Rahmat memeluk tubuh Umminya dengan sedikit leleran mutiara mengalir dari pipinya.

“Apa yang terjadi, bang?”

“Dik Rindu. Ummi.”

“Adikmu kenapa?”

“Adik mengidap Alzheimer.” Rahmat terdiam.

Ummi pun terdiam, tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Hening. Beku. Suasana hati kian sunyi seiring bangsal yang mulai sepi pengunjung.

“Ummi…mii…,” dari dalam kamar terdengar sayup suara yang memecah keheningan di lobi bangsal.

“Iya. Ummi disini Rindu.”

Ummi berlari meninggalkan Rahmat yang dilanda kekacauan hati dan pikiran. Rindu mengigau. Hanya nama Ummi yang ia pikirkan. Seorang yang sangat ia hormati dan cintai.

“Sabar Ummi.”
Hisan mendekati perempuan separuh baya yang ada di depannya. Saking akrabnya degan Rindu, Hisan pun sering memanggil Ummi Rindu dengan sebutan Ummi juga. Ummi terus menggenggam erat jemari dan menatap wajah yang tampak layu dihadapannya.

“Semua salah Ummi.” Gerutu ummi dengan sesekali sesenggukan.

“Maksudnya apa, Ummi?” Selidik Hisan penasaran.

“Tidak…tidak ada apa-apa, Hisan. Pulanglah! Terimakasih sudah menjaga Rindu. Maaf bukannya mengusirmu, tapi Ummi ingin berdua dengan Rindu.”

“Baiklah Ummi, Hisan pamit. Assalamu’alaikum….”

“Wa’alaikumussalam warrohmatullahi wabarrokatuh.” Ucap Ummi lirih.

Hisan meninggalkan kamar rindu, membiarkan dua hati berbicara dengan bahasa jiwa.
Rahmat masih di lobi, duduk bersandar tembok ruang ZIII. Menekuk kedua kakinya, serta menempelkan kedua tangannya di kepala. Rahmat masih belum bisa menerima nasib adiknya. Adik yang sangat disayangi sejak kecil. Sejak ia menjadi bagian dari keluarganya.
***

Seminggu pun berlalu, Rindu sedikit membaik serta sudah diperbilehkan pulang. Tiba-tiba ia mengenal semua orang yang ada di sekitarnya. Karena baru gejala Alzhaimer, amnesia yang dialami Rindu pun sesekali sembuh dan sesekali kambuh.

Langit senja telah tampak dikejauhan. Duduk termenung berhampar rumput hijau yang seolah menguning karena cahaya senja. Gamis serta jilbab merah jambu menutup seluruh tubuhnya. Pandangannya kosong ke langit senja.

“Sedang apa nak?” Suara lirih menggempur lamunan Rindu.

“Eh, Ummi. Sedang duduk saja kok.”

“Boleh Ummi duduk?” Dengan penuh kehati-hatian Ummi rangkai kata-demi kata.

“Kenapa harus minta ijin Rindu Ummi?”

“Rindu. Ummi mau bicara.” Kedua tangan Ummi menggenggam tangan Rindu, dengan tatapan penuh kasih sayang.

“Tentang apa Ummi?”

“Tentang kata-kata Ummi kemarin?”

“Sudahlah Ummi, tidak usah dibahas lagi!” senyum simpul penuh kesedihan dilempar kepada Ummi.

“Tidak Rindu. Ummi minta maaf. Semua salah Ummi. Ummi egois. Apakah masih pantas Ummi menjadi orang tua yang baik, setelah perlakuan Ummi kepadamu. Jujur Ummi takut kehilangan Rindu. Ummi lupa, niat awal menjadikan Rindu dalam keluarga kami. Karena kami ingin mempunyai anak perempuan.” Dengan penuh cinta dan kasih sayang, Ummi berusaha menjelaskan semuanya, bahkan butiran-butiran bening pecah diantara tatapan keduanya.

“Cukup Ummi. Tak sepantasnya orang tua meminta maaf pada anaknya. Apa yang dilakukan orang tua pastinya mempunyai beberapa pertimbangan sebelum mengadilinya. Bukankah dari kecil Rindu selalu nurut kepada Ummi, tidak pernah sekalipun perintah Ummi terabaikan. Namun kali ini, dengan berat hati Rindu tidak bisa memenuhi permintaan Ummi. Tidak mungkin Rindu menikah dengan orang yang dalam hati adalah kakak. Semoga Ummi memakhluminya.” Mutiara-mutira cinta terus berjatuhan seiring pengakuan Rindu.

“Iya, benar apa yang Rindu katakan. Kemarilah peluk Ummi sayang!”

“Walaupun Rindu bukan anak kandung Ummi, tapi sampai kapan pun Rindu akan tetap jadi anak Ummi.” Disela kebahagiaan terbisik sebait kata dari bibir Rindu di telinga Ummi.

animated gifs

BELUM ADA JUDUL (PART 1)

Oleh : Harjanto dc

Suasana sedikit mencekam, suhu malam mulai mencabik kulit terluar badan Anto yang tidak tertutup jaket. Pondok Tafidzul Qur’an juga sudah terlihat sepi. Sebagian santri sudah terlelap bersama hafalannya. Anto melangkah masuk lewat pintu samping, berjalan di belakang ustad Ahmad yang lebih dulu masuk. Anto sering mampir ke pondok. Saking senangnya mendengarkan remaja yang antusias dengan hafalan Al Quran, serta terbesit keinginan untuk bisa menghafal. Usia Anto sudah menginjak seperempat abad, namun hari-harinya yang terlewat sedikit jauh dari Al Quran.

“Kamu tidur sini?” Tanya ustad Ahmad.

“Tidak. Besok ada agenda.” Jawab Anto sembari membuka kitab-kitab koleksi ustad Ahmad yang tertata rapi di rak.

“Agenda apa?”

“Teman nikah.”

“Lha, kamu kapan?” celetuk ustad Ahmad.

Anto terdiam. Pertanyaan ustad Ahmad bagaikan halilintar di langit cerah. Umur Anto dua tahun lebih tua dari ustad Ahmad. Namun, sampai detik ini tak kunjung juga menikah.

“Ustad duluan saja!” Balas Anto mengalihkan.

Ustad Ahmad tidak menjawabnya, namun tiba-tiba muncul pertanyaan lain dari mulut ustad Ahmad.

“O, Iya, Aira itu teman kamu ya?”

“Aira. Bukan, tapi teman Andri. Temanku yang besok menikah.” Dengan nada datar Anto menjawab pertanyaan ustad Ahmad.

“Bukankah dulu sempat jadi santri ustad Ahmad di Pondok Tafidzul Qur’an yang di Solo?”

“Masa sih?”

“Iya. Seingatku.” Anto berusaha memperjelasnya.

“Menurutmu, Aira itu bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”

“Ya. Agamanya, pribadinya, semuanya-lah.”

“Semuanya baik. Insyaalloh.” Jawab Anto dengan nada datar.

Tak terasa malam telah larut. Anto pun memutuskan untuk pulang, karena esok hari ada acara sakral. Jalanan kota telah lenggang, tak seekor belalang maupun kijang melintasinya. Sunyi. Hanya Legenda kesayangannya yang melaju dengan kecepatan luar biasa, berasa menjadi pemenang malam itu.
***

Malam telah berganti. Fajar telah menyingsing. Semua orang telah siap di halaman rumah Andri. Avansa hitam yang berhias telah siap mengantarkan Andri menuju satu tingkat peubahan dalam hidupnya. Andri adalah sahabat Anto sejak masih duduk dibangku SMP. Karena Nomor urut absen yang berurutan menjadikannya kian dekat ketika ujian sekalipun. Usia mereka terpaut satu tahun lebih tua Anto. Mereka sempat berpisah selama hampir tujuh tahun setelah keduanya melanjutkan SMA dan kuliah di tempat yang berbeda. Dalam reuni SMP beberapa waktu lalu mereka pun dipertemukan kembali, dan sejak saat itu hubungan mereka tampak lebih akrab kembali.

Dreet…Dreeet…Dreettt…. Getaran terasa dari kantong celana Anto. Satu pesan singkat diterima.

“Mz, pagi ini bisa datng ke pondok? Tlng diushkan. Pnting!.”

Anto setengah tidak percaya ada pesan di Handphone-nya, dari seorang yang telah memutuskan komunikasi beberapa waktu lalu. Sejenak Anto terdiam, dan tidak segera membalas pesan tersebut.

Dilihat dan dibacanya lagi pesan itu dengan seksama. Degup jantungnya kian cepat. Detak yang tak seperti biasanya.

Anto berjalan ke belakang rumah, mencari tempat yang sedikit sepi. Menghindarkan diri dari kecurigaan Andri, dan tidak ingin melihat sahabatnya ikut cemas dengan apa yang terjadi padanya.

Handphone itu dipegang, klik tombol menu, jemarinya langsung tertuju pada kontak nama yang tadi kirim pesan padanya. Calling. Tuut…tuut…tuuut… Tidak ada jawaban dari seberang. Raut muka Anto kian pucat, dilapnya peluh yang melintasi pelipis matanya. Akhirnya, Anto putuskan untuk membalas SMS tadi.

“Adik ingat kan ini tgl berapa? Mas Andri kan nikah. Tidak mungkin mas mnggalkannya sekarang. Ini juga mau brngkat. Tidak mungkin mas PP dalam 1 jam. Mas usahkan stelah Aqad Nikah ya?”
Pesan terkirim.

Selang beberapa menit, ada satu inbok balasan.

Kata yang sangat singkat, tanpa narasi. “Ya.”

Pikiran Anto mulai berjalan tidak tentu arah, menyimpulkan jawaban

“Ya” dengan berjuta makna.

Dalam hati Anto bergeming sendiri, “Ini bukan jawaban Aira. Lalu, apakah ada orang lain yang memakai Hp Aira? Ah, entahlah.” Anto memijit dahinya yang sebenarnya tidak sakit.

“Anto, kamu sakit ya?” Tiba-tiba Andri memecah lamunannya.

“Ti…tidak kok.”

“Terus kamu kenapa pucat gitu?”

“Masa sich? Aku tidak apa-apa. Lupakan saja! Ini kan hari bahagiamu.” Anto berusaha menyingkirkan kecemasan sahabatnya, dengan mengalihkan pembicaraan.

Dalam sendiri Anto terus saja berpikir dengan SMS yang baru saja diterimanya. Sebuah pesan yang menurutnya terlalu istimewa. Aira. Pikiran Anto tertuju pada dua nama yang mungkin akan menghampirinya nanti siang.
***

Rumah dengan halaman yang agak lebar, tepat di pinggir persawahan. Pemilik rumah serta para tamu undangan sudah menanti kedatangan Andri dan rombongannya. Menyambutnya dengan penuh rasa syukur.

10.15

Anto duduk disebelah kanan Andri, Ayah serta saksi dari mempelai laki-laki duduk disebelah kiri Andri. Saksi dari mempelai perempuan duduk didepan Andri, sedikit disamping kanan penghulu. Ayah mempelai perempuan serta petugas dari kelurahan disamping kiri penghulu. Dan Shofi duduk dibelakang hijab. Terlihat Andri dengan penuh ketenangan. Namun disebelah kanan Andri, Anto masih memikirkan SMS tadi pagi, dan jantungnya pun berdegup tidak karuan. Takikardi.
Andri yang menikah, namun Anto yang deg-degan.

“Saya terima nikahnya Shofi binti Daliman dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan 10 gram, dibayar tunai.” Dengan lantang Andri melafadzkannya.

Alhamdulillah. SAH. Dari ta’aruf, khitbah hingga hari ini Walimatul ‘Ursy semua berjalan sesuai rencanaNya. Sebuah awal yang akan menjadikan perubahan dalam hidup Andri.

Dengan rasa penuh haru, Anto memeluk tubuh sahabatnya, melemparkan kecupan manis di pipi kanan dan kirinya, mutiaranya pun berjatuhan tidak tertahankan.

“Barrakalloh, sahabatku.” Anto membisikan sebait doa untuk Andri, sebelum akhirnya Anto pamit, menyelesaikan urusan yang sudah menunggunya.

“Aku pamit ya.” Bahagia bercampur kegelisahan, Anto pun meninggalkan sahabatnya.

“Iya. Hati-hati. Semoga urusanmu dimudahkanNya.”

“Aamiin.

Anto berjalan di antara tamu yang berjubel. Hingga sedikit kesusahan untuk bisa sampai di pintu masuk rumah.
***

Legenda pun melaju dengan kecepatan penuh. Yang ada di pikiran Anto adalah segera sampai pondok, bertemu dengan Aira. Mencari jalan tercepat untuk segera sampai.

Bangunan masjid besar yang menjadi pintu gerbang pondok. Ruang administrasi santri putra di sebelah masjid. Tak seorang pun terlihat di area ini. Anto parkir legendanya di halaman samping masjid.

Masuk lebih dalam, mengambil air wudhu kemudian sholat tahiyatul masjid. Berdoa pada Alloh, semoga sms tadi pagi adalah pertanda baik.
Dreeet…drettt…dreeet… satu pesan masuk inbok. Dibukanya dengan perlahan dan bismillah. “Sdh sampai mz?”

“Sudah, Mz di masjid, sbnrnya ada apa?”

“Gpp.” Sebuah balasan singkat lagi, yang menjadikan Anto semakin bertanya-tanya.

Waktu pun terus berlalu, namun Aira atau pun orang lain tak ada juga yang menghampirinya di masjid. Resah. Anto menenangkan hatinya dengan membaca mushaf yang ada di dalam masjid, hingga waktu dzuhur pun telah tiba. Namun, tetap sama tak ada seorang pun yang menghampirinya.

Anto mencoba menghubungi nomor Aira, namun kali ini nomor Hp-nya tidak aktif. Resah bercampur gelisah. Prasangka pun mulai merebak di pikiran Anto.

“Assalamu’alaikum….” Segenggam doa menyelamatkan Anto dari prasangka.

“Wa’alaikummusalam ustad.”

“Jangan panggil saya ustad. Belum pantas.”

“Bukankah ustad itu guru artinya, dan siapa pun pantas disebut guru ketika dia memberikan tauladan yang baik.” Anto mencoba memuliakan teman sepondoknya dulu.

“Na’am. Ada kabar apa, tiba-tiba mampir ke pondok?”

“Tidak ada apa-apa, mampir saja sahabatku.” Sambil berdoa, semoga Alloh mengampuni kebohongannya kepada Hanafi.

“Begitu ya?”

“Iya.” Singkat percakapan itu terhenti. Adzan Dzuhur berkumandang seantero kota itu.

Sholat dzuhur pun selesai, Hanafi mengajak Anto ke ruang administrasi santri putra. Untuk sekedar berbincang-bincang, karena sudah lama mereka tidak bertemu. Hanafi mencium sesuatu dari nada bicara Anto. Hanafi sangat mengenal sahabatnya.

“Jujurlah! Apa maksud kedatanganmu ke pondok?”

“Jujur apa tho? Aku hanya silaturahim saja, Fi.” Anto masih berusaha menyembunyikan maksudnya.

“Aku tahu siapa kamu, Anto.”

“Baiklah, tapi tolong jaga rahasia ini ya!”

“Insyaalloh.”

Anto pun kemudian menunjukan sms dari Aira kepada Hanafi, serta menjelaskan semuanya panjang lebar, hingga akhirnya sampailah Anto di Pondok.

“Aku sudah menebaknya, pasti karena Aira. Kamu tak bisa membohongiku, Anto.”

“Aku harus bagaimana? Sampai detik ini aku sudah banyak prasangka padanya, karena nomor Hp-nya nonaktif.”

“Aira. Kalau tidak salah lihat, tadi pagi ia ijin ustadzah untuk pulang.”

“Benarkah? Terus maksud sms tadi pagi apa? Atau jangan-jangan bukan Aira? Atau jangan-jangan ustad Ilyas?”

“Hush. Kamu ngawur? Tidak boleh berprasangka buruk.” Hanafi mengingatkan Anto.

“Astaghfirulloh…, Semoga Alloh mengampuni dosaku.”

“Ya sudah, supaya jelas kita pergi ke rumah Aira, menyusulnya.” Ajak ustad Hanafi.

“Iya, tapi….”

“Tapi. Tapi apa Anto?”

“Aku tidak tahu pasti alamat rumahnya.”
Anto pun berpikir sejenak. “Iya, aku ingat, ada nomor Hp bang Ari. Kakak Aira. Tanya saja alamat rumahnya pada bang Ari.”

“Alhamdulillah.” Jawab ustad Hanafi.

Bismillah. Legenda pun melaju dengan tenangnya. Namun hati Anto terus saja Takikardi. Menyisir kota Solo bagian utara.
***

Palang pintu kereta api. Biasa disebut palang kereta Joglo. Kadipiro. Yup beberapa menit lagi sampai di Kadipiro. Tanah kelahiran Aira. Sesuai intruksi bang Ari, sampailah Anto dan ustad Hanafi di sebuah perkampuangan padat penduduk. Tidak ada rumah yang memiliki pekarangan, semua tampak bangunan tempat tinggal. Rumah yang tak terlalu besar, dengan pintu tertutup. Anto mencoba sedikit masuk ke dalam untuk mengetuk pintu, dan ustad Hanafi menunggu di dekat Legenda.

“Assalamu’alaikum….”

“Wa’alaikumusalam warrohmatullohi wabarrokatuh…” suara lembut terdengar dari balik pintu kayu.

Dibukalah pintu itu, seorang wanita setengah baya keluar dari dalam rumah. Gamis biru laut dengan stelan jilbab yang sama pula menutup seluruh tubuhnya.

“Madhosi sinten nak?”

“Aira wonten, ibu?”

“Aira, Mboten wonten.”

Jawaban Ibu Aira, semakin menjadikan hati Anto tidak tenang. Pencariannya hari ini, ternyata tidak terhenti di Kadipiro. Tak ditemuinya juga Aira di rumahnya.

“Ibu, mangertos Aira wonten pundi?

“Nggih, datheng pondok karanganyar.” Jawab ibu.

“Bagaiamana Ustad?”

“Sudah kepalang basah, susul saja ke pondoknya, atau suudzon akan terus mengalir di hati dan darahmu.”

“Baiklah.” Jawab Anto singkat.

“Kulo sak rencang pamit nggih bu. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumusalam…atos-atos nggih.”

kisah tak pasti

oleh : Harjanto dc

Braaak…!
“Dasar perempuan sundal!” sembari membanting tubuh Tari, Ridwan meninggalkannya dalam keadaan terjerembab.
Pekikan Ridwan bagai halilintar yag menyambar di siang cerah. Tari tak pernah tahu sesuatu apa yang menyebabkan suaminya tiba-tiba kasar padanya. Mengatainya perkataan yang tak pantas diucapkan seorang suami.

To be continue

Sayap yang Terhempas

Sayap yang Terhempas
(untuk Papa)
Oleh: Harjanto Dc

Derai air matanya tidak tertahankan, saat mendapati belahan jiwanya tidak sadarkan diri. Seorang perempuan yang biasa aku sapa dengan sebutan Mama meratapi kepergian laki-laki berbadan besar itu. Kebersamaan bersama Papa rasanya masih terbayang di pikiran Mama. Papa yang kemarin masih terpapah di atas kursi rodanya, tersenyum dan bercanda dengan adik-adik, kini telah pergi menemui pemilikNya.

Suasana rumah sedikit hening setelah kepergian Papa. Beberapa hari Mama mengurung dirinya dalam kamar. Entah apa yang di pikirkannya? mungkinkah Mama masih belum rela atas kepergian Papa? Ah, tidak sepertinya. Aku sangat mengenal Mama, beliau perempuan yang sangat kuat. Walaupun ilmu agamanya belum seberapa, tetapi ketaatannya pada suami sangatlah pantas untuk ditiru perempuan lain. Aku masih ingat awal-awal berada dalam keluarga mereka. Cinta, kebersamaan, keikhasan, dan kepeduliannya kepada orang yang kekurangan menjadi bagian yang tidak pernah pudar dari keluarga Papa.
* * *

Dari kejauhan tampak pagar hijau agak lebar tepat di pertigaan jalan. Sebuah rumah sederhana, namun tampak mewah dari luar. Terlihat anak-anak tengah asyik dengan kegiatan masing-masing. Aku berjalan disela-sela tempat mereka belajar, sampailah di depan pintu kayu dengan ukiran gunungan wayang yang terlihat baru.

“Assalamu’alaikum,” dari dalam kamar terdengar lirih balasan salam dari seorang perempuan.

“Wa’alaikumusallam, masuk mas?”

Sembari mempersilahkanku duduk di ruang tamu, dipapahlah seorang lelaki yang sudah setengah umur. Biasanya Papa memainkan kursi rodanya, tapi tidak hari ini. Tampaknya ingin jalan sendiri.

Duduklah dihadapanku laki-laki dengan tubuh agak besar dan ada balutan perban pada lengan kanannya. Papa sudah lama mengidap penyakit Diabetes Mellitus basah. Setiap kali luka, akan sulit sembuh karena selalu basah. Penyakit ini selalu jadi momok yang mengerikan, karena dapat berakibat komplikasi pada organ vital lain.

Sepulang kerja, aku selalu mampir ke tempat Papa. Walaupun hanya sekedar bermain dengan adik-adik. Hatiku tenteram ketika berada di antara mereka. Kebahagiaan selalu terwarnakan di rumah Papa.

“Keadaannya bagaimana, Pa?” Tanyaku menyelidik serta memastikan.

“Ya, masih seperti biasa mas,” jawab Papa dengan nada kurang semangat.

“Pagi-pagi sudah ke rumah, mas?” Tanya mama padaku sembari menyodorkan segelas air putih.

“Iya ma, lagi libur. Ingin lihat keadaan Papa, serta bantu kakak-kakak ngajar.”

“Ya, silahkan mas!” Lanjut Papa mengakhiri pembicaraan kami.

Cahaya kuning muda, hangat, telah merebak ke emperan rumah Papa. Selesai ngobrol aku bantu kakak-kakak ngajar. Ada empat kakak yang membantu ngajar di yayasan ini. Semuanya anak kuliahan yang usianya jauh di bawahku. Mereka semua kuliah di kampus dan jurusan yang sama pula, yaitu Manajemen Syariah. Di sebuah kampus swasta di Jakarta Selatan.
* * *

Terik mentari Metropolitan tak ubahnya buliran pasir panas di dataran Arab. Sedikitnya taman membuat kota yang tak pernah tidur ini menjadi sangat panas dan tercemar udaranya. Trotoar pun semakin menyempit saking banyaknya kendaraan. Kemacetan sudah menjadi menu utama setiap hari di kota ini. Walaupun demikian sebagian besar orang mengatakan, Jakarta adalah kota yang menjanjikan semuanya, banyak orang dari segala penjuru Indonesia berduyun-duyun untuk mencari sesuap nasi di Ibukota.
Tapi aku tidak sependapat dengan pernyataan itu. Masih banyak orang di Jakarta yang terkatung-katung tanpa tempat tinggal, hidup di kolong-kolong jembatan bak sampah yang terbuang dan bahkan sampai pakaian saja tidak punya. Orang-orang besar di negeri ini selalu mengembor-gemborkan janji perbaikan taraf hidup rakyat. Namun, sampai detik ini tidak ada sebuah realitanya. Yang kaya semakin memperkaya diri, dan yang miskin semakin tersisih. Itulah yang terjadi.

Aku bekerja di sebuah Rumah Sakit swasta di Jakarta Selatan sebagai dokter. Dan membantu mengelola sebuah Yayasan yang dibangun oleh sepasang suami isteri. Yayasan ini menjadi tempatku menyalurkan cinta dan citaku. Hatiku tergerak karena sosok Papa dan Mama yang sangat mulia, dengan cinta, kebersamaan dan kepeduliaannya kepada orang lain yang kekurangan. Adik-adik di yayasan ini mencapai 100 lebih dari anak-anak sampai dewasa.

Mama sudah tiga kali Abortus. Tetapi, yang membuatku takjub adalah Mama tetap tegar, sabar, ikhlas dan bersyukur. Pada akhirnya diusia 40 tahun, mama di vonis mengidap Kanker Leher Rahim. Demi keselamatan, kandungannya pun akhirnya diangkat. Di usianya yang hampir setengah abad, mama tidak dikaruniai seorang anak pun oleh Allah. Tapi kesabaran dan keikhlasan pun tetap ada di wajah Mama. Ia yakin apa yang terjadi pada dirinya adalah yang terbaik, dan ada rahasia besar di setiap kejadian. Walaupun tidak punya anak, Mama mempunyai ratusan anak asuh, ini adalah hikmah dari ujian Mama dan Papa.
Papa pun tidak merasa cemas dan kesepian walaupun Allah tidak memberinya keturunan. Mereka berdua percaya anak-anak asuh itu akan memberikan surga bersama Rosulullah, sebagai ganti dari doa anak yang sholeh.
* * *

Dua hari aku tidak ke rumah Papa karena banyak kerjaan di Rumah Sakit. Handphone pun aku matikan. Saat membukanya ada empat pesan pendek yang tertunda. Aku penasaran, empat pesan dari Khoirul, salah satu kakak pengajar di yayasan.

“Mas, ada kabar buruk. Papa masuk RS, Mas diminta segera ke RS, cepat!” empat sms yang sama.
Aku tidak sempat membalas pesannya. Hatiku galau. Takut Papa sudah tiada sebelum aku datang. Aku langsung menuju Rumah Sakit. Lobi menuju ruang ICCU terlihat sepi. Di ujung lorong tampak kerumunan anak-anak sedang berdoa, yang dipimpim oleh Kak Khoirul. Aku langsung menyelonong di antara kerumunan adik-adik.

“Assalamu’alaikum, keadaan Papa gimana Ma?” Tanyaku dengan perasaan was-was.

“Belum tahu mas, tapi kata dokter kritis,” Mama masih tampak tegar, walaupun Papa terbaring bersama selang-selang di seluruh tubuhnya.

Dokter yang menangani Papa pun mengijinkanku menjengguk Papa dengan di temani Mama. Papa yang dulu sangat tegar, kini terbaring tidak berdaya, organ yang lain pun sudah di serang. Sekuat apapun Mama, ia tetaplah tulang rusuk yang bengkok. Tepat jam 10 malam, Papa menghembuskan nafas terakhirnya dengan wajah bercahaya.
Tak ada yang menyangka, semua hanya tinggal kenangan. Mama pun tetap tegar walaupun satu sayap telah terhempas. Kenangan selalu jadi motivasiku untuk melanjutkan cita Papa dan menjaga Mama. Selamat jalan Papa.

MERAH


Tidak biasanya si Merah belum pulang, ada apa gerangan hingga senja merekah di barat laut, mega memerah, mentari terbenam tergantikan purnama. Lantunan syahdu penegak sholat mulai bersahut-sahutan di kejauhan. Gumamku dalam hati, sembari khawatir akan keadaannya. Dimanakah dia? Apa yang terjadi padanya? Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Apa lantaran beberapa hari yang lalu aku memarahinya? Lantas dia kabur, marah dan tidak kembali padaku. Ataukah ada seseorang yang menangkap lalu membunuhnya? Atau Apa….Atau…. Berjuta pertanyaan memberondong kepalaku. Desahku panjang sambil menatap jauh jalannya pulang.
∞ ∞ ∞

Kuk kuk ruyuuuk…..kuk..kuk..ruyuuuk…
Fajar merekah di kesunyian, malam senyap segera tergadaikan. Mentari merekah di antara pegunungan ufuk timur yang tampak membiru nan elok dari kejauhan. Pukul 04.00 Aku terbangun dari mimpi panjang, setelah baca doa bangun tidur, segera ke belakang ambil air wudhu. Kesegaran merekah pada wajah yang bercahaya, segera Aku melaksanakan sholat subuh. Selesai menegakan kewajiban, Aku membantu pekerjaan rumah. Selagi asyik dengan pekerjaan, Sejenak teringat kalau si Merah belum di lepas dari kandang, padahal tadi waktu subuh sudah membangunkankanku dengan syair merdunya. Kuk..kuk ruu…yuu….uk, Nyanyian syahdu yang selalu di nyanyikan si Merah setiap pagi.
“Ibu, Aku keluarkan si Merah dulu ya?”
“ Iyo, le. Nanging aja suwe-suwe , ndang di rampungke gaweane!”1
“Nggih Bu.”2
Pukul 05.30 cahaya sudah tampak terlihat, si Merah kegirangan saat di keluarkan dari peraduannya. Langsung saja mendekat padaku, seolah menunjukkan keakraban seorang sahabat. Menari sambil melantunkan nyanyian syahdunya yang indah. Setelah puas bermain sudah saatnya perpisahan, Aku harus sekolah, si Merah bermain sendiri, mencari makan sampai senja, sampai waktu untuk kembali ke paraduan.
∞ ∞ ∞

Terik yang menyenggat, pada sepetak tanah di samping rumah Pak Jadi, si Burik, ayam jantan Pak Jadi, sedang mengejar ayam betina milik Pak Rudi, bulunya putih, bersih, cantik bila di pandang mata manusia, apalagi sesama jenis ayam, pasti di jadikan sang idola. Tidak hanya si Burik ternyata si Merah juga ada di sana berebut kejantanan dan kekuasaan untuk memiliki sang idola. Itulah awal, Si Merah jadi sering pulang senja.
Satu, dua, tiga hari aku selalu membiarkannya ketika dia pulang senja, karena aku pikir itu hal biasa. Hari keempat Aku menunggu di depan rumah dengan pandangan jauh, si Merah belum tampak batang hidungnya. Maghrib, saat terdengar lantunan merdu di kejauhan, baru dia pulang dengan kaki pincang sebelah. Aku terperanjat langsung menggendong si Merah. Melihat luka kakinya takut parah dan tidak bisa normal lagi. “Untung hanya luka ringan. Ah, paling kalah berkelahi dengan si Burik.” Gumamku dalam hati.
∞ ∞ ∞

Seperti biasa Aku bermain dengan si Merah di pagi yang menyegarkan, terlihat tatapan si Merah lesu, nafsu makannya juga berkurang, kakinya juga masih pincang. Apa yang sebenarnya terjadi kemarin. Aku mulai berfikir yang tidak-tidak. Aku segera menampik pikiran itu. Seperti biasa juga kami berpisah untuk aktivitas masing-masing.
Sekolah buatku sangat menyenangkan. Bertemu teman-teman, ibu guru yang cantik, dan yang tidak kalah penting adalah soto bu Mus. Akan tetapi hari ini sekolah tampak membosankan, otakku isinya tentang si Merah. Karena tatapan wajahnya tadi pagi membuatku kepikiran tentang keadaannya.
“Ayolah cepat jam 12.00.” Ucapku dalam hati, sembari melamun.
Plaak…
Tiba-tiba sebuah penghapus nyasar di muka, tidak sadar terdengar halilintar dengan dentuman besar yang membuyarkan lamunanku.
“Adi, Jawab soal nomer 3!”
“Merah lagi sakit, Ibu.”
“Melamunkan apa, Adi?” Tanya Ibu guru dengan nada meninggi.
“Tii..tidak ada kok, Bu?” Jawaban Adi yang terbata-bata membuat ibu guru tambah naik pitam.
“Adi, keluar, berdiri di luar kelas sampai pelajaran ibu selasai!” Berfikir untuk pulang cepat, tapi malahan pulang telat. Gumam Adi sambil berjalan ke luar kelas.
Di luar pun Aku tak henti-hentinya memikirkan keaadaan si Merah. Akhirnya pelajaran usai juga. Aku langsung lari ke kelas ambil tas, tanpa pamit Ibu Ida, dan langsung pulang. Bahkan tanpa menggubris panggilan Bu Ida.
∞ ∞ ∞

“Ibu, Aku manthuk.”3
“Iya.” Jawab ibunya singkat. Ada apa dengan Adi tidak biasanya dia lupa mengucap salam. Gumam ibu sembvari melihat anaknya berlalu.
Aku langsung ke kandang, setelah melepas sepatu dan menaruh tas. Tidak Aku temukan si Merah di dalam kandang.
“Ibu, siang ini Si Merah pulang nggak?”
“Ora ki, le.”4
Aku bolak-balik ke kandang, tak ku temukan juga jejak langkahnya. Di kebun Pak Jadi juga tidak Aku temukan. Mutiara kecil mulai mengalir di pelipis kanan dan kiri. Mentari akan kembali ke peraduannya, tergantikan rembulan, tetapi si Merah tidak juga kelihatan.
Aku ingat akan wajahnya lesu tadi pagi. Apa dia marah padaku? Ah…tidak, tiap hari aku memberinya makan dan minum, merawatnya dengan baik serta memandikan. Tapi, apakah mungkin, karena aku memarahinya tempo hari? Nah, itu mungkin saja terjadi. Aku kian menitikkan mutiara kecil, sedikit dari bola-bola matanya yang bening.
Dimana kau Merah, senja telah tergadaikan, tapi engkau tidak kunjung pulang? Apa yang sebenarnya menimpamu? Aku Pulang dengan tersedu-sedu, dan mulai sakit sampai beberapa hari, karena memikirkan si Merah yang menghilang. Bagiku si Merah adalah belahan jiwa. Jadi ketika pisah. Sakit pula jiwanya.
∞∞∞

Beberapa hari kemudian, ada yang memberitahukan kepada Adi, karena tidak tega melihat Adi terbaring, seolah ”hidup enggan matipun tak mau”. Kalau ayamnya tidak hilang, tapi di potong Pak Jadi, lantaran si Burik mati, kalah memperebutkan sang idola.
∞ ∞ ∞

Catatan kaki.:
1 Iya, Nak, tapi jangan lama, segera selesaikan.
2 Iya Bu.
3 Pulang
4 Tidak Nak.

MALING

by: Cowie Az Zahra

Benar…! Ya, benar suara itu? Suara itu yang memekakan gendang telingaku. Saat sunyi mulai mencekam suara itu selalu datang, seolah menghantuiku kemanapun aku pergi. Berondongan suara yang saling bersahut-sahutan, berebut kebenaran. Darimana asal suara itu? Dari mana mereka tahu?

Ω Ω Ω

Parmin terbangun dari buntalan kain tipis yang mengerubutinya, tapi tidak seorangpun yang dia dapati, hanya bangku-bangku lusuh yang selalu menemaninya setiap malam. Semua barang-barangnya telah tergadaikan demi melunasi utang-utangnya. Mimpi itu selalu datang setiap rembulan telah menundukan mentari, seolah seperti nyata. Tiba – tiba terdengar suara getir dari belakang rumahnya, pintu rumah belakang yang tidak pernah di bersihkan, desirannya sampai mengiris hati Parmin.

“Pak sudah bangun?” terdengar suara lembut dari belakang rumahnya.

“Tidak biasanya istrinya bernada lembut, ada apa gerangan.” gumam Parmin.

Parmin pura-pura tidak mendengar kalau istrinya yang memanggil, ia membuntal tubuhnya kembali dengan kain tipisnya, melanjutkan tidur yang sempat tengganggu. Padahal terik sudah menjulang tinggi diatas kepalanya. Istrinya juga tidak marah saat Parmin tidak menjawab panggilannya. Murni melanjutkan membersihkan rumah dan memasak buat suami dan bakal calon anaknya yang masih ada dalam kandungannya.

Suara itu datang lagi, tidak hanya malam, siang bolong pun mereka datang berucap kebenaran, membisikan di telinga Parmin. Teriakan. Keringat bercucuran di seluruh tubuh Parmin, diikuti demam. Istrinya mendekati tubuh Parmin yang terlelap di bangku lusuh, yang tinggal satu-satunya barang berharga yang dimilikinya.

“Bukan! Bukan! Bukan aku.” Teriakan parmin dengan keras. Dan semakin keras.

Suara itu bersahut-sahutan berebut kebenaran, bagaikan syetan dan malaikat, yang datang memperingatkan dan mengajaknya, saling membenarkan perkataannya.

“Pak, pak ada apa? “ Parmin terbangun. Tergopoh-gopoh. Karena mimpi buruknya. Nafasnya putus-putus bak orang sekarat.

“Bukan aku. Maksudnya apa pak?” belum sadar benar istrinya sudah melontarkan pertanyaan yang tambah mencekik urat leher Parmin.

“Ti…Ti..Tidak ada apa-apa, hanya mimpi.” Parmin terbata-bata menjawab pertanyaan istrinya. Dia tidak ingin seorang pun tahu tentang mimpinya yang aneh. Istrinya spontan menceramahi Parmin.

Parmin memang sudah beberapa hari ini tidak bekerja semenjak suara itu selalu menghantuinya setiap kali terlepas dari raganya. Tapi, dia juga tidak bisa diam melihat Istri dan bakal calon anaknya yang masih dalam kandungan tidak makan. Sebentar lagi istrinya akan melahirkan. Bingung. Yang ada di otaknya. Biaya persalinan…biaya baju bayi…biaya susu…makan..dan masih banyak lagi, padahal sepeserpun Parmin tidak mengantongi uang. Dalam hati Parmin memikirkan semua itu.

Ω Ω Ω

Seminggu yang lalu Parmin menyatroni rumah besar yang ada di tikungan jalan komplek perumahan elite. Parmin biasanya bergerak bersama rekan kerjanya, tapi malam itu dia sendirian membobol habis isi rumah. Kebetulan pemilik rumah berlibur, tinggal seorang pembantu dan tukang kebun yang menjaga rumahnya. Aksinya malam itu mulus, tidak ada seorang pun yang melihatnya. Mujur. Penghuni rumah tidak mengetahui ada orang yang membobol rumah. Perhiasan dan sejumlah uang berhasil digasaknya. Kira-kira semua itu cukup untuk makan satu bulan.

Keesokan harinya Parmin memberikan uang itu kepada Murni. Jelas kaget Murni disodorkan uang sebanyak itu oleh Parmin. Suaminya saja malas-malasan dan jarang bekerja, tiba-tiba dalam semalam pulang dengan membawa uang sebanyak itu.

“Dapat dari mana uang ini pak?” spontan tanya Murni.

“Semalam dapat order dari teman lama, dan itu bonusnya.” Jawab Parmin, dengan gaya bisnisnya. Walaupun miskin tapi gayanya kayak bos executif.

“Kerjaan apa, pak?”

“Sudahlah Bu. Yang penting besok bisa makan.” Jawab Parmin dengan santainya, tanpa berpikir telah memberi makan haram pada istri dan anaknya.

Waktu berlalu perdebatan sengit terhenti, setelah Parmin pamit untuk keluar rumah. Dia beralasan ingin bertemu temannya yang tadi malam memberikan pekerjaan. Siang yang menyengat, tanpa banyak cakap Parmin meninggalkan gubuk bersama Murni dan bakal calon anaknya.

Ω Ω Ω

Bayangan tentang mimpinya tempo hari mengingatkan Parmin pada aksinya seminggu yang lalu. Apakah suara itu datang karena aku mencuri? Ataukah peringatan? Tapi tidak mungkin suara itu ada. Pasti hanya bualanku karena terus memikirkan keluargaku dan biaya hidup hari-hari kedepan. Parmin menggerutu sendiri di warung hik dekat pos ronda sembari minum teh jahe.

Siang telah tergadaikan mentaripun lenyap dalam peraduanya, awan merah terpancar di kejauhan, burung-burung pulang kesarangnya, sang purnama akan segera meredam kesedihan malam. Setelah siang tadi Parmin memikirkan hal buruk yang telah menimpa dirinya beberapa hari ini, dan melihat-lihat rumah mana lagi yang akan digasaknya. Ia pun tertidur lelap di bangku lusuhnya ditemani kain tipis yang lusuh pula. Murni tidur di kamar sendiri. Mimpi itu pun merebak di alam bawah sadar Parmin. Lebih dahsyat dari sebelum-sebelumnya.

“Jangan..bukan…bukan aku!” Parmin mengigau, teriak-teriak hebat, dalam mimpinya dia di keroyok warga karena ketahuan mencuri.

“Pukulan.”

“Hantaman.”

“Tendangan.” Mengenai sekujur tubuh dan kepala Parmin.

“Bukan…bukan aku.” Teriakannya keras melontarkan kata-kata pembelaan. Namun, suara itu datang lagi, tapi hanya satu suara.

“Ia dia malingnya, bunuh saja.”

“Bukan…bukan aku.” Parmin terus melontarkan pembelaan.

Braak…Parmin terjatuh dari bangku lusuhnya, dengan nafas yang tergopoh-gopoh, seperti habis maraton. Saat membuka mata. Kaget. Murni ada di hadapannya.

“Kenapa lagi pak, mimpi yang sama ya?” sambil menyodorkan segelas air putih kepada suaminya.

“Ii….iy…iya, bu mimpi itu lagi. Kali ini lebih hebat.” Terputus-putus Parmin menjelaskan kepada istrinya.

“Sudahlah Bu, hanya mimpi kok. Tidur lagi saja, masih malam.” Parmin menjelaskan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun dalam hatinya. Dalam hati istrinya gusar mendengar jawaban suaminya. Gumam istrinya, pasti ada yang di sembunyikan suamiku. Tapi ya sudahlah mungkin memang hanya mimpi.

Parmin terdiam di bangku lusuhnya, memikirkan mimpinya kali ini, padahal mimpinya yang kemarin-kemarin tidak menjadi beban. Pandangannya jauh tertuju pada foto pernikahan yang telah terlewatinya selama 10 bulan. Dia berusaha melupakan mimpinya. Memejamkan mata. Tapi, ketakutan akan mimpi yang sama terus menghantuinya. Betapa indahnya masa-masa satu tahun yang lalu. Sebelum aku di PHK. Andai saja itu tidak terjadi mungkin hari-hariku bersama Murni akan indah. Sunyi makin senyap hingga kokok ayam dan sahutan adzan subuh membuyarkan lamunannya.

Parmin mencuci mukanya, menghilangkan sisa-sisa kotoran mata, dan garis-garis yang mengecap di wajah dan tangannya, yang tertindih waktu tertidur. Dia masih terbayang mimpinya dan mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mengapa malam ini hanya satu suara…yang lain kemana? Kenapa suara yang baik? Justru membenarkan kebusukanku? Pertanyaan itu seolah tak akan pernah ia temukan jawabnya.

Parmin teringat usia kandungan Murni yang kian mendekati hari “H” kelahiran buah hatinya. Pikirannya tertuju pada biaya kelahiran anaknya. Dia mulai melupakan tentang mimpinya. “Ah, bagaimana ini, darimana aku harus dapatkan biaya rumah sakit untuk istri dan anakku.” Pikirannya tertuju pada sebuah rumah yang ada di ujung gang, yang ia lewati kemarin. Tanpa pamit istrinya, Parmin pergi keluar rumah.

“Awwh..aduuh…pak…perutku sakit sekali.” Teriakan di lontarkan Murni, tetapi saat itu Parmin tidak ada di rumah.

“Pak..tolong..sa..sakit..tolong.” ucapan terbat-bata terus di lontarkan Murni, hingga akhirnya ada salah seorang tetangga lewat di depan rumah Parmin, dan langsung memanggil warga yang lain, untuk membopong tubuh Marni dan membawanya ke rumah sakit.

Ujung gang komplek, terik yang menyengat, dengan modal kenekatannya. Parmin mengendap-endap melompati pagar rumah. Siang-siang seperti ini biasanya, pemilik rumah tidak ada. Parmin sudah menyatroni rumah itu beberapa hari ini. Bahkan dia lupa akan mimpinya tadi malam. Tentang mimpi penganiayaan tadi malam.

Menoleh kanan, kiri, tidak ada seorangpun, ia pun mencongkel pintu depan. Karena sudah ahli maling, Parmin dengan mudahnya memasuki rumah pengusaha itu. Dengan pelan dan berhati – hati Parmin masuk dari pintu satu ke pintu yang lain. Kali ini parmin tidak tanggung-tanggung, perhiasan dan uang diganyang habis, karena mungkin Parmin butuh jutaan untuk biaya istrinya. Saat hendak melangkahkan kaki keluar rumah, tanpa sengaja tangannya menyentuh vas bunga yang ada di meja dekat pintu.

Pyarrrr…Parmin menggeliat kaget bukan kepalang, dalam hati bergumam, “semoga tidak ada yang dengar.”

Tanpa disangka-sangka suara pecahan tadi terdengar salah seorang warga yang lewat di depan rumah pengusaha itu. Saat Parmin keluar dan melompat pagar, terlihat salah seorang warga. Spontan teriak.

“Maaling…maaling…maaling..”

Tanpa pikir panjang beberapa warga memberondong pukulan, tendangan, dan sejumlah pentungan menghantam kepala dan tubuhnya. Saat itu ia teringat mimpinya, “inikah akhir dari jawaban atas pertanyaan di mimpiku beberapa hari ini.” Gumamnya dalam hati dengan nada bergetar dalam sejumlah pukulan yang tidak bisa terelakkan lagi. Tidak terdengar apapun lagi, yang ada hanya bau anyir yang mengalir di kepalanya. Dan semua tampak gelap.

Di ujung kamar rumah sakit, hanya beberapa kerabat yang menunggui Murni. Tanpa seorang suami, dan tidak ada yang tahu keberadaan Parmin, sampai bayi laki-laki yang masih merah terlahir ke dunia ini. Di malam yang sunyi lagi senyap, di sebuah kamar, Murni berdoa, “Semoga suamiku segera datang”. Angin malam pun berlalu, meninggalkan keheningan di antara kamar-kamar rumah sakit.

TIM MEDIS

TIM MEDIS

Barak Pengungsian sudah mulai lenggang ditinggalkan para pengungsi. Mentari menyengat bagai lebah menancapkan racunnya ke dalam jaringan bawah kulit. Tinggal beberapa tenda yang masih berdiri, dari sudut tenda paling ujung, terdengar rintihan yang semakin keras, auwh..uuh..aduuh sakitnya. Dia merintih, mendesah, dan air matanya tidak tertahan saat lambungnya terasa melilit tidak karuan. Sutinah, ibu satu anak yang masih bertahan di barak pengungsian, karena masih trauma dengan ‘Wedhus Gembel’ Merapi .

“Ada apa Bu ?” Tanya seorang petugas medis yang berjaga di pos kesehatan. Tampak membiru wajah dan keringat bercucuran dari badannya, tanpa seorangpun yang menemani.
Tanpa banyak tanya, tim medis langsung membopong Bu Sutinah ke ambulance yang di parkir disudut lapangan. Sopir langsung tancap gas menuju rumah sakit terdekat.
Rumah Sakit Islam. Tampak antrian di besi tua yag sangat panjang. Tanpa daftar, petugas dan beberapa perawat jaga langsung membawanya ke UGD (Unit Gawat Darurat).

“Cepet, pundi dokteripun, mbak?” tanyaku, seolah menyuruh untuk segera ditangani. Karena kepanikan.

“Sekedap nggih mas, dokteripun nembe wonten bangsal.” Kata perawat yang menangani Bu Sutinah.

Raut muka yang membiru, terbaring lunglai tidak sadarkan diri. Sembari menunggu dokter datang, perawat ambil tindakan, selang panjang dipasang pada pergelangan tangan Bu Sutinah diikuti tetesan, bukan tetesan lagi tapi aliran deras dari plabhote infus, untuk menyadarkan Bu Sutinah jangan sampai Syok. Nadi yang semakin melemah, tekanan darah lemah pula.

“Dokternya mana, mbak?” teriakku lebih keras, karena dokter sedari tadi tidak datang – datang.

“Sabar, mas?” salah satu perawat meredakan suasana.

“mungkin dalam perjalanan, makhlum rumah sakitnya besar, jadi butuh waktu untuk kembali ke UGD”.

“Sabar gimana mbak?, pasien keburu tidak tertolong”. Bentakku, dengan nada agak keras.
Selang beberapa waktu setelah aku marah – marah dokter datang, dan langsung menangani Bu Sutinah. Pasien tampak sudah tidak sadarkan diri, makin melamah denyut nadinya. Apakah sudah meninggal? Dalam lamunan, aku bertanya-tanya. Ah, mungkin hanya pingsan saja.

“mas, tadi awalnya bagaimana?”

“Iya, ada apa dokter, tadi tanya apa?”, karena memikirkan yang tidak – tidak, aku jadi tidak konsen dengan pertanyaan dokter.

“Tolong diulangi lagi dok?”

“Awalnya tadi bagaimana?”

“Saat ditemukan, kondisi sudah lemas, muka membiru dan merintih kesakitan pada bagian lambung.”

“Terima kasih.” Kata dokter padaku.

Terbujur dengan selang panjang diantara tubuhnya yang mulai kaku, berbalut perban diantara pergelangan tangannya. Tubuh Bu Sutinah terbaring kering, padahal cairan infus sedari tadi di guyurkan ke dalam venanya.

“Bagaimana kondisinya sekarang, mbak?”, Tanya dokter kepada perawat yang membantunya.
Dijelaskannya dengan rinci keadaan Bu Sutinah yang semakin melemah, gaya bicara dan tatapan lembut kepada seorang pasien, seperti tatapan kepada keluarga dekatnya. Semuanya menarik hatiku. Ada apa dengan diriku. Kenapa aku jadi memikirkan perempuan itu, aku harus fokus pada pasienku, ini adalah tanggung jawabku. Lupakan Ferdi!. Lupakan..! Tolong hentikan lamunanmu Ferdi! Dalam lamunanku hatiku berkecamuk hebat.

“mas, mas…!”, dia membangunkanku dari lamunan panjangku.

“Dimana bu sutinah Mbak?, apakah dia sudah meninggal?” aku bentanya-tanya dalam kebinggungan. “Dimana Mbak?” senyum lebar tampak pada raut wajahnya, aku yang sedari tadi tampak kebingungan di buatnya tercengang dengan tingkahnya.

“Iya….” Belum selesai bicara, aku memotong kata – katanya.

“Maksudnya sudah meninggal mbak?, Innalillahi Wa Innaillaihi Roojiuun”, Aku menundukan wajahku dan sedikit mutiara kecil mengalir di sela-sela pipiku.

“Dengarkan dulu mas, belum selesai ngomong asal mutus saja, bu Sutinah belum meninggal, tapi dipindahkan ke bangsal untuk pemeriksaan lebih lanjut. Diagnosa sementara keracunan. Sampun paham?”

“Oh, mekaten tho mbak, nyuwun pangapunten nggih? Ferdi, tampak malu di depan perawat yang menangani Bu Sutinah.



‘Wedhus gembel’ masih tampak menyembur-nyembur dari bongkahan batu besar yang seolah bernyawa, namun arahnya lebih ke daerah Magelang dan Yogyakarta. Walaupun jarak erupsi merapi untuk daerah Klaten sudah di perpendek menjadi Radius 10 km, tetapi masih ada sebagian warga yang tetap tinggal di pengungsian, sampai status merapi benar-benar aman.
Sekembali dari Rumah Sakit Islam, Ferdi bersama tim medisnya kembali ke Pendopo Kabupaten, untuk meneruskan tugasnya. Waktu bergulir begitu cepatnya, tidak terasa sudah saatnya berbagi makanan dengan pengungsi yang masih ada. Dapur umum sudah menyiapkan makanan, selesai sholat maghrib lansung makan bersama. Tiba-tiba, Ferdi teringat sesuatu, dia meninggalkan Bu Sutinah di umah Sakit. Ferdi tampak kebingungan, kalau sampai ada apa-apa dengan Bu Sutinah bagaimana?, siapa yang akan dihubungi pihak rumah sakit ?. Karena panik, dia sampai lupa kalau tadi sempat meninggalkan nomer telfonnya di rumah sakit. Ya, sudahlah, tadi sudah meninggalkan nomer kok.
Hiks..hiks..hiks..terdengan lantunan suara sendu, terisak-isak dari tenda tempat Bu Sutinah terkapar. Jangan – jangan keluarganya, karena saat Bu Sutinah ditemukan tadi siang, keluarganya tidak ada satupun yang ada di tenda. Kata tetangganya, suaminya naik ke atas memberi makan sapi – sapinya.

“Ada apa dik, kok menangis?” Tanya Ferdi kepadanya.

“Ibu ilang pak?” sambil terisak-isak mengusap air mata, Toni seorang bocah laki-laki, kira-kira berusia 10 tahun, menangis di dalam tenda.

“Ibu, asmanipun sinten dik?”

“Sutinah, Mas.” Dari luar tenda tampak terdengar suara menyebut nama sutinah. Laki-laki berbadan kecil kurus dan agak tinggi, tidak lain adalah suami Bu Sutinah dan bapak dari Toni.

“Sinten Pak?” Ferdi balik bertanya pada Pak Parjo.

“Sutinah.” Di ulanginya lagi oleh Pak Parjo.

“Bu Sutinah, nggih pak? Menawi Bu Sutinah, sakmeniko wonten Rumah Sakit Islam.” Jawaban Ferdi membuat kaget Pak parjo dan sebagian tetangga yang ada di tenda.

“Bojo kulo kenging punopo, mas?” sepontan Pak Parjo kaget dan bertanya pada Ferdi.

“Siang wau, padaranipun sakit, langsung dipun betho ten rumah sakit.”

Ferdi, pak Parjo dan anaknya langsung menuju rumah sakit malam itu juga setelah sholat isya’.



Bangku-bangku yang tadi siang seperti seekor ular yang akan memangsa targetnya, kini lenggang tinggal besi-besi tua yang sudah mulai lapuk karena usia. Ups..ternyata salah jalan, pintu masuknya sekarang pindah di sebelah selatan, karena terburu-buru jadi lewat jalan utama. Mereka masuk ke salah satu bangsal, dan keadaan Bu Sutinah baik-baik saja, bahkan sangat segar.

“Mbak, pripun keadaan bu sutinah?” Tanya Ferdi kepada perawat yang jaga di bangsal.

“Setelah di kaji ulang dan di cek laboratorium, Bu Sutinah tidak sakit apapun, tapi hanya saja, ada makanan yang nyangkut di tenggorokannya. Sekarang keadaannya sudah membaik.”

“Apa..? tidak sakit mbak? Sepontan Ferdi kaget mendengar keadaan Bu Sutinah.

“Benar Mbak? Tidak ada yang salah ? Atau tertukar data orang lain?” Ferdi tampak kebingungan, pasalnya tadi siang keadaannya sangat mengkhawatirkan, tapi sekarang segar bugar.

“Nggih mas, Bu Sutinah sampun sae, besok sudah boleh pulang.” Kata perawat jaga.
Ferdi termenung, dan kalau teringat kejadian tadi siang, mungkin dia akan tambah malu kalau bertemu gadis cantik yang menolong Bu Sutinah. Lamunannya buyar, saat Pak Parjo memanggil – manggil namanya.

“Mas Ferdi, Matursuwun nggih?”

“Sami…sami Pak.” Sampun kewajiban kulo.

“Pak, panjenengan kaliyan putro, nenggo wonten mriki kemawon nggih! Kulo badhe wangsul wonten pengungsian maleh.” Ferdi menjelaskan kepada Pak Parjo, Kalo keadaan istrinya sudah membaik.

Lobi – lobi rumah sakit tampak sepi, orang-orang tiduran tak beralas di sela-sela jalan, menanti sang kekasih hati yang sedang berjuang dengan takdirnya masing-masing. Ferdi teringat akan perawat yang menolong bu Sutinah tadi siang. Wajahnya yang manis, senyumnya, gaya tutur katanya dan semua hal yang ada pada dirinya menjatuhkan hati Ferdi. Ferdi berfikir, untuk lewat UGD, semoga bertemu dia lagi. Gumamnya dalam hati.

Sajak rindu

Wahai kekasih tak bernama
Hadirmu tak terasa
Pergimu meninggalkan luka
Dimanakah ?
Siapakah ?
Gerangan dirimu…..

Klaten, 20 Oktober 2010 jam 02.00

SI MERAH

T

idak biasanya Si Merah belum pulang, ada apa gerangan hingga senja merekah di barat laut, mega memerah, mentari terbenam tergantikan purnama. Lantunan syahdu penegak sholat mulai bersahut-sahutan di kejauhan. Gumamku dalam hati, sembari khawatir akan keadaannya. Dimanakah dia? Apa yang terjadi padanya? Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Apa lantaran beberapa hari yang lalu aku memarahinya? Lantas dia kabur, marah dan tidak kembali padaku. Ataukah ada seseorang yang menangkap lalu membunuhnya? Atau Apa….Atau…. Berjuta pertanyaan memberondong kepalaku. Desahku panjang sambil menatap jauh jalannya pulang.

∞ ∞ ∞

Kuk kuk ruyuuuk…..kuk..kuk..ruyuuuk…

Fajar merekah di kesunyian, malam senyap segera tergadaikan. Mentari merekah di antara pegunungan di ufuk timur yang tampak membiru nan elok dari kejauhan. Pukul 04.00 Adi terbangun dari mimpi panjangnya, setelah baca doa bangun tidur, ia segera ke belakang ambil air wudhu. Kesegaran merekah pada wajahnya yang bercahaya, segera dia melaksanakan sholat subuh. Selesai menegakan kewajiban, Adi membantu pekerjaan rumah. Selagi asyik dengan pekerjaannya Adi teringat kalau Si Merah belum di lepas dari kandang, padahal tadi waktu subuh Si Merah yang membangunkan dengan syair merdunya Kuk..kuk ruu…yuu….uk, Nyanyian syahdu yang selalu di nyanyikan Si Merah setiap pagi.

“Ibu, Aku keluarkan Si Merah dulu ya?”

Iyo, le. Nanging ojo suwe-suwe , ndang di rampungke gaweane!”1

“Nggih Bu”2

Pukul 05.30 cahaya sudah tampak terlihat, Si Merah kegirangan saat di keluarkan dari peraduannya. Langsung saja mendekat pada Adi seolah menunjukkan keakraban seorang sahabat. Menari sambil melantunkan nyanyian syahdunya yang indah. Setelah puas bermain sudah saatnya perpisahan, Adi harus sekolah, Si Merah di suruh bermain sendiri, mencari makan sampai senja, sampai waktu untuk kembali ke paraduan.

∞ ∞ ∞

Siang yang menyenggat, di sepetak tanah di samping rumah Pak Jadi, Si Burik, ayam jantan Pak Jadi, sedang mengejar ayam betina milik Pak Rudi, bulunya putih, bersih, cantik bila di pandang mata manusia, apalagi sesama jenis ayam, pasti di jadikan sang idola. Tidak hanya Si Burik ternyata Si Merah juga ada disana berebut kejantanan dan kekuasaan untuk memiliki sang idola. Itulah awal, Si Merah jadi sering pulang senja.

Satu, dua, tiga hari aku selalu membiarkannya ketika dia pulang senja, karena aku pikir itu hal biasa. Hari keempat Adi menunggu di depan rumah dengan pandangan jauh, Si Merah belum nampak batang hidungnya, sampai maghrib, saat terdengar lantunan merdu di kejauhan, baru dia pulang dengan kaki pincang sebelah. Adi terperanjat langsung menggendong Si Merah, dia lihat luka kakinya, takutnya parah dan tidak bisa normal lagi. Ah..Untungnya hanya luka ringan. Adi tidak merasa ada yang aneh, ia pikir, Ah..Paling kalah berkelahi dengan Si Burik. Gumamku dalam hati.

∞ ∞ ∞

Seperti biasa Adi bermain dengan Si Merah di pagi yang menyegarkan, terlihat tatapan Si Merah lesu, nafsu makannya juga berkurang, kakinya juga masih pincang. Apa yang sebenarnya terjadi kemarin. Aku mulai berfikir yang tidak-tidak. Gumamku dalam hati. Dan aku berlalu untuk tidak memikirkannya. Seperti biasa juga kami berpisah untuk aktivitas masing-masing.

Sekolah buatku sangat menyenangkan, bisa bertemu teman-teman, Ibu guru yang cantik, dan yang tidak kalah penting adalah soto Bu Mus, tapi hari ini sekolah tampak membosankan, otakku isinya tentang Si Merah, karena tatapan wajahnya tadi pagi membuatku kepikiran tentang keadaannya. Ayolah cepat jam 12.00,  aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Si Merah. Plaak….., tiba-tiba sebuah penghapus nyasar di mukaku, tidak sadar terdengar halilintar dengan dentuman besar yang membuyarkan lamunanku.

“Adi, Jawab soal nomer 3..!”

“Merah lagi sakit, Ibu”, spontan saja karena melamun jawaban Adi tentang Si Merah.

“Melamunkan apa, Adi?”, Tanya Ibu guru dengan nada tinggi.

“Tii..tidak ada kok, Bu?”, jawaban adi yang terbata-bata membuat ibu guru tambah naik pitam.

“Adi, keluar, berdiri di luar kelas sampai pelajaran ibu selasai!” berfikir untuk pulang cepat, tapi malahan pulang telat. Gumam Adi sambil berjalan ke luar kelas.

Di luar pun Adi tak henti-hentinya memikirkan keaadaan Si Merah. Akhirnya pelajaran usai juga. Adi langsung lari ke kelas ambil tasnya, tanpa pamit Ibu Ida, dia langsung pulang, tanpa menggubris panggilan Bu Ida. Saat ini yang ada di otaknya cuma Si Merah.

∞ ∞ ∞

“Ibu, Adi manthuk”.3

“Iya.” Jawab ibunya singkat. Ada apa dengan Adi tidak biasanya dia lupa mengucap salam. Gumam Ibunya dalam hati.

Adi langsung ke kandang, setelah melepas sepatu dan menaruh tasnya. Tidak ditemukan Si Merah di kandangnya.

“Ibu, siang ini Si Merah pulang ndak?” Tanya Adi pada ibunya.

“Ora ki, le”.4

Adi nampak bolak-balik kandang, melihatnya. Di kebun Pak Jadi juga tidak di temukan, wajah Adi mulai pucat dengan mutiara kecil mengalir di pelipis kanan dan kirinya. Mentari akan kembali ke peraduannya, tergantikan rembulan, tetapi Si Merah tidak juga kelihatan.

Adi teringat akan wajahnya lesu tadi pagi. Apa dia marah padaku? Ah…tidak, tiap hari aku memberinya makan dan minum, merawatnya dengan baik, aku mandikan. Tapi, apakah mungkin, karena aku memarahinya tempo hari? Nah, itu mungkin saja terjadi. Adi sudah menitikkan mutiara kecil, sedikit dari bola-bola matanya yang bening.

Dimana kau Merah, senja telah tergadaikan, tapi engkau tidak kunjung pulang? Apa yang sebenarnya menimpamu? Adi Pulang dengan tersedu-sedu, dan mulai sakit beberapa hati, karena memikirkan Si Merah yang menghilang. Bagi Adi Si Merah adalah belahan jiwanya. Jadi ketika pisah. Sakit pula jiwanya.

Beberapa hari kemudian, ada yang memberitahukan kepada Adi, karena tidak tega melihat Adi terbaring, seolah ”hidup enggan matipun tak mau”. Kalau ayamnya tidak hilang, tapi di potong Pak Jadi, lantaran Si Burik mati, kalah memperebutkan sang Idola.

∞ ∞ ∞

 

Catatan kaki:

1 Iya, Nak, tapi jangan lama, segera selesaikan.

2 Iya Bu.

3 Pulang

4 Tidak Nak