Semarak Ramadhan 1433 H

Mbolang hari ke- 3

8 Juni 2012
Juwiring, Klaten
07.15,

Menyusur jalan Jogja-Solo, menuju peraduan. Segera menuju lapangan akbar Bulurejo. Agenda yang sudah di rencanakan sejak 1,5 bulan yang lalu. Rentetan kegiatan yang di adakan oleh BADKO TPQ Kecamatan Juwiring, yang di mulai sejak ahad, 24 Juni kemarin. Karnaval santri TPQ se-Kecamatan Juwiring. Saat legendaku berbelok ke lapangan, 24 peserta sudah memadati lapangan dengan hiasan, atribut warna-warni. Anak-anak sudah berkumpul di depan orator, menyanyikan yel-yel yang akan di lagikan sepanjang rute pawai. Aku datang terlambat karena keadaannya seperti itu. Tadinya dapat jatah petugas registrasi, bergeser menjadi petugas lalu lintas sepanjang rute pawai se-Kecamatan Juwiring.

Rute diawali dari Lapangan Akbar Bulurejo, ke selatan melintasi kelurahan Bulurejo, belok kanan menyisir perbatasan kelurahan Bulurejo dengan Jaten, belok kiri melintasi kelurahan Sawahan hingga perbatasan Juwiring-Pedan, kemudian ambil kiri melintas di kelurahan Juwiran, lurus ke timur hingga sampai di kelurahan Jetis, lurus lagi masuk kelurahan Ketitang, belok kanan melintasi kelurahan Tlogorandu dan perbatasan Serenan, kemudian memutar ke utara menuju kelurahan Bolopleret, kembali ke selatan melintasi kelurahan Tanjung, lurus ke barat melintasi kelurahan Kenaiban. Kemudian ke kiri langsung ke kanan melintasi keluran Kwarasan, lurus menuju kelurahan Juwiring dan kembali ke panggung utama di Lapangan Akbar Bulurejo.

Rute yang panjang, dan ada beberapa kelurahan yang tak bisa di lewati karena keadaan yang tidak memungkinkan. Keluran Mrisen, Kelurahan Trasan, Kelurahan Serenan, Kelurahan Gondangsari, Kelurahan Taji da Kelurahan Carikan. Namun, tak jadi masalah, pawai tetap berjalan lancar dengan kuranglebih 500 santri dari 24 TPQ.

Warna-warni bagaikan pelangi. Keceriaan di jalan, yel-yel kekompakan peserta yang akan di nilai untuk memperebutkan juara pertama. Semarak Ramadhan, semoga menjadikan ramadhan tahun ini lebih berarti.
Ending, jadi pemulung dadakan di Lapangan selesai acara.
Satu agenda lagi melengkapi 3 hari Mbolan9.
12.30, TITIK.

RUMAH SIKEP, Andai ada di Solo ?

Mbolang hari-2
7 Juni 2012
Pakem, Sleman, Yogyakarta

Kesepakatan akhir menunda sebuah perjalanan panjang, hari ini pun ada sebuah KONSPIRASI kembali. Ini sebuah konspirasi yang unik menurutku. Satu rute, tiga keberangkatan. Purwosari-Maguwoharjo, Prameks Solo pertama melaju dari pukul 06.35, prameks kedua berangkat pukul 07.40, dan legenda berangkat 07.30 dari Klaten. Namun, legenda menjadi juara, Pintu keluar bandara Adi Sucjipto, tak seorang pun anggota laskar menampakan diri.

08.30,
“Mas cowie”, dari belakang terdengar suara yang tak asing lagi di genderangku.
“Nggih, ibu Sulis.”
“Mana kang Nassirun?” Tanya beliau.
“Ngapunten nggih ibu. Katanya sudah sampai, tapi beliaunya tak kelihatan.”
Tiba-tiba ibu Sulis menghilang, pas aku tinggal masuk ke peron. “Ah, biarlah ntar juga ketemu.” Gumamku dalam hati.

Dari pintu keluar peron, bermunculanlah 4 gadis cantik, dan 1 cowok keren. Diah C Mut, Daysi Elva, Isna Maylani, Alifta Lutfiaazahra serta Suaminya Bunga Diyo. Dan seiring dari pintu keluar bandara terlihat sosok kang Nassirun bersama istri dan kedua buah hati yang istimewa (Ahya yang hiperaktif dan Iqro’ yang selalu belajar) serta satu perempuan kalem, Apri dan Ibu Sulis.

Perjalanan pun di mulai, dari bandara menuju Jl. Solo belok ke kiri lurus, sampai ringroad, belok kanan lewat ring road utara dan menuju Maguwoharjo. Sebuah sanggar milik Ibu Ninuk. Sanggar untuk anak-anak yang ingin kreatif dan mempunyai kemauan belajar yang tinggi. Dan Gratis. Sanggar itu bernama “RUMAH SIKEP.” Terletak di tengah ladang yang sepi, jauh dari keramaian, dan bentuk rumah joglo yang berada di Maguwoharjo.

Bermain, Bernyanyi, Belajar Bahasa Ingsris dan Mengambar Kartun.
Sesion pertama kakak-kakak yang cantik mengajak mereka ice breaking, dari membuat yel-yel dari lagu burung hantu, terus main kereta-keretaan, serta olahraga fisik dengan permainan. Di tengah acara muncul kakak perempuan namanya kak Boen Mada.

Sesion dua saatnya kartunis yang romantis unjuk gigi, kata beliau. “Siapa bilang menggambar itu susah?”.
Metode dasar menggambar menggunakan angka 1-9. Satu bisa jadi apa, ayo tebak ? anak-anak yang kreatif mulai menggambar sesuai dengan imajinasinya. Dan yang menarik adalah, saat angka 1 menjadi perahu, angka 2 menjadi angsa, angka 3 menjadi wajah dan pinguin, angka 4 menjadi ikan, angka 5 bisa jadi kepala singa dan gozilla, angka 6 menjadi ular, angka 7 menjadi pak raden dengan kumisnya, angka 8 bisa jadi pocong, angka 9 menjadi pohon. Untuk yang lain mana kreasimu…? Itu hanya sedikit imajinasi dan kreatif dari angka 1-9 kita bisa buat apapun sesuai selera kita. Itu baru angka belum yang lain.

Sesion tiga saatnya suami bunga Diyo tampil, English class, cerdas cermat bahasa inggris. Dan seluruh rangkaian pagi sampai siang sangatlah seru sekali.

Photo-photo serta jajanan pasar yang tak kalah menariknya, mengoyak perut yang sedari tadi keroncongan. Ba’da dzuhur melanjutkan perjalanan menyusuri Jl. pakem, belok ke Jl. Besi dan sampailah di pertigaan Jl. Kaliurang. Ambil jalur kanan, berhenti mengisi bensin penumpang di rumah makan, kemudian lanjut ke Pakem ke tempat Ibu kepala sekolah. Istirahat, berbincang ria, mengasuh Iqro’ menangkap ikan bersama Ahya. Dan menikmati pemandangan kaki Merapi.

Aku selalu konspirasi dengan Legenda, menyusur Jl. Alternatif ke Solo dengan mata yang hampir tak bisa melihat. Setelah yang lain menuju Tugu untuk menjemput Prameks. [ ]

The Lost Java ?

oleh : harjanto dc

Mbolang hari-1
Jumat, 6 Juni 2012
Ar Royan, Solo

Dua buah hadiah istimewa dari seorang Kun Geia, penulis novel “The Lost Java” yang baru terbit Juni 2012. Pertama, Siang yang cukup menyengat dengan ruang laboratorium kepenulisan yang menyesakkan. Semua unsur dalam tulisan di buat dalam percobaan dari awal sampai akhir. Proses perkenalan sampai ending yang sesuatu banget. Sebuah bedah buku yang tidak membedah buku, namun di jadikan sebuah laboratorium yang sangat unik, dan baru kali ini rasanya mengikuti sebuah pelatihan yang menjadikan audiensnya seorang praktikan semua.

Seorang lelaki dengan simpul senyum manis yang selalu ia lontarkan dari sisi kanannya kepada semua praktikan, tiba-tiba menjadikan semua praktikan anak-anak yang “AROGAN”. Ini adalah sebuah konspirasi yang dilakukan seorang Master Kimia jebolan UGM itu kepada kami. Laki-laki kelahiran Garut, 27 tahun silam adalah bagian dari FLP wilayah Yogyakarta. Datang ke Solo untuk menghadiri walimatul ‘Ursy kerabatan, namun menyempatkan untuk kerjasama dengan FLP Soloraya, berbagi bagimana dia membuat suatu naskah yang berbeda, tidak mengekor pada penulis lain.

“The Lost Java“ adalah buku yang indah menurutku. Bagaimana penipuan demi penipuan yang dilakukan penulis kepada pembaca dari bab ke bab sangat menarik untuk mengakhiri membaca buku ini. Penokohan yang kuat, alur cepat yang berpacu dengan adrenalin, setting yang detail, pembelokan sebuah cerita yang mencabik-cabik pembaca, dan ini yang penting mempertahankan Emosi pembaca. Kata lelaki yang selalu memeakai topi di ruangan itu, “Sebuah penulis gagal ketika menjadikan emosi pembaca berhenti sebelum buku itu selesai di baca.” Alasannya, bisa jadi pembaca tidak kuat dan merinding atau semua gejolak perasaan muncul yang menjadikannya takut untuk meneruskan membaca buku tersebut.

KONSPIRASI dan AROGAN menjadi titik temu pada laboratorium Ar Royan, dan aku teringat saat PELANGI mendatangkan seorang Dezna, penulis dari penerbit Bentang satu tahunan yang lalu. Dia pun hampir sama gayanya. Memunculkan emosi kita, untuk Arogan, berkonspirasi untuk membuat naskah yang hebat. Dan itu pun sama juga saat pelatihan bersama pak Ahmad Tohari penulis Novel Ronggeng Dukuh Paruk, 29 Mei 2012. Bagaimana emosi yang di dapatkan saat beliau terinspirasi dari sosok Ronggeng. Melihat seorang penari yang telanjang bulat mandi di kali.

https://mutiaramutiaracinta.wordpress.com/2012/05/27/ketika-imajinasi-meramu-dengan-emosi/
***
Kedua, saat break, setelah sholat ashar, aku dan beliau sharing. Alhamdulillah, kado sore itu sangat istimewa. Dia bercerita, “Suatu cerita ada seorang tua yang menghabiskan masa hidupnya hanya sebagai penunggu dan peniup bara api yang ada di pesawat, dia tidak boleh keluar dari pekerjaannnya, dan perusahaan tidak mau memecatnya. Suatu ketika dia merasa malas dan sangat bosan. Suatu ketika orang tua tersebut bertemu dengan seorang penumpang, dan dia bertanya kepada si tua.

“Sudah berapa lama, bapak bekerja?”

“Asal bapak tahu, seumur hidup saya menunggui bara api ini.” Jawab si tua seakan tak terima dengan keadaan.

“Tahukah pak? Berapa orang yang sudah bapak antar kemana-mana dengan pesawat ini, tak terhitung jumlahnya. Harusnya bapak bersyukur, manjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain. Walaupun terkadang kita tidak menyadari apa yang dilakukan ternyata banyak manfaatnya untuk orang lain. Bukankah islam mengajarkan, “Sebaik-baik kamu adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain.” Dan janganlah bapak menyesal dan mengeluh dengan keadaan ini.” Dengan panjang lebar seorang pengusaha tadi menjelaskan manfaat kepada si tua.

Si bapak tua merasa tertusuk duri, sakit ketika dia ingat akan keluhannya beberapa waktu yang lalu, air matanya pun tiba-tiba pecah dan sujud syukur menyertainya.

Aku pun teringat akan keputusan yang telah lewat 4 bulan yang lalu, aku yang berpikir sama seperti bapak tersebut, merasa pekerjaanku tak sesuai dengan ilmu yang di pelajari, aku jadikan sebuah alasan untuk hijrah. Namun, bukan penyesalan, tapi sebuah perbaikan diri untuk tatap bertahan di tempat yang sekarang.

Sore yang sepi. [ ]