Jalan keistiqomahan

Jalan keistiqomahan

by : Harjanto DC

Memulai sesuatu dengan managemen waktu yang baik serta menjadikan keistiqomahan dalam menuju taqwa. Siapa pun tak pernah tahu kapan waktu terakhir udara akan mengalir di paru-paru serta peredaran darahnya. Yang ada hanyalah rasa selalu yakin kematian pasti akan menyapa. Tidak sekarang mungkin lusa. Dan manusia hanya dapat mempersiapkan diri dengan kebaikan-kebaikan.

Jalan menempuh keistiqomahan, pertama adalah memepelajari dien atau islam secara kaffah (menyeluruh). Dengan mempelajari islam tidak setengah-setengah maka tidak akan mudah terombang-ambing dengan ujian dan cobaan serta gangguan dari orang lain.

Kedua, taqqarub, senantiasa mendekatkan diri pada Allah. Selalu yakin Allah melihat serta memperhatikan apa-apa yang dikerjakan. Tidak ada tempat diamnapun yang Allah tidak melihatnya. Bagaimana mendekatkan diri pada Allah? menjalankan perintahnya dan menjauhi laprangannya.

Ketiga, berteman dengan orang-orang sholeh. Dengan siapa berteman maka akan terlihat bagaimana orang itu. ketika berkawan dengan orang-orang sholeh maka senantiasa akan teringatkan tentang kebaikan. ketika hendak berbuat maksit atau melenceng dari koridor maka akan ada yang mengingatkan. bukan berarti tidak boleh berteman dengan orang yang tidak baik. Boleh-boleh saja berteman dengan orang yang tidak baik, asalkan ada niatan dalam hati untuk memperbaiki atau mengajak kepada kebaikan. Inyaallah dengan niat ini, Allah akan selalu menjaga keimanan.

Keempat, membaca atau mencari tauladan orang-orang terdahulu. Mengambil pelajaran dari kisah-kisah yang telah disematkan dalam Al Qur’an. Bahkan sebelum islam pun telah banyak contoh dan pelajaran yang bisa diambil dalam meningkatkan keimanan kepada Allah. Misalkan kisah nabi ibrahim, kisah nabi yusuf, kisah masyitoh, ataupun tentang Rasulullah suri tauladan yang baik serta sahabat dan orang-orang besar yang namanya tertulis dalam sejarah.

Dalam meniti jalan dakwah, dalam menggapai keistiqomahan maka pastinya Allah akan memberi ujian pada setiap manusia. maka akan mendapatkan buah dari keistiqomahan.

https://mutiaramutiaracinta.wordpress.com/2014/10/22/istiqomah/

Advertisements

“BERCERMINLAH”

“BERCERMINLAH”

http://mutiaramutiarakata.wordpress.com/2011/07/12/bercerminlah/

Oleh: Harjanto DC

Hari ini sedikit terobati, walaupun puzzle hatiku belum sepenuhnya sempurna. Benar janji Allah, bahwa Allah tidak akan memberi ujian pada hambanya melebihi kemampuan hambanya. Dan selalu berprasangka baiklah kepadaNya dan berusahalah maka jalan itu akan ada.

Tiba-tiba teman kerjaku mengajukan gantian jaga shif, sehingga ada kesempatan untukku menyelesaikan, menggumpulkan puzzle-puzzle yang berserakan beberapa hari yang lalu.

Aku hanya ingin diperhatikan itu saja, setiap malam diriku bertemankan beberapa serangga di dalam kamar. Bagaimana sebenarnya Allah menunjukan ayat-ayatnya disekitar kita untuk dikaji dan pelajari serta diamalkan. Cicak, Kecoa, Laba-laba, dan Semut serta rayap adalah teman setiaku dalam berbagi setiap hari.

Bagaimana sang Cicak, dengan kaki yang punya daya magnet di tembok, merayap dengan sangat pelan, mengendap-endap bagai pencuri yang ingin membobol rumah, hanya untuk sekadar memenuhi isi perutnya yang lapar dengan nyamuk atau serangga kecil lainnya. Sehingga menjadikan suasana tidurku sedikit damai tanpa gigitan sang predator mungil bersayap.

Kemudian sang Kecoa, yang dianggap binatang menjijikan oleh sebagian orang, tapi aku senang padanya. Dia yang tiba-tiba berlari sembunyi dibalik bantal seolah berbisik, “Aku ingin cari tempat yang hangat, karena dinginnya malam ini.” Dan terkadang ku beri sedikit sisa makanan untuknya.

Dan bagaimana Allah menciptakan Semut, dan Allah mengistimewakan dalam sebuah surat di dalam Al Qur’an. An Naml (semut). Semut  hitam besar yang berjajar sangat rapi, mengusung makanan sisa yang aku makan, dimasukannya ke dalam lubang peristirahatannya. Semua itu dilakukan untuk bertahan hidup, menjadikan beberapa generasi berikutnya akan tetap hidup sampai kapan pun.

Dan si laba-laba cantik dan Allah pun mengistimewakannya juga dalam sebuah surat Al Ankabut. Si cantik yang semakin hari kian bertambah banyak tanpa ku sadari. Kemarin aku hanya melihat seekor laba-laba besar di sudut tempat tidurku, hari ini ku lihat dua sedang bercinta, layaknya sepasang kekasih dimabuk asmara, esok hari ku lihat si cantik yang mungil datang menghampiri tidurku.

Terakhir, rayap menjadi penghuni yang baru saja hadir. Membentuk koloni di sudut kamar, mendirikan bangunan megah dari tanah yang disusun ke atas. kerja sama yang luar biasa.

Allah menciptakan mereka tidak sia-sia, bagaimana manusia yang berakal mau menggunakan akalnya untuk berfikir. Untuk menemukan cara bertahan hidup dalam menghadapi berbagai masalah. Seperti halnya Cicak berusaha memangsa Nyamuk, atau Semut yang  mengusung sisa makanan ke rumahnya atau bahkan Kecoa yang bertahan hidup dengan mencari kehangatan, dan si cantik Laba-laba dengan berkembangbiak menjadi jumlah yang lebih banyak untuk mempertahankan generasi berikutnya. Serta rayap yang membingkai istana,

Begitu juga manusia, yang diberi oleh Allah satu derajat lebih tinggi daripada makhluk yang lain. Akal. Bagaimana kita berpikir untuk bertahan hidup atau menyelesaikan setiap kesulitan yang ada. Sungguh malu diriku ketika melihat mereka yang senantiasa menemaniku tiap hari di sebuah sudut kamar yang sempit mampu menyelesaikan masalahnya. Berusaha dengan gigih menyelesaikan semua ujian dari Allah.

Bercermin tidak hanya dari ayat-ayat yang tersurat, tetapi juga ayat yang tersirat disekitar kita, makhluk yang lain adalah cermin manusia.[]

Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (Q.S. Fushilat [41] : 44)

ISTIQOMAH?

ISTIQOMAH?
by : Harjanto dc

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Fushilat [41]: 30-32)

Aspek terpenting dalam dakwah adalah perkataan. Tidak boleh menyepelekan perkataan. Karena perkataan itu menghalalkan hubungan suami istri. Iman dikatakan sempurna bila ada unsur perkataan. Iman adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, mengamalkan dengan rukun (perbuatan).

Keimanan itu harus di deklarasikan. Bukan sombong, namun sebagai penyeimbang dengan kemunafikan. Orang-orang munafiq saja membanggakan dirinya. Kenapa sebagai orang beriman justru menyembunyikannya.

Kedua sebagai pembeda. Maksudnya adalah yang disebut orang beriman adalah yang mereka mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan orang munafiq tidak akan pernah melafadzkannya. Bukti konkrit adalah paman nabi Muhammad abu thalib, beliau meyakini Allah. Akan tetapi selama hidupnya tidak pernah melafadzkan Syahadat. Dan inilah salah satu hal kenapa tidak boleh kemudian menyepelekan perkataan.

“Amal yang terbaik adalah katakan aku beriman kepada Allah kemudian (lalu) istiqomah.”
Ucapan terkadang lebih berat daripada imannya. Sebaik-baik jihad adalah mengatakan kebenaran di depan pemimpin yang dholim.

Dilihat dari Susunan ayat dalam surat Fushilat ini, menemukan agenda orang beriman ada 2 : Mengucapkan tuhan kami adalah Allah (Iman) kemudian Istiqomah. Istiqomah adalah sebuah proses, bukan lantaran sesuatu yang tiba-tiba ada. Orang yang istiqomah pastinya menalami godaan, ujian bahkan bisa jadi fitnah. Seperti yang ditegaskan dalam surat Al- Ankabut [29] : 2, “Apakah kamu mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “kami telah beriman, dan kami tidak diuji.”

Buah dari ujian adalah istiqomah.
Istiqomah itu :
1. Adamul Khauf : tidak akan mengalami rasa takut (masa depan),
2. Tidak memiliki rasa sedih (masa lalu)
3. Ada optimisme, karena Allah dan malaikat adalah penolong-penolong baginya.
***

Khuwariyun

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(Q.S At Taubah [9] : 40)

MAUT!

MAUT!
By : Harjanto dc

Dreet…dreeet…glek…

Suara kendaraan sesaat berhenti di depan rumahku. Berpikir tamu yang aku nantikan sejak sore tadi sudah datang.

“Assalamu’alaikum…” Salam dari suara yang tidak begitu aku kenal.

“Wa’alaikumussalam…” Sembari membuka pintu kamar tamu, aku membalas doa yang diberikan sang tamu.

“Arbi ada?” Tanyanya kepadaku. Seolah ia begitu dekatnya dengan kakakku.

“Mas Arbi tidak dirumah.” Jawabku. Sambil mengingat-ingat wajah seseoarang yang ada di hadapanku.

Wajah yang sangat aku kenal. Suara, postur tubuh. Namun ada yang sedikit berbeda pada batok kepalanya. Ada segaris jahitan, seperti bekas kecelakaan. Dengan kumis sedikit tipis, dan jenggot yang hanya sedikit pula. Senyumnya menyerbak hingga aku mulai tersadar, kalau orang itu adalah tetanggaku. Seseorang yang dulu, mungkin beberapa tahun lalu sempat menempati sebuah rumah yang ada di ujung kampong.

Yup. Namanya mas Irfan (Samaran). Penampilan yang sekarang sungguh berbeda. Apa gerangan yang membawanya sampai ke istanaku. Ternyata ingatan tentang permainan bola kakakku masih menempel di kepalanya.

“Lha , ada apa mas?” tanyaku menyelidik.

“Tidak ada apa-apa. Hanya mau mengajaknya futsal.” Jawabnya sambil menaiki Revonya.

“Wah, aku juga bisa. Tapi, kalau sekarang tidak bisa.” Sembari menghibur kekecewaannya.

“Tenane1?” Ledeknya, seolah tidak percaya.

“Yo, tenanlah. Aku Kiper.” Kataku meyakinkannya.

Obrolan pun berlanjut, karena sudah sekian tahun ia tidak pernah lagi muncul di daerahku. Dari obrolan tanya kabar hingga pekerjaan serta masalah yang sangat pribadi.

Irfan mulai bercerita, bertanya kabar beberapa orang yang masih diingatnya. Hingga kemudian bercerita tentang musibah yang menimpanya beberapa waktu lalu. Sewaktu remaja Irfan adalah orang yang suka mendem2, pemakai (drug), dan beberapa kegiatan yang merusak hidupnya ia lakukan. Namun, Idul fitri tahun ini Allah memberikan hidayah dengan kecelakaan.

Kecelakaan itu menjadikannya tak sadarkan diri lebih dari 12 jam. Saat tidak sadar ia bercerita, ada sekelompok orang dengan pakaian putih bersorban melintas dan hendak membawanya pergi, namun seketika pemimpin dari sekelompok orang itu melarang untuk mengajaknya. Katanya pemimpin itu, “Ini belum waktunya dia ikut.”

Seketika Irfan bangun dari koma. Dan mulai menata hidupnya karena mimpi itu ia yakini sebagai teguran dari Allah. Semenjak saat itu, ia pun taubat, ibadah-ibadah wajib serta sunnah ia kerjakan.

Cerita pun terus mengalir, hingga tiba-tiba ia meminta Al Qur’an kepadaku.

“Kamu punya Al Qur’an, nggak? Kalau ada yang pake resleting.” Pintanya.

“Adak kok. Sebentar tak ambilkan.” Langkahku berbalik ke dalam rumah. Mengambil Al qur’an
yang jarang tak baca.

Alhamdulillah akhirnya Al Qur’an yang itu menemukan jodohnya. Yaitu mas Irfan. Selang beberapa saat tamu yang ku tunggu-tunggu pun akhirnya datang. Dan mas irfan pun pamit untuk segera futsal.

“Assalamu’alaikum…” sembari berjalan mengajak kami jabat tangan.

“Wa’alaikumussalam warrohmatullahi wabarrakatuh.”

***
Pelajaran : Kedatangannya pun adalah teguran Allah untukku. untuk lebih meningkatkan keimanan kepadaNYA.

Catatan kaki:
1 Tenane : benarkah?
2 Mendem: Minum-minuman keras

RENUNGAN SENJA

Detik detik terakhir di bulan ramadhan, begitu juga detik detik awal di bulan agustus, serta di detik-detik akhir kepergiannya. dan ini 2 tahun kepergiannya. dan tanggal itu tepat berada pada 1 syawal… sesuatu yang selalu jadi rahasia. karena semua miliknya dan hanya akan kembali padanya…

Saat manusia berpikir bisa hidup selamanya, maka dia akan melupakan kehidupan setelah mati.

Alzahaemer. terkadang aku slalu berpikir kenapa allah tidak menampakkannya padaku. Apakah Allah tidak sayang padaku, sehingga ujianku tidak seberat mereka para hafidz dan hafidzoh itu. Aku sadar dan yakin, jika Allah tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan hambanya.

Semua akan indah pada waktunya. karena takdir masing-masing anak adam sudah tercatat di lawhul mahfudz sebelum manusia dilahirkan, jodoh, rizki, kematian dan semua hal….. maka kembali bertaqwa padaNYA…..

Renungan subuh, 3 Agustus 2013

Jarak Itu Menjaga Aku dan Dia ~by : Aisyah Az Zahra

Semua insan dalam dunia ini pasti pernah merasai perasaan itu. Perasaan yang tidak asing lagi dalam jiwa kita sebagai manusia. Perasaan yang kadangkala hadirnya tanpa kita duga atau kita paksa.

Memang sudah menjadi fitrah kita sebagai manusia untuk merasai perasaan itu. Cuma mungkin bagaimana perasaan itu hadir dalam diri kita berbeza bagi setiap individu.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (syurga).”

[Ali ‘Imran, 3:14]

Dalam diam, perasaan itu hadir di hatiku

Seperti insan lain, aku jua merasai perasaan itu. Perasaan yang bukan baru semalam berputik, tetapi telah hampir 5 tahun aku pendam. Aku sering tertanya-tanya salahkah untuk aku mempunyai perasaan yang bukan aku reka atau cipta, perasaan yang hadirnya tak pernah aku paksa, perasaan yang tak berubah sedikit pun walau banyak dugaan menimpa. Namun dalam aku melangkah menyusuri perasaan itu, aku sering dilanda rasa khuatir. Aku khuatir andainya rasa cinta ini melebihi rasa cintaku pada-Nya. Aku khuatir andai rindu yang aku pendam melebihi rinduku pada-Nya. Diri ku dan dia diikat dengan satu ikatan di dalam hati. Ikatan yang tak perlu aku dan dia lafaz melalui bicara kata.

Cukuplah rasa ini aku pendam dan dia juga memendam rasa yang sama. Jasad aku dan dia beribu batu terpisah. Hati aku dan dia juga beribu batu menjauh. Kini, wajahnya pun mungkin telah menjadi samar-samar di ingatanku. Suaranya seperti ku ingat-ingat lupa di telingaku. Rinduku padanya yang tidak menentu telah menjadi rindu yang ada hala tuju.

Saat aku dan dia menjauh

Pernah satu ketika dulu, aku kecewa dengan keadaan ini. Aku rasa seperti tidak sempurna dengan ketidakhadiran dia disisi. Namun kini, aku mengerti mengapa dia makin menjauh dari aku. Aku hormat keputusannya kerana aku tahu semua ini dia lakukan demi kebaikan aku dan dia.Teringat aku bicaranya tentang kisah kami. Kami dipertemukan dalam keadaan yang aneh sekali. Dalam keadaan saling tidak mengenali, perasaan yang tidak disangka-sangka hadir dalam diri kami. Sehingga kini, aku masih tidak mengerti bagaimana perasaan itu hadir dan bercambah sehingga ke saat ini.

Oleh itu, aku megerti mungkin pertemuan yang aneh ini harus jua dilalui dengan jalan yang aneh. Biarlah ‘JARAK’ ini menjadi penjaga bagi aku dan dia. Biarlah ingatanku tentang dia yang makin samar-samar di dalam hatiku menjadi penguat hubungan aku dengan ya-Rabb. Aku yakin dengan rencana yang telah tertulis untukku. Aku yakin jika tertulis jodoh antara kami, sejauh mana aku dan dia berlari menjauh, kami akan dipertemukan jua di garisan takdir antara kami nanti.

Jarak ini menjaga aku dan dia

Kini aku semakin mengerti, ‘JARAK’ ini bukan untuk menghukumku. Tetapi ‘JARAK’ ini untuk menjaga aku dan dia. Dengan ‘JARAK’ ini aku dan dia berjanji untuk berubah menjadi yang lebih baik. Dengan JARAK ini aku dan dia berjanji untuk memperbaiki cinta kepada Illahi.Dengan jarak ini aku dan dia berjanji untuk mencintai Pencipta kami lebih dari segalanya. Dengan JARAK ini aku dan dia berjanji untuk mendalami Islam hingga ke akar umbi. Dan Dengan JARAK ini jua aku dan dia yakin andai tiba saatnya nanti, aku dan dia akan lebih bersedia untuk melayari semua ini dengan jalan yang diredhai.

Terima kasih Ya Allah kerana memberi peluang kepadaku melalui jalan-Mu ini. Terima kasih kerana memberikan JARAK itu kepada aku dan dia.

“Ketahuilah hanya dengan mengingati Allah, hati akan menjadi tenang”

(Ar-Ra’d 13:28 )

Aku sedar, aku insan yang masih rapuh. Kadangkala hatiku goyah melihat keadaan sekeliling yang menekanku. Jika tidak kerana JARAK ini,mungkin aku akan mencari pelbagai alasan untuk bersama dia. Iman ku akan goyah saat terpandang wajahnya. Hatiku akan bertambah rindu saat mendengar suaranya. Moga hidayah yang diberi ini akan terus membajai hatiku. Aku yakin semua ini rencana Mu Ya Allah. Moga di akhir JARAK ini, Kau memberi kesudahan yang baik untuk aku dan dia