Sepenggal Kisah

Sepenggal Kisah

By : Harjanto dc

Berubah. Hampir semua telah bergeser. Padahal saat tatapan dari kotak mungil kebanggaanku di atas sana, semua tampak indah. Rumah di seberang jendela kamarku tampak mewah dengan pepohonan rindang dan sebuah taman mengitarinya, seperti halnya miniatur arsitek yang tersusun rapi di dalam bingkai kaca.

Aku masih ingat saat-saat itu, Setiap kali bola mataku menatap dari balik tirai coklat yang menggantung, diantara bujur sangkar. Tampak dua orang lawan jenis seumuran sedang duduk di kursi. Manja. Tampak wajah cerah diantara keduanya. Mungkin, itu yang namanya jatuh cinta. Tapi entahlah, aku hanya seoarang anak bawang yang tak mengerti apapun. Anak yang dijauhkan dari pergaulan luar rumah. Yang dapat kulakukan hanya menatap dari balik tirai. Memandang apapun yang terlihat, termasuk mereka yang sedang duduk bercengkerama berdua.

Kini usiaku sudah hampir senja, pandangan tertuju pada kursi dan taman itu. Beda nya, dulu aku menatap dari balik bujur sangkar di atas sana. Jelas. Walaupun jauh. Kini aku memandang benar-benar dari garis horizontal. Kabur. Dan tak seindanh dulu. Saat kupandang Kursi itu patah, sedikit reot dan hampir hancur. Apakah sudah tak terawat? Ataukah dua manusia itu tak lagi memikirkan alam sekitarnya? Ataukah cinta itu telah usang? Ah, entahlah. Aku merasa masih tetap sama. Aku hanyalah Anak bawang yang tak mengerti apapun.