Tipe kepribadian

Tipe kepribadian

  1. SANGOIN

sisi positif        : mudah bergaul, mudah beradaptasi, suka kebebasan, berani tampil.

Sisi negatif      : mudah terpengaruh, tidak mau ditekan, cepat berkembang kedewasaannya, suka bermain diluar rumah, suka diperhatikan.

  1. MELANKOLIS

Sisi positif        : konsisten, taat aturan, kritis dalam berpikir, teliti.

Sisi negatif      : idealis, kurang fleksibel dalam pergaulan, mudah terbawa suasana hati, mudah bereaksi negatif dan cenderung memaafkan orang lain jika sudah kecewa.

  1. PHLEGMATIS

Sisi positif        : tidak suka konflik atau pertentangan, suka bersahabat, suka memberi dukungan, suka kebebasan.

Sisi negatif      : mudah cemas, peragu dan bimbang, kurang aktif daninisiatif, pelit.

  1. KHOLERIS

Sisi positif        : mudah tertantang, ingin tampil didean, suka memimpin.

Sisi negatif      : cenderung memaksakan kehendak, suka menuntut, tidak mau diperintah, mudah emosional bila keinginan tidak tercapai, suka mencari perhatian, dan takut gagal.

“BERCERMINLAH”

“BERCERMINLAH”

http://mutiaramutiarakata.wordpress.com/2011/07/12/bercerminlah/

Oleh: Harjanto DC

Hari ini sedikit terobati, walaupun puzzle hatiku belum sepenuhnya sempurna. Benar janji Allah, bahwa Allah tidak akan memberi ujian pada hambanya melebihi kemampuan hambanya. Dan selalu berprasangka baiklah kepadaNya dan berusahalah maka jalan itu akan ada.

Tiba-tiba teman kerjaku mengajukan gantian jaga shif, sehingga ada kesempatan untukku menyelesaikan, menggumpulkan puzzle-puzzle yang berserakan beberapa hari yang lalu.

Aku hanya ingin diperhatikan itu saja, setiap malam diriku bertemankan beberapa serangga di dalam kamar. Bagaimana sebenarnya Allah menunjukan ayat-ayatnya disekitar kita untuk dikaji dan pelajari serta diamalkan. Cicak, Kecoa, Laba-laba, dan Semut serta rayap adalah teman setiaku dalam berbagi setiap hari.

Bagaimana sang Cicak, dengan kaki yang punya daya magnet di tembok, merayap dengan sangat pelan, mengendap-endap bagai pencuri yang ingin membobol rumah, hanya untuk sekadar memenuhi isi perutnya yang lapar dengan nyamuk atau serangga kecil lainnya. Sehingga menjadikan suasana tidurku sedikit damai tanpa gigitan sang predator mungil bersayap.

Kemudian sang Kecoa, yang dianggap binatang menjijikan oleh sebagian orang, tapi aku senang padanya. Dia yang tiba-tiba berlari sembunyi dibalik bantal seolah berbisik, “Aku ingin cari tempat yang hangat, karena dinginnya malam ini.” Dan terkadang ku beri sedikit sisa makanan untuknya.

Dan bagaimana Allah menciptakan Semut, dan Allah mengistimewakan dalam sebuah surat di dalam Al Qur’an. An Naml (semut). Semut  hitam besar yang berjajar sangat rapi, mengusung makanan sisa yang aku makan, dimasukannya ke dalam lubang peristirahatannya. Semua itu dilakukan untuk bertahan hidup, menjadikan beberapa generasi berikutnya akan tetap hidup sampai kapan pun.

Dan si laba-laba cantik dan Allah pun mengistimewakannya juga dalam sebuah surat Al Ankabut. Si cantik yang semakin hari kian bertambah banyak tanpa ku sadari. Kemarin aku hanya melihat seekor laba-laba besar di sudut tempat tidurku, hari ini ku lihat dua sedang bercinta, layaknya sepasang kekasih dimabuk asmara, esok hari ku lihat si cantik yang mungil datang menghampiri tidurku.

Terakhir, rayap menjadi penghuni yang baru saja hadir. Membentuk koloni di sudut kamar, mendirikan bangunan megah dari tanah yang disusun ke atas. kerja sama yang luar biasa.

Allah menciptakan mereka tidak sia-sia, bagaimana manusia yang berakal mau menggunakan akalnya untuk berfikir. Untuk menemukan cara bertahan hidup dalam menghadapi berbagai masalah. Seperti halnya Cicak berusaha memangsa Nyamuk, atau Semut yang  mengusung sisa makanan ke rumahnya atau bahkan Kecoa yang bertahan hidup dengan mencari kehangatan, dan si cantik Laba-laba dengan berkembangbiak menjadi jumlah yang lebih banyak untuk mempertahankan generasi berikutnya. Serta rayap yang membingkai istana,

Begitu juga manusia, yang diberi oleh Allah satu derajat lebih tinggi daripada makhluk yang lain. Akal. Bagaimana kita berpikir untuk bertahan hidup atau menyelesaikan setiap kesulitan yang ada. Sungguh malu diriku ketika melihat mereka yang senantiasa menemaniku tiap hari di sebuah sudut kamar yang sempit mampu menyelesaikan masalahnya. Berusaha dengan gigih menyelesaikan semua ujian dari Allah.

Bercermin tidak hanya dari ayat-ayat yang tersurat, tetapi juga ayat yang tersirat disekitar kita, makhluk yang lain adalah cermin manusia.[]

s=vxt

s=vxt
by : harjanto dc

Jarak adalah kecepatan berbanding lurus dengan waktu. Jarak bukanlah hal yang kemudian mengendurkan semangat dakwah. Justru orang-orang yang kemudian istiqomah di jalanNya akan menjadikan rintangan atau ujian sebagai buah dari ke istiqomahan. Karena istiqomah tidak bisa didapatkan dengan berdiam diri. Namun, didapatkan dengan berusaha atau berproses dalam setiap aktivitas yang ada.

Kata Imam Ghazali, apa yang paling jauh dari hidupmu? Jawabnya adalah waktu yang telah terlampaui/ditinggalkan. Siapa yang bisa memutar waktu kecuali Allah. Manusia tidak akan pernah bisa kembali ke masa lalunya. Jadi sebisa mungkin bagaimana kemudian memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Bukankah sebaik-baik kalian adalah yang diberi umur panjang oleh Allah, dan paling banyak amalnya.

Kemudian apa yang paling dekat dengan hidupmu? Jawabnya kematian. Setiap anak adam yang terlahir ke dunia telah diikuti dengan takdir kematiannya. Namun, bagaimana kemudian manusia itu memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik mungkin. Mencari bekal sebanyak-banyaknya di dunia untuk menuju negeri akherat yang kekal. Siapa pun tidak tahu kapan dan dimana malaikat mautnya akan datang. Untuk itu berdoalah agar Allah menjemput dalam keadaan baik.

Penjelasan tentang istiqomah dalam surat Fushilat [41] : 30-32, bahwasannya ada 3 pelajaran yang dapat diambil : pertama janganlah engkau takut dengan masa depanmu, karena Allah selalu bersama orang-orang yang istiqomah. Kedua janganlah khawatir atau sedih dengan masa lalumu, sebab masa lalu orang-orang yang beriman insyaallah penuh kebahagiaan dan ketiga adalah optimis, karena Allah dan RasulNya adalah sebaik-baik penolong.

Saudaraku yakinlah akan waktu yang akan terus membersamai sampai ruh terlepas dari jasadnya. Sampai tetes darah terakhir yang engkau keluarkan dalam jihadmu. Sebaik-baik jihad adalah mengatakan kebenaran di depan pemimpin yang dholim.

Ini adalah hari pertama di bulan pertama hijiriyah, catatan amal setahun yang lalu telah Allah tutup. Diganti dengan kitab kosong untuk setahun ke depan. Apa yang sebaikan dilakukan, apakah akan terus menjadi manusia merugi dengan tidak muhasabah diri. Hisablah dirimu sebelum Allah akan menghisab di hari perhitungan kelak.

Allah telah menjamin atau menjadikan kita umat terbaik (Ali Imran [3]: 110), dan lalu bagaimana kemudian berusaha menjadi bukti konkrit dari ayat tersebut. Hidup adalah pilihan, seperti hal nya surga dan neraka. Semua tergantung dari apa yang kita lakukan sekarang, bagaimana kita menguasai waktu 24 jam yang diberikan oleh Allah. Semua manusia dengan waktu yang sama, hanya berbeda dalam pemanfaatnya saja.

Semoga kita termasuk hamba Allah yang pandai memanfaatkan waktu.[]

SURGA Vs NERAKA

SURGA Vs NERAKA
by : Harjanto dc

Ibarat seorang penulis, akan mengalami perubahan dalam kecepatan dan teknik menulisnya adalah ketika mendekati DL. Sama halnya dengan perubahan kebaikan pada sikap dan keimanan seseorang ketika membuat target atau lembaran mutaba’ah sebagai pemicu akan ibadah hariannya. Bukannya ibadah karena lembaran-lembaran itu. Namun hanya sebagai sarana dalam menjadikan ia lebih baik. Tetap niat dan tujuan kita adalah ibadah kepada Allah. Karena itu yang telah diperintahkannya dalam surat Adz dzariyat [51] : 56, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.”

Yup. Itu adalah salah satu tujuan diciptakannya manusia. Namun, alangkah bodohnya manusia ketika janji prasetya telah diucapkan saat masih di alam ruh, kemudiania lupakan ketika lahir ke dunia. Seperti apa yan telah Allah firmankan dalam surat Al A’raf [7] : 172, Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Jelas sekali syahadat yang telah anak adam lafadzkan, namun kebanyakan orang kemudian mengingkari apa yan telah ia sepakati oleh Allah. Ini adalah pelajaran berharga bagi orang-orang yang kemudian beriman kepada Allah. Nah, bagaimana kemudian yang harus dilakukan untuk beribadah kepada Allah seperti apa yang telah Allah perintahkan dalam surat Adz dzariyat tersebut. Yaitu, bertaqwa kepada Allah. Arti taqwa adalah menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan. Apa-apa yan telah menjadi kewajiban atau pun sunnah maka itu lah yang kemudian Allah dan Rasulnya Muhammad perintahkan. Dan apa-apa yang Allah haramkan atas mereka , janganlah kemudian sekali-kali menghalalkannya. Seperti halnya nukilan hadist Arba’in Imam An Nawawi ke 22 : “Abu Abdillah Jabir bin Abdillah Al Anshari ra. Berkata, ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah saw., “Jika aku shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram, lalu aku tidak menambah selain amalan itu. Apakah aku akan masuk surga?” Beliau menjawab, ‘Ya’.” (HR. Muslim).

Dalam hadist tersebut bisa kita petik pelajaran yang luar biasa dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan lelaki itu. Implementasinya adalah ketakwaan kepada Allah. Dan tujuan peribadatan pun kepada Allah. Ini yang kemudian manusia masih sering melupakan tujuan ia diciptakan oleh Allah dan apa yang kemudian harus mereka lakukan di dunia ini. Dunia tidak akan kekal. Karena dunia adalah tempat mencari penghidupan di akherat. Surga atau neraka adalah pilihan yang harus ditentukan dari sekarang. Mana yang akan diharapkan adalah sesuai timbangan amal kebaikan masing-masing. Segeralah untuk taubat saudaraku. Jangan lah menunggu sampai Allah menguji dengan mautnya, seperti apa yang telah dialami saudara yang lain, bisa dilihat di https://mutiaramutiaracinta.wordpress.com/2014/10/19/. Semoga dengan target-target tertentu kita bisa lebih meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Wallahu’alam bi showab.

ISTIQOMAH?

ISTIQOMAH?
by : Harjanto dc

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Fushilat [41]: 30-32)

Aspek terpenting dalam dakwah adalah perkataan. Tidak boleh menyepelekan perkataan. Karena perkataan itu menghalalkan hubungan suami istri. Iman dikatakan sempurna bila ada unsur perkataan. Iman adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, mengamalkan dengan rukun (perbuatan).

Keimanan itu harus di deklarasikan. Bukan sombong, namun sebagai penyeimbang dengan kemunafikan. Orang-orang munafiq saja membanggakan dirinya. Kenapa sebagai orang beriman justru menyembunyikannya.

Kedua sebagai pembeda. Maksudnya adalah yang disebut orang beriman adalah yang mereka mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan orang munafiq tidak akan pernah melafadzkannya. Bukti konkrit adalah paman nabi Muhammad abu thalib, beliau meyakini Allah. Akan tetapi selama hidupnya tidak pernah melafadzkan Syahadat. Dan inilah salah satu hal kenapa tidak boleh kemudian menyepelekan perkataan.

“Amal yang terbaik adalah katakan aku beriman kepada Allah kemudian (lalu) istiqomah.”
Ucapan terkadang lebih berat daripada imannya. Sebaik-baik jihad adalah mengatakan kebenaran di depan pemimpin yang dholim.

Dilihat dari Susunan ayat dalam surat Fushilat ini, menemukan agenda orang beriman ada 2 : Mengucapkan tuhan kami adalah Allah (Iman) kemudian Istiqomah. Istiqomah adalah sebuah proses, bukan lantaran sesuatu yang tiba-tiba ada. Orang yang istiqomah pastinya menalami godaan, ujian bahkan bisa jadi fitnah. Seperti yang ditegaskan dalam surat Al- Ankabut [29] : 2, “Apakah kamu mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “kami telah beriman, dan kami tidak diuji.”

Buah dari ujian adalah istiqomah.
Istiqomah itu :
1. Adamul Khauf : tidak akan mengalami rasa takut (masa depan),
2. Tidak memiliki rasa sedih (masa lalu)
3. Ada optimisme, karena Allah dan malaikat adalah penolong-penolong baginya.
***

GAME, Mendoktrin otak manusia!

GAME, Mendoktrin otak manusia!
By : harjanto dc

Hmm. Judulnya lebih mirip seperti teroris, yang kemudian mencuci otak targetnya. Hampir mirip cara kerja game ini. Jangan dipikir bermain game itu hanya permainan seperti adu kelereng atau lompat tali untuk anak-anak. Game yang dimainkan dalam media elektronik memiliki efek yang berbeda. Efek yang bisa jadi ‘CANDU’ bagi si pemainnya. Lhah? Kok bisa?

Kisah-kisah
Ada kisah seru dibalik artikel ini. Kisah yang pertama tentang seorang yang amat dekat denganku. Dulu kejadian ini saat ia usia kelas 2 STM. Seorang yang kemudian menghabiskan waktu setahunnya hanya untuk main playstation. Berbagai lomba yang berhubungan dengan playstation ia ikuti. Hingga setahun itu menjadi waktu yang gagal untuk belajarnya. Setahun tidak berangkat sekolah. Kalaupun berangkat hanya 1 atau 2 kali seminggu.

Kisah kedua tentang seorang santri di TPQ tempat dimana aku biasa mengajar. Anak usia SMP kelas 1 ini kecanduan game sejak SD. Uang SPP tidak terbayarkan demi bisa main Game Online. Kalau dipikir, sungguh sangat meresahkan masyarakat adanya game online di setiap internet. Sampai sekarang sering bolos ngaji lantaran ngegame di warnet.

Kisah ketiga. Ini mungkin kisah terparah. Kebebasan penggunaan internet di rumah sangatlah berpengaruh besar pada pendidikan anak. Seorang mahasiswa yang sangat cerdas. Waktu di SMA juara satu paralel. Namun, cita-citanya hancur karena kecanduan game. Keseharian ia habiskan untuk duduk di depan computer, menikmati serangkaian permainan yang menguras tenaga dan pikirannya. Ketika tidak ada internet di rumah maka warnet menjadi pelarian. Kuliahnya hancur. Kepandaiannya tak berfungsi ketika otak sudah tidak mau berorientasi untuk mengubah perilaku.

Pelajaran berharga dari ketika kisah tersebut adalah. Game tidak hanya di sukai anak-anak, bahkan remaja, dewasa dan orangtua sekalipun. Namun, disini bagaimana kemudian kita tetap yakin dapat mengendalikannya. Bukan permainan yang mengendalikan otak kita. Jangan kemudian mencoba-coba sesuatu yang mungkin anda sendiri tidak dapat mengendalikannya.

Cara kerja game adalah awalnya mungkin baik-baik saja, namun ketika tantangannya semakin berat dan kegagalan yang selalu di dapatkan. Maka kemampuan akan di uji. Keseringan untuk selalu mencoba akan muncul. Nah, disinilah titik terberat yang akan memporak-porandakan keimanan. Bagaimana tidak? Sebenarnya ketika itu diterapkan dalam belajar maka efeknya adalah kecerdasan. Namun ketika penerapannya pada sebuah permainan maka kecanduan untuk selalu menang dan menang yang akan mendoktrin otak.

Lalu, siapa yang disalahkan?

Pendidikan akhlak dewasa ini mengalami kebobrokan moral. Bagaimana kemudian anak-anak disuguhkan acara-acara televisi yang tidak mendukung pola pengembangan anak. Peran orangtua, guru dan praktisi pendidikan lainnya sangatlah dibutuhkan. Ketika kemudian beberapa faktor itu tidak saling mendukung maka mungkin 20 tahun yang akan datang, anak-anak inilah yang nantinya akan menggantikan posisi-posisi penting di Negara ini. Mau dibawa kemana negeri ini?

Apakah kemudian kita kan menyesal? Jangan menunggu terjadi, namun lebih baik mencegah daripada mengobati.

Apa yang harus dilakukan?
Perhatian Orang tua
Orangtua adalah faktor utama. Karena rumah tangga adalah tempat anak-anak belajar. Mencontoh sesuatu dari keduanya. Ketika kemudian orang tua cuek dengan segala keadaan anak-anaknya. Yah, bisa dipastikan anak-anaknya akan mencontoh kebiasaan yang keliru itu. Akhlak sangat berperan penting dalam perkembangan anak. Sebagai orang tua sudah sepantasnya memberikan dan mengajarkan akhlak yang baik kepada anak-anaknya.

Pendidikan Usia Dini
Pendidikan karakter harus lebih dikembangkan. Mengarahkan anak untuk menikmati pendidikan yang mengajarkan kepada titik terbesar dalam sopan-santun. Anak-anak sekarang sudah mulai lupa dengan etika kesopanan yang menjadi ciri khas orang timur. Padahal tata karama ini sangat penting dalam sosial dengan orang lain.

Lingkungan

Lingkungan adalah faktor pemicu yang amat ampuh, ketika orangtua sudah lepas kendali kepada pendidikan anak-anaknya. Ibarat pepatah, “ketika berteman dengan penjual minyak wangi maka akan wangi, namun ketika berteman dengan pandai besi maka akan kena asapnya.” Sungguh ini hal sepele, namun pelajarannya luar biasa. Dengan siapa kita berteman makan akan jadi apa? Ini adalah pilihan.

Semoga dalam menjadi praktisi pendidikan, tidak puas ketika hanya pendai sendirian. Namun, akan merasa lebih lega ketika generasi kita lebih baik dari kita. Ibarat hidupkan bagaiakan pohon yang subur, bagaiamana kemudian dari setiap apa yang dihasilkan pohon tersebut akan bermanfaat untuk orang lain. Pohon yang besar, daun yang hijau ataupun kering, buah yang segar semua itu akan bermanfaat. Dan sebaik-baik kamu adalah yang palin banyak manfaatnya untuk orang lain.
***

MAUT!

MAUT!
By : Harjanto dc

Dreet…dreeet…glek…

Suara kendaraan sesaat berhenti di depan rumahku. Berpikir tamu yang aku nantikan sejak sore tadi sudah datang.

“Assalamu’alaikum…” Salam dari suara yang tidak begitu aku kenal.

“Wa’alaikumussalam…” Sembari membuka pintu kamar tamu, aku membalas doa yang diberikan sang tamu.

“Arbi ada?” Tanyanya kepadaku. Seolah ia begitu dekatnya dengan kakakku.

“Mas Arbi tidak dirumah.” Jawabku. Sambil mengingat-ingat wajah seseoarang yang ada di hadapanku.

Wajah yang sangat aku kenal. Suara, postur tubuh. Namun ada yang sedikit berbeda pada batok kepalanya. Ada segaris jahitan, seperti bekas kecelakaan. Dengan kumis sedikit tipis, dan jenggot yang hanya sedikit pula. Senyumnya menyerbak hingga aku mulai tersadar, kalau orang itu adalah tetanggaku. Seseorang yang dulu, mungkin beberapa tahun lalu sempat menempati sebuah rumah yang ada di ujung kampong.

Yup. Namanya mas Irfan (Samaran). Penampilan yang sekarang sungguh berbeda. Apa gerangan yang membawanya sampai ke istanaku. Ternyata ingatan tentang permainan bola kakakku masih menempel di kepalanya.

“Lha , ada apa mas?” tanyaku menyelidik.

“Tidak ada apa-apa. Hanya mau mengajaknya futsal.” Jawabnya sambil menaiki Revonya.

“Wah, aku juga bisa. Tapi, kalau sekarang tidak bisa.” Sembari menghibur kekecewaannya.

“Tenane1?” Ledeknya, seolah tidak percaya.

“Yo, tenanlah. Aku Kiper.” Kataku meyakinkannya.

Obrolan pun berlanjut, karena sudah sekian tahun ia tidak pernah lagi muncul di daerahku. Dari obrolan tanya kabar hingga pekerjaan serta masalah yang sangat pribadi.

Irfan mulai bercerita, bertanya kabar beberapa orang yang masih diingatnya. Hingga kemudian bercerita tentang musibah yang menimpanya beberapa waktu lalu. Sewaktu remaja Irfan adalah orang yang suka mendem2, pemakai (drug), dan beberapa kegiatan yang merusak hidupnya ia lakukan. Namun, Idul fitri tahun ini Allah memberikan hidayah dengan kecelakaan.

Kecelakaan itu menjadikannya tak sadarkan diri lebih dari 12 jam. Saat tidak sadar ia bercerita, ada sekelompok orang dengan pakaian putih bersorban melintas dan hendak membawanya pergi, namun seketika pemimpin dari sekelompok orang itu melarang untuk mengajaknya. Katanya pemimpin itu, “Ini belum waktunya dia ikut.”

Seketika Irfan bangun dari koma. Dan mulai menata hidupnya karena mimpi itu ia yakini sebagai teguran dari Allah. Semenjak saat itu, ia pun taubat, ibadah-ibadah wajib serta sunnah ia kerjakan.

Cerita pun terus mengalir, hingga tiba-tiba ia meminta Al Qur’an kepadaku.

“Kamu punya Al Qur’an, nggak? Kalau ada yang pake resleting.” Pintanya.

“Adak kok. Sebentar tak ambilkan.” Langkahku berbalik ke dalam rumah. Mengambil Al qur’an
yang jarang tak baca.

Alhamdulillah akhirnya Al Qur’an yang itu menemukan jodohnya. Yaitu mas Irfan. Selang beberapa saat tamu yang ku tunggu-tunggu pun akhirnya datang. Dan mas irfan pun pamit untuk segera futsal.

“Assalamu’alaikum…” sembari berjalan mengajak kami jabat tangan.

“Wa’alaikumussalam warrohmatullahi wabarrakatuh.”

***
Pelajaran : Kedatangannya pun adalah teguran Allah untukku. untuk lebih meningkatkan keimanan kepadaNYA.

Catatan kaki:
1 Tenane : benarkah?
2 Mendem: Minum-minuman keras

(Rizki) Silaturahim

(Rizki) Silaturahim
By : Harjanto dc

Sampailah di sebuah bangunan sederhana. Saat memasuki sebuah pagar besi coklat muda setinggi kira-kira 2 meter. Halaman cukup luas dengan dua pohon jambu air di depannya.

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumussallam warrohmatullah…” Terdengar jawaban seorang perempuan dari dalam rumah dengan cat yang hampir semua mengelupas.

“Bapak wonten, mbak?” Tanyaku.

“Mboten wonten menika. Lha, pripun mas?” jawab perempuan dengan jilbab kuning itu, sembari mempersilahkanku duduk di teras.

“Kula tenggo mawon.” Sembari segera duduk di kursi kayu yang ada di teras.

Beberap menit kemudian, terdengarlah suara yang tak asing lagi. Sebuah motor yang lumayan tua memasuki gerbang besi. Seorang laki-laki yang cukup umur mengendarI motor tersebut.

Seusai jabat tangan, beliau mempersilahkanku masuk ke bangunan yang cukup mungil. Sedang keadaan di dalam tak jauh beda dengan apa yang ada di luar. Namun, bukan itu yang menjadi pelajaran hari ini.

Namun, sebuah ujian yang diberikan kepada manusia dari Allah. Saat manusia miskin dan serba kekurangan maka ia akan meminta kepada Allah untuk dicukupkan rizkinya, dan mungkin minta lebih daripada cukup. Siapapun itu?

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah setelah Allah mengabulkannya ia akan tetap bersikap layaknya saat miskin, ataukah menjadi lupa kepada Allah karena sudah memiliki segalanya?

Sebuah pelajaran besar yang dapat saya petik dari silaturahim hari ini. Sebuah keluarga yang berjuang untuk mencukupi hidupnya. Seiring jalan, Allah memberikannya lebih dari cukup. Namun, beliau tetap bersikap layaknya dulu tidak memiliki apa-apa. Dari rumah, bahkan cara berpakaian atau kah yang lainnya.

Terkadang ini yang tidak pernah kita pikirkan. Apapun yang diberikan oleh Allah adalah ujian. Harta, kecantikan istri, anak. Bila semua hal tersebut tidak dilandaskan pada keimanan kepada Allah maka, bisa jadi kita akan takabur, sombong dengan apa yang kita miliki.

Allah tidak akan menguji hambanya melebihi kemapuannya…

Surga itu Pasti!

Surga itu Pasti!
by : Harjanto dc

Kamis. Hari dimana keputusan besar telah disepakati. Kajian fikh dan Ilmu Al Qur’an menjadi bagian dari kesepakatan itu. Setengah tahun berjalan dengan beberapa santri ikhwan dan kebanyakan akhwat. Dan ini adalah semester kedua, demi kelancaran sebuah program dan menghindari fitnah yang terjadi. Maka kelas pun dipecah menjadi dua. Ikhwan sendiri dan akhwat sendiri. Membentuk pribadi yang luar biasa dalam sebuah tujuan pembelajaran menemukan jati ini.
***

Mengumpulkan remaja untuk kebaikan itu lebih sulit dibandingkan mengumpulkan remaja untuk hura-hura dan maksiat. Padahal jelas disebutkan dalam sebuah potongan hadist,”…Salah satu golongan yang dirindukan surga adalah remaja yang senantiasa mentautkan atau mendekatkan hatinya ke masjid…”

Lalu, bagaimana pola pikir kita mengenai hal ini? Apakah masih mengganggap masa remaja adalah waktu yang tidak boleh dilewatkan untuk bersenang-senang sesuka hati, tanpa memperhatikan diri sendiri untuk beribadah? Ataukah masa remaja akan kita manfaatkan sedemikian hingga untuk memperbaiki keimanan?

Kaitannya dengan semua ini adalah mencari teman. Bagaimana dan siapa teman kita akan membawa dampak. Ada sebuah pepatah, “jika berteman dengan pandai besi maka akan terkena asapnya, dan jika berteman dengan penjual minyak wangi maka akan terkena wanginya.”

Nah, seorang teman tidak bertanggungjawab dengan apa yang akan terjadi pada kita. Apa yang akan terjadi, bai ataukah buruk adalah tanggungjawab sendiri.

Nah, kawan coba kita pikir sekali lagi? Atau berkali-kali. Ingin berubah atau tidak tergantung dari pilihanmu. Sebab, pilihanmu hari ini akan menentukan kemana jalanmu selanjutnya.

Carilah teman yang akan mengantarkanmu ke surga, teman yang akan selalu mengingatkanmu dalam kebaikan, menasehatimu saat melakukan kesalahan.
***

Cahaya kekuningan telah tampak di ujung barat. Mentari akan segera meninggalkan bumi dibelahan lain, dan berbagi dibelahan lainnya. Menatap remaja-remaja di dalam ruangan berukuran tujuh kali empat meter itu sangatlah menyejukan hati. Bagaimana kemudian berpikir mereka adalah generasi yang akan menggantikan penjuangan dakwah suatu saat nanti. Merekalah yang akan memegang kepemimpinan negeri ini.

Jika kemudian pemimpinnya beriman, beragama, dan berakhlaq mulia serta cerdas dalam menentukan sikap, maka negeri ini akan kembali ke masa dimana kejayaan islam menjadi bagian yang tak tertolakkan di dunia.

Mimpi…

Mimpi itu harus diazzamkan dalam diri, entah tercapai atau pun tidak. Paling tidak kita menjadi pemimpin untuk diri sendiri.
***

“NDOL” FOREVER

“NDOL” FOREVER
by: Harjanto dc

Ngomong-ngomong soal hewan peliharaan. Turun temurun di rumah sederhana ini selalu sepi tanpa mereka. Si bulu lebat dengan empat kaki dan senjata pamungkas cakaran menjadi penghuni yang tak lekang oleh waktu. Dari jaman nenek masih hidup kami selalu memlihara mereka.

Dari si Bayek dan si Ndol (pertama) dua ekor anak kucing yang yatim-piatu karena induknya mati. Sejak lahir diurus oleh ibuku. Ibu menyayangi mereka seperti anak sendiri. Tiap hari diberi susu, disiapkan makan, dibuatkan tempat buang air dan kotorannya.

Seiring mereka besar. Bayek yang tidak pernah pergi dari rumah, tiba-tiba jalan-jalan dan itu adalah kali pertama Bayek pergi dan tak pernah kembali. Tinggalkan si Ndol (pertama ) seorang diri. Ndol (pertama) seolah menjadi penguasa, karena tidak ada rekan dalam maenghabiskan makanannya.

Ndol (pertama) pun tumbuh menjadi kucing dewasa dan seperti layaknya manusia. Ndol pun menemukan cintanya, menghilang bersama kucing perempuan tetangga.
Rumah ini sepi kembali tanpa mereka berdua, mereka adalah kesayangan adik laki-laki ku.

***

Selang beberapa bulan, entah sepertinya kucing-kucing liar itu tertarik dengan rumah ini. Makanan mungkin atau kasih sayang. Seekor induk kucing dengan tiga ekor anak mendatangi rumah kami. Warnanya mempesona dan cantik. Dua betina, dan satu jantan.

Adik senang sekali karena ada si manis yang mau tinggal di rumah. Adik memberinya nama Ndol untuk semua kucing kecil itu. Sebagai penghormatan atas Ndol yang pertama.

Ketiganya tumbuh dengan kasih sayang seperti yang Ndol (pertama) dan Bayek dapatkan dulu. Suatu ketika ada yang meminta kucing itu satu. Tapi kami tidak pernah memberikannya pada orang lain. Selang beberapa waktu, ada satu yang sakit dan akhirnya mati. Adik terlalu sedih kehilangan satu teman mainnya, namun semua itu cepat sirna karena kedua Ndol itu mampu memberikan tawa padanya.

Tersisa dua, karena semakin besar dan mereka makannya banyak, akhirnya yang betina diberikan kepada orang lain dengan rasa penuh kehilangan.

Ndol (kedua) menjadi kucing seperti Ndol (Pertama) penguasa, dan menang sendiri atas apa yang ada di rumah ini. Mungkin mengalami kebosanan yang mendalam, akhirnya Ndol pun mulai jarang pulang, kami tidak pernah tahu dia kemana. Mungkin karena posisi dia diambil alih oleh beberapa anak kucing yang tiba-tiba tinggal di rumah kami. Ndol (Kedua) adalah kucing paling penurut yang kami miliki, apapun yang dikatakan Ibu ia pun turuti. Ibarat manusia saat dimarahi, ia pun tertunduk diam.

Dan Induknya adalah kucing paling ngerti tatanan dan kesopanan, ketika meminta makan tidak naik meja akan tetapi mengeong dan mengangkat satu kakinya untuk memberi isyarat. Mungkin Ndol (kedua) mendapat ilmu dari genetik induknya.

Kini Ndol pun sudah hampir sebulan ini tidak kelihatan. Dan yang masih tinggal di rumah Induk dan beberapa adik Ndol.

Lalu…

Nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan? Saat hewan yang tidak punya akal pun bersikap layaknya manusia dalam menjalani hidupnya.

*salamNdol*Meong*